Posted in

Punya Kunci Bukan Berarti Diterima

Lorong gedung apartemen tua di Jenewa

Ada bunyi tiap gue naik ke lantai lima. Tiap naik, tiap turun. Bunyi gejlok, kaya mau jatuh sedikit — cuma sedikit, terus lanjut lagi. Gue udah lama denger bunyi itu, dan gue nggak pernah lapor ke pengelola.

Angka kecil di deket tombol

Suatu hari gue berdiri di dalem, nunggu lantai lima, dan gue lihat pelat kecil di deket tombolnya. Ada angka di situ: 1987.

Mesinnya lebih tua dari gue. Dan dia udah naik turun di gedung ini jauh sebelum gue dateng. Gue mikir, berapa orang yang udah dia anterin. Berapa yang pindah masuk sambil bawa kardus. Berapa yang pindah keluar sambil bawa kardus yang sama.

Gedung tua di Eropa memang banyak, dan biasanya orang berhenti di situ — ya namanya juga gedung tua. Tapi justru itu yang bikin gue kepikiran lebih jauh.

Semua yang gue perluin, kebuka buat gue

Gue punya kunci gedung ini. Pintu depan kebuka. Tombol lantai lima nyala. Kotak pos gue ada namanya. Secara teknis, nggak ada satu pun pintu di gedung ini yang nolak gue.

Tapi tiap pagi gue juga lewat gedung-gedung lain. Yang ada pagarnya. Yang ada pos jaganya. Yang pintunya nggak akan kebuka sama apa pun yang gue punya di kantong.

Dan ini bagian yang aneh: dua-duanya bikin gue ngerasa sama.

Bukan soal ngeluh

Gue nggak lagi ngeluh soal gedung berpagar itu. Itu kantor orang, wajar. Yang bikin gue duduk lama mikirin ini justru gedung gue sendiri.

Di gedung gue, kunci gue jalan tiap hari. Tapi nggak ada yang pernah nyapa gue di dalem. Nggak ada yang tahu gue tinggal di lantai berapa. Kalau gue pindah besok, bunyi gejlok itu tetep ada — buat orang berikutnya, yang juga nggak akan lapor.

Rumah gue, katanya.

Dua hal yang sering ketuker

Ini yang akhirnya kebentuk di kepala gue, dan gue rasa ini berlaku jauh di luar urusan gedung:

Punya akses itu soal pintunya kebuka. Diterima itu soal ada yang nyadar lo masuk.

Kunci cuma bisa ngurusin yang pertama. Dia nggak bisa ngurusin yang kedua, dan dia nggak pernah janji bisa.

Buat orang yang baru pindah ke negara lain, ini gampang ketuker. Lo dapet izin tinggal, dapet nomor asuransi, dapet rekening bank, dapet kunci. Semua kotak kecentang. Dari luar semuanya beres. Lo bahkan bisa bilang ke diri sendiri: gue udah diterima di sini.

Padahal yang lo dapet baru aksesnya.

Yang berubah cuma satu

Tadi pagi gue naik lagi. Bunyinya masih sama, dan gue udah nggak kaget. Gue malah udah hafal di lantai berapa bunyinya paling keras.

Kayaknya itu tanda gue udah lama di sini. Tapi gedung ini tetep nggak kenal gue.

Dan mungkin itu bukan sesuatu yang harus diperbaiki hari ini juga. Cukup tahu bedanya dulu — supaya gue berhenti ngira yang satu otomatis jadi yang satunya lagi.

Ini bagian dari serial Jadi Orang Lain, catatan mingguan soal jadi orang asing di Jenewa. Video lengkapnya ada di atas, atau di kanal Suisse Diaries ID.

Pernah ngerasa punya semua aksesnya tapi tetap kerasa nggak dikenal? Cerita di kolom komentar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *