Posted in

Menjawab Bukan Berarti Mengerti

Pasar Plainpalais di Jenewa

Di pasar, gue bayar pakai uang tunai. Dapet kembalian recehan, banyak. Dan buat gue itu justru bagian yang paling enak — karena di situ gue ngobrol.

Yang gue akui, dan yang baru gue sadar

Bahasa Prancis gue masih belepotan. Itu sudah lama gue akui dan gue nggak malu soal itu.

Tapi ada satu hal yang baru gue sadar belakangan, dan ini yang bikin gue nggak enak: gue jarang nggak jawab. Kalau ditanya, gue selalu mengeluarkan sesuatu.

Kedengerannya bagus. Berani ngomong, katanya. Masalahnya, jawaban gue nggak selalu nyambung.

Mesin nebak yang gue bangun tanpa sadar

Begini cara kerjanya. Orangnya nanya. Gue nangkep dua kata dari tujuh. Terus gue nebak sisanya — dari nada suaranya, dan dari mukanya.

– Kalau nadanya naik di akhir, berarti pertanyaan. Gue bilang oui. – Kalau dia nunjuk barang, berarti soal jumlah. Gue sebut angka.

Dan hebatnya, ini selalu berhasil. Transaksinya kelar. Barangnya masuk kantong. Nggak ada yang salah, dan — ini bagian pentingnya — nggak ada yang kelihatan salah.

Sampai ada yang nanya panjang

Suatu hari ada yang nanya panjang ke gue. Bukan soal harga, bukan soal jumlah. Nadanya ramah, dan dia jelas nunggu jawaban yang bukan angka.

Gue senyum. Gue bilang oui.

Dia ketawa, dan gue ketawa juga. Sampai sekarang gue nggak tau dia nanya apa.

Waktu itu gue bilang ke diri sendiri: ya udah lah, yang penting ramah. Tapi belakangan gue mulai ngitung — gue sudah berapa kali begitu? Berapa kali gue menjawab, dan itu sebenarnya bukan jawaban?

Dua hal yang kelihatan sama dari luar

Menjawab itu soal ada suara yang keluar pada waktunya. Mengerti itu soal tau kenapa

suara itu yang keluar.

Dan orang lain cuma bisa melihat yang pertama.

Ini yang bikin jebakannya rapi sekali. Dari luar, gue kelihatan sudah bisa. Kasirnya puas, antriannya jalan, tidak ada yang merasa ada yang aneh. Bahkan gue sendiri kadang ketipu — karena ukuran keberhasilan yang gue pakai adalah “transaksinya selesai”, bukan “gue paham”.

Buat siapa pun yang lagi belajar bahasa di negara orang, gue rasa ini pola yang umum. Kita cepat sekali belajar terdengar kompeten, jauh sebelum kita benar-benar kompeten. Dan karena yang terdengar itulah yang dihargai orang, tidak ada yang menegur kita untuk berhenti.

Yang gue lakukan kemarin

Kemarin di pasar, gue ditanya lagi. Gue nggak nangkep. Dan kali ini gue nggak nebak.

Gue bilang, maaf, saya belum ngerti — tolong ulangi.

Dia ulangi, lebih lambat. Gue masih nggak nangkep semuanya.

Tapi kali ini gue tau apa yang gue nggak ngerti. Dan ternyata itu terasa jauh lebih maju daripada semua oui yang sebelumnya.

Ini bagian dari serial Jadi Orang Lain, catatan soal jadi orang asing di Jenewa. Video lengkapnya ada di atas, atau di kanal Suisse Diaries ID.

Pernah menjawab sesuatu yang sebenarnya nggak lo ngerti, cuma biar percakapannya jalan? Cerita di kolom komentar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *