Tentang gagal, malu, dan mencoba lagi

Tiga lompatan melengkung yang makin jauh, lompatan terakhir sampai ke pijakan berbendera

Setiap kali saya gagal, ada dua hal yang datang hampir bersamaan. Yang pertama adalah kegagalan itu sendiri: sesuatu yang saya usahakan ternyata tidak berhasil. Yang kedua menyusul beberapa detik kemudian dan biasanya tinggal jauh lebih lama, yaitu rasa malu.

Lama sekali saya mengira keduanya satu paket. Belakangan saya sadar bahwa itu dua hal yang berbeda, dan yang paling sering menahan saya untuk mencoba lagi justru bukan gagalnya. Tulisan ini adalah catatan tentang cara saya memisahkan keduanya. Saya belum mahir melakukannya, tetapi sudah cukup sering berlatih untuk bisa bercerita.

Gagal itu kejadian, malu itu cerita

Kegagalan, kalau dilihat apa adanya, sebenarnya sempit. Satu hal tertentu, pada satu waktu tertentu, tidak berjalan seperti yang saya harapkan. Kalimatnya pendek dan bisa ditulis tanpa kata sifat: saya mencoba ini, hasilnya begitu.

Rasa malu bekerja dengan cara lain. Ia mengambil kejadian yang sempit itu lalu melebarkannya menjadi cerita tentang diri saya. Dari “percobaan ini tidak berhasil” menjadi “saya memang tidak mampu”. Dari “kali ini keliru” menjadi “dari dulu saya begini”. Kejadiannya satu, tetapi ceritanya merembet ke mana-mana.

Sejak menyadari itu, saya punya satu kebiasaan kecil. Ketika perasaan tidak enak itu datang, saya bertanya: bagian mana yang benar-benar terjadi, dan bagian mana yang saya tambahkan sendiri? Jawabannya hampir selalu sama. Yang terjadi sedikit. Yang saya tambahkan banyak.

Memisahkan keduanya tidak berarti mengecilkan kegagalannya. Kalau saya memang keliru, saya tetap keliru, dan itu perlu diakui. Bedanya, kekeliruan bisa diperiksa dan diperbaiki, sedangkan cerita tentang “saya memang begini” tidak memberi saya apa pun untuk dikerjakan. Ia hanya membuat saya ingin menutup pintu.

Penonton yang sebagian besar tidak ada

Rasa malu selalu membutuhkan penonton. Dalam kepala saya, setiap kegagalan berlangsung di atas panggung dengan lampu sorot, dan semua kursi terisi oleh orang yang sedang menilai.

Satu figur di bawah lampu sorot di depan deretan kursi yang hampir semuanya kosong
Di kepala saya semua kursi terisi. Kenyataannya, sebagian besar kosong.

Kenyataannya jauh lebih sepi. Kebanyakan orang sedang sibuk dengan panggungnya masing-masing. Mereka mungkin melihat sekilas, lalu kembali memikirkan urusan sendiri. Saya tahu ini karena saya pun begitu terhadap kegagalan orang lain. Saya jarang mengingatnya lebih dari sehari, dan hampir tidak pernah menganggapnya sebagai ukuran siapa mereka.

Ada segelintir orang yang memang memperhatikan, dan biasanya mereka orang yang peduli. Yang mereka ingat pun sering kali bukan gagalnya, melainkan apa yang saya lakukan sesudahnya.

Ini tidak membuat rasa malu hilang. Tetapi mengetahui bahwa penontonnya lebih sedikit dari yang saya bayangkan membuat panggung itu terasa lebih kecil, dan lebih mudah untuk dinaiki lagi.

Yang saya lakukan pada hari-hari pertama

Hari-hari pertama setelah gagal adalah masa yang paling rawan. Dorongan saya ada dua, dan keduanya sama-sama tidak membantu: bersembunyi sampai semua orang lupa, atau buru-buru mencoba lagi hanya untuk membuktikan sesuatu. Sekarang saya berusaha menempuh jalan tengah, dengan beberapa hal kecil berikut.

  • Mengakuinya dengan satu kalimat datar. Tanpa pembelaan, tanpa drama. Cukup “ini tidak berhasil”. Anehnya, begitu diucapkan, bebannya langsung berkurang.
  • Menceritakannya kepada satu orang. Rasa malu tumbuh subur ketika disimpan sendirian. Begitu diceritakan kepada orang yang saya percaya, ukurannya menyusut ke ukuran yang sebenarnya.
  • Menunda kesimpulan besar. Pada hari-hari itu saya tidak boleh memutuskan apa pun tentang “saya ini orang seperti apa”. Kesimpulan yang dibuat saat masih perih hampir selalu terlalu kejam.
  • Menulis apa yang terjadi, bukan apa yang saya rasakan tentang diri saya. Urutannya, keputusan yang saya ambil, hal yang di luar kendali. Catatan itu berguna nanti, saat kepala sudah lebih dingin.
  • Tetap menjalani hal-hal biasa. Makan, tidur, bergerak, menyelesaikan pekerjaan kecil. Hidup tidak perlu ikut berhenti hanya karena satu hal tidak berhasil.

Tidak ada satu pun dari daftar itu yang memperbaiki kegagalannya. Tujuannya memang bukan itu. Tujuannya hanya menjaga agar satu kejadian tidak berubah menjadi alasan untuk berhenti sama sekali.

Jeda di antara gagal dan mencoba lagi

Dulu saya percaya nasihat bahwa setelah jatuh orang harus langsung bangkit. Saya mencobanya, dan sering kali hasilnya adalah percobaan kedua yang terburu-buru dengan kesalahan yang sama persis.

Sekarang saya mengizinkan adanya jeda. Bukan jeda untuk meratap, melainkan jeda supaya perihnya turun dan saya bisa melihat kejadian itu dengan jernih. Di awal, yang terlihat hanya rasa malu. Setelah beberapa waktu, barulah detailnya muncul: bagian mana yang memang keliru, dan bagian mana yang sebenarnya sudah benar.

Dua tebing dengan jembatan papan yang dipasang satu per satu di antaranya
Jeda bukan jurang. Ia jembatan yang dipasang papan demi papan.

Tetapi jeda punya jebakannya sendiri. Kalau terlalu lama, ia berubah menjadi penghindaran yang rapi. Saya akan selalu menemukan alasan mengapa sekarang belum waktunya. Tanda yang saya pakai sederhana: kalau saya sudah bisa menceritakan kegagalan itu tanpa suara berubah, dan saya masih juga belum bergerak, berarti yang menahan saya bukan lagi kebutuhan untuk pulih. Yang menahan saya adalah takut malu untuk kedua kalinya.

Pada titik itu, yang saya butuhkan bukan tambahan waktu, melainkan satu langkah yang cukup kecil untuk tidak menakutkan.

Langkah kecil itu biasanya tidak tampak seperti “mencoba lagi” sama sekali. Membuka kembali berkas yang sudah lama saya hindari. Membaca ulang catatan tentang apa yang terjadi. Mengerjakan satu bagian paling ringan tanpa memberi tahu siapa pun. Tidak ada yang dipertaruhkan di situ, dan justru karena itulah saya sanggup melakukannya. Setelah langkah pertama lewat, langkah kedua hampir selalu lebih mudah.

Mencoba lagi tidak harus sama persis

Ada anggapan bahwa mencoba lagi berarti mengulang hal yang sama dengan tekad yang lebih keras. Menurut pengalaman saya, itu jarang berhasil. Kalau caranya sama, hasilnya cenderung sama, hanya dengan tenaga yang lebih terkuras.

Mencoba lagi, bagi saya, lebih sering berarti kembali dengan sesuatu yang berubah. Kadang ukurannya saya perkecil. Kadang caranya saya ganti. Kadang saya meminta bantuan pada bagian yang dulu saya paksakan sendiri karena gengsi. Kadang yang berubah hanya harapannya: saya tidak lagi menuntut percobaan kedua langsung berhasil, cukup lebih baik sedikit daripada yang pertama.

Jalan lurus yang terhenti di sebuah tembok dan jalan memutar yang lebih kecil menuju bendera
Kembali ke tujuan yang sama tidak berarti harus lewat jalan yang sama.

Dan ada kalanya, setelah dipikir dengan tenang, saya memutuskan untuk tidak mengulanginya sama sekali. Itu juga jawaban yang sah, selama alasannya bukan malu. Berhenti karena sudah menimbang berbeda rasanya dengan berhenti karena tidak berani dilihat gagal lagi. Yang pertama terasa lega. Yang kedua terus mengganjal.

Cara saya membedakannya adalah dengan membayangkan tidak ada seorang pun yang akan tahu hasilnya. Kalau dalam bayangan itu saya masih ingin mencoba, berarti keinginannya masih ada dan yang menghalangi hanya rasa malu. Kalau dalam bayangan itu pun saya sudah tidak tertarik, mungkin memang sudah waktunya meletakkan hal itu dan beralih ke yang lain tanpa rasa bersalah.

Yang masih belum saya kuasai

Supaya jujur, saya perlu mengatakan bahwa semua ini tidak membuat saya kebal. Rasa malu masih datang, secepat dan sekeras dulu. Wajah masih terasa panas, dan saya masih sempat ingin menghilang.

Yang berubah hanya dua hal. Pertama, lamanya. Dulu satu kegagalan bisa membuat saya menjauh berbulan-bulan dari hal yang sebenarnya saya sukai. Sekarang jaraknya lebih pendek. Kedua, saya tidak lagi menganggap rasa malu itu sebagai bukti. Ia hanya tanda bahwa saya peduli pada hasilnya, dan peduli bukanlah hal yang perlu disesali.

Saya juga masih sering salah menakar. Kadang saya kembali terlalu cepat, kadang terlalu lama bersembunyi. Tidak apa-apa. Mencoba lagi ternyata juga sebuah keterampilan, dan seperti keterampilan lain, ia hanya membaik kalau dipakai.

Penutup

Kalau saya menengok ke belakang, hal-hal yang sekarang bisa saya lakukan hampir semuanya pernah saya lakukan dengan buruk di depan orang lain. Tidak ada jalan pintas yang melewati bagian itu. Yang bisa saya pilih hanya seberapa lama saya membiarkan rasa malu memegang kemudi.

Gagal hanya menghentikan satu percobaan; malulah yang, kalau dibiarkan, menghentikan semuanya.

Maka pegangan saya sekarang sederhana: akui kejadiannya, kecilkan ceritanya, beri jeda secukupnya, lalu kembali dengan satu hal yang berbeda. Tidak selalu berhasil, tetapi selalu lebih baik daripada diam.

Bagaimana dengan Anda? Adakah sesuatu yang dulu pernah gagal dan sampai sekarang belum berani Anda coba lagi? Kalau berkenan, ceritakan di kolom komentar. Siapa tahu menuliskannya menjadi langkah kecil yang pertama.

LF

Ditulis oleh

Lukman Fajar

Menulis tentang belajar, bekerja, dan berpikir. Tentang saya โ†’

YouTube ยท Instagram


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *