Kalau saya hitung, waktu saya sebenarnya banyak.
Pulang kerja, masih ada empat jam sebelum tidur. Empat jam itu milik saya. Tidak ada yang meminta.
Yang benar-benar terjadi tiap malam
Masuk rumah, lepas sepatu, lalu duduk dulu. Dan duduknya tidak pernah cuma sebentar.
Lalu masak seadanya — karena memikirkan mau masak apa pun sudah memakan tenaga. Makan sambil melihat layar. Beres-beres. Mandi.
Lalu tiba-tiba sudah jam sebelas. Dan saya tidak bisa menunjuk satu jam pun dan bilang itu jam saya.
Daftar yang tidak pernah tersentuh
Padahal saya punya daftar hal yang mau saya kerjakan di malam hari. Belajar bahasa. Baca buku yang sudah saya beli. Menelepon rumah lebih lama.
Daftarnya tidak panjang. Tiga.
Dan ketiganya sudah ada di daftar itu berbulan-bulan.
Bukan karena saya malas — saya kerja seharian, jadi saya tahu saya tidak malas. Tapi setiap kali mau mulai, ada suara di kepala yang bilang besok saja.
Alat ukurnya yang salah
Lalu saya mengerti kenapa.
Saya mengukur hidup saya pakai jam, padahal yang habis bukan jamnya. **Yang habis tenaganya.**
Punya waktu itu soal ada berapa jam tersisa. Punya tenaga itu soal masih sanggup atau tidak mengisi jam itu. Dan saya selalu punya yang pertama, hampir tidak pernah punya yang kedua.
Selama ini saya menghitung jam, lalu merasa saya tidak becus. Padahal yang saya pakai memang alat ukur yang salah.
Kenapa itu terasa tidak enak
Yang membuat tidak enak bukan capeknya. Capek itu wajar, semua orang capek.
Yang membuat tidak enak: setiap malam saya duduk di depan waktu luang, dan saya tidak bisa memakainya. Seperti diberi uang tapi tokonya sudah tutup.
Dan itu juga terjadi di akhir pekan. Dua hari penuh, milik saya semua, dan saya habiskan untuk pulih. Pulih untuk apa — untuk kerja lagi.
—
Kemarin saya mencoba satu hal kecil. Saya tidak menunggu semuanya beres dulu baru membuka buku. Saya buka bukunya duluan, sebelum masak.
Cuma dapat empat halaman, lalu perut saya berbunyi.
Tapi empat halaman itu terkerjakan.
Malam ini saya coba lagi.