Ada rasa yang khas ketika saya masuk ke sesuatu yang sama sekali baru. Tangan terasa kaku, gerakan serba ragu, dan hal yang oleh orang lain dikerjakan sambil mengobrol harus saya kerjakan dengan seluruh perhatian. Semakin lama saya terbiasa bisa di satu bidang, semakin asing rasa itu ketika datang kembali.
Tulisan ini bukan tentang cara belajar. Saya sudah pernah menuliskannya di tempat lain. Ini tentang hal yang datang sebelum itu: bagaimana rasanya menjadi pemula lagi, mengapa rasanya sering tidak enak, dan sikap apa yang pelan-pelan membuat saya betah berada di sana.
Canggung yang sudah lama tidak saya rasakan
Ketika sudah cukup lama mengerjakan sesuatu, saya lupa bahwa dulu saya pernah tidak bisa. Kemampuan itu terasa seperti bagian dari diri saya, bukan sesuatu yang pernah dipelajari dengan susah payah. Saya terbiasa menjadi orang yang ditanya, bukan yang bertanya.
Lalu saya mencoba hal baru, dan semua itu lenyap dalam lima menit. Saya tidak tahu nama benda-benda di depan saya. Saya tidak tahu mana yang penting dan mana yang boleh diabaikan. Saya bahkan tidak tahu cara bertanya yang benar, karena untuk bertanya pun orang perlu sedikit kosakata.
Yang mengejutkan saya bukan sulitnya, melainkan betapa cepat saya ingin pulang ke hal yang sudah saya kuasai. Di sana saya merasa pintar. Di sini saya merasa lamban. Dorongan untuk kembali itu kuat sekali, dan lama saya mengira dorongan itu adalah tanda bahwa hal baru tersebut memang bukan untuk saya.
Sekarang saya tahu bahwa dorongan itu tidak berkata apa-apa tentang cocok atau tidaknya saya dengan hal tersebut. Ia hanya berkata bahwa saya sedang tidak nyaman. Dua hal itu mudah sekali tertukar, terutama pada minggu-minggu pertama.
Yang berat bukan materinya, melainkan gengsinya
Setelah beberapa kali mengalaminya, saya mulai melihat polanya. Hal yang membuat saya ingin berhenti jarang sekali materinya. Materi yang sulit masih bisa dicicil. Yang berat adalah rasa bahwa saya, yang biasanya bisa, sekarang terlihat tidak bisa.

Gengsi itu muncul dalam bentuk yang halus. Saya mengangguk padahal belum paham. Saya menghindari latihan yang akan memperlihatkan kelemahan. Saya memilih bagian yang kebetulan mirip dengan keahlian lama, supaya tetap bisa tampak cakap. Semua itu melindungi perasaan saya, dan semuanya memperlambat saya.
Yang akhirnya menolong adalah mengakui satu hal sederhana: kemampuan saya di tempat lain tidak ikut pindah ke sini, dan itu wajar. Menjadi pemula di satu hal tidak menghapus apa yang sudah saya bisa di hal lain. Saya tidak sedang turun derajat. Saya hanya sedang berdiri di ruangan yang berbeda.
Ada satu hal lagi yang perlu saya lepaskan, yaitu keinginan agar orang di ruangan baru itu tahu siapa saya di ruangan lama. Dulu saya sering menyelipkannya dalam obrolan, seolah-olah itu bisa menebus kecanggungan saya. Tidak pernah berhasil, dan memang tidak perlu. Di ruangan ini saya orang baru, dan orang baru yang mau belajar hampir selalu disambut lebih baik daripada orang baru yang sibuk menjelaskan dirinya.
Izin yang saya berikan kepada diri sendiri
Karena masalahnya ada pada sikap, yang saya ubah juga sikap. Setiap kali memulai sesuatu dari awal, saya memberi diri saya beberapa izin. Kedengarannya sepele, tetapi tanpa izin ini saya cenderung menuntut diri sendiri dengan ukuran orang yang sudah mahir.
- Izin untuk jelek. Hasil pertama saya boleh buruk, bahkan seharusnya begitu. Kalau langsung bagus, mungkin saya tidak sedang mempelajari hal yang benar-benar baru.
- Izin untuk lambat. Hal yang orang lain selesaikan sebentar boleh saya kerjakan lama. Kecepatan datang belakangan, dan tidak bisa dipaksa datang lebih awal.
- Izin untuk tidak tahu. Saya boleh berkata “saya belum mengerti bagian ini” tanpa menambahkan penjelasan panjang supaya tidak terlihat bodoh.
- Izin untuk bertanya hal dasar. Termasuk pertanyaan yang jawabannya mungkin sudah diketahui semua orang di ruangan itu.
- Izin untuk menikmati kemajuan kecil. Bisa melakukan satu hal sederhana hari ini yang kemarin belum bisa adalah alasan yang cukup untuk senang.
Izin-izin itu tidak membuat saya lebih cepat pandai. Yang berubah adalah saya tidak lagi menghabiskan tenaga untuk berpura-pura, sehingga tenaga itu bisa dipakai untuk hal yang sebenarnya.
Hal yang hanya dimiliki pemula
Lama saya memandang masa pemula sebagai masa yang harus dilewati secepat mungkin. Sekarang saya melihat ada beberapa hal baik yang justru hanya ada pada masa itu, dan hilang begitu saya mulai terbiasa.
Yang pertama adalah mata yang masih segar. Pemula memperhatikan hal-hal yang sudah tidak lagi dilihat oleh orang lama. Ia bertanya “mengapa caranya begini?” pada hal yang oleh orang lain sudah dianggap memang begitu adanya. Tidak semua pertanyaan itu berguna, tetapi sebagian justru mengenai tepat di bagian yang selama ini luput.

Yang kedua adalah kemajuan yang terasa. Di bidang yang sudah lama saya tekuni, maju sedikit saja butuh usaha besar dan hampir tidak kelihatan. Sebagai pemula, setiap minggu ada hal yang tadinya mustahil lalu menjadi mungkin. Rasa itu menyenangkan, dan jarang saya dapatkan di tempat lain.
Yang ketiga adalah kebebasan. Tidak ada yang berharap banyak dari seorang pemula, termasuk dirinya sendiri kalau ia mengizinkan. Saya boleh mencoba cara yang aneh dan boleh keliru tanpa ada nama baik yang dipertaruhkan. Begitu orang mulai dianggap bisa, kebebasan itu pelan-pelan menyempit.
Mengetahui bahwa ketiga hal itu akan hilang membuat saya tidak lagi terburu-buru ingin lulus dari masa pemula. Saya berusaha memakainya selagi ada: mencatat pertanyaan-pertanyaan polos sebelum saya lupa mengapa dulu menanyakannya, dan merayakan kemajuan kecil selagi masih terasa besar.
Bertanya tanpa pembukaan panjang
Salah satu tanda gengsi saya masih bekerja adalah cara saya bertanya. Dulu, sebelum sampai ke pertanyaannya, saya merasa perlu memberi pengantar: bahwa saya sebenarnya sudah mencari sendiri, bahwa biasanya saya cepat paham, bahwa ini mungkin pertanyaan konyol. Pengantar itu tidak berguna bagi siapa pun. Ia hanya upaya menjaga citra.
Sekarang saya berlatih bertanya dengan pendek. “Bagian ini maksudnya apa?” “Boleh diulang lebih pelan?” “Saya tidak mengikuti, mulai dari langkah yang tadi.” Awalnya terasa telanjang. Lama-lama terasa ringan, dan jawabannya datang jauh lebih cepat.
Saya juga belajar menerima koreksi tanpa membela diri. Ketika seseorang menunjukkan bahwa cara saya keliru, kalimat pertama yang ingin keluar biasanya penjelasan mengapa saya melakukannya begitu. Sekarang saya berusaha menggantinya dengan dua kata saja: terima kasih. Penjelasannya bisa menunggu, dan sering kali ternyata tidak diperlukan.
Membawa sikap itu pulang
Hal yang tidak saya duga adalah pengaruhnya pada bidang yang sudah saya kuasai. Setelah beberapa lama menjadi pemula di tempat lain, saya kembali ke pekerjaan lama dengan mata yang sedikit berbeda.

Saya menjadi lebih sabar terhadap orang yang baru mulai, karena saya baru saja merasakan sendiri bagaimana rasanya. Saya lebih jarang berkata “itu kan gampang”, sebab saya ingat bahwa tidak ada yang gampang pada hari pertama. Saya juga lebih sering memeriksa kebiasaan lama yang selama ini saya jalankan tanpa berpikir, dan ternyata beberapa di antaranya sudah tidak punya alasan.
Mungkin itulah manfaat terbesarnya. Menjadi pemula secara berkala mengingatkan saya bahwa rasa mahir itu nyaman tetapi juga membuat tumpul. Sedikit rasa canggung, sesekali, menjaga saya tetap mau mendengar.
Penutup
Saya tidak akan berpura-pura bahwa sekarang saya menikmati setiap detik menjadi pemula. Rasa kikuk itu tetap tidak enak, dan dorongan untuk pulang ke hal yang sudah saya bisa masih ada. Bedanya, saya tidak lagi membacanya sebagai tanda untuk berhenti. Saya membacanya sebagai tanda bahwa saya sedang berada di tempat yang belum saya kenal, dan memang itulah tujuan saya datang.
Rasa canggung adalah harga tiket untuk masuk ke ruangan yang belum pernah saya masuki.
Jadi kalau harus memilih satu sikap saja, saya memilih yang ini: datang dengan tangan kosong dan tidak malu memperlihatkannya. Sisanya akan menyusul dengan sendirinya.
Kapan terakhir kali Anda menjadi pemula dalam sesuatu, dan bagaimana rasanya? Saya ingin sekali mendengar cerita Anda di kolom komentar.

Leave a Reply