Posted in

Tram Nggak Pernah Nunggu

Papan jadwal digital di halte tram Jenewa

Ada papan kecil di halte yang menunjukkan berapa menit lagi tramnya datang.

Tiga. Dua. Satu.

Dan ketika tertulis satu, satu menit lagi dia benar-benar datang. Bukan kira-kira satu menit. Satu menit.

Saya butuh waktu lama untuk percaya

Di tempat saya dulu, papan seperti itu hanya saran. Angkanya ada, tapi tidak ada yang merasa terikat pada angkanya. Termasuk saya.

Jadi awalnya saya memperlakukan papan di sini dengan cara yang sama — sebagai perkiraan. Itu kesalahan yang cuma perlu terjadi sekali.

Tiga puluh detik

Hal kedua yang saya pelajari lebih mahal: kalau saya terlambat tiga puluh detik, tramnya sudah jalan.

Bukan menunggu di depan mata sambil membuka pintu. Sudah jalan.

Saya pernah berlari. Sampai di halte tepat ketika pintunya menutup. Dan sopirnya tidak melihat saya, karena dia memang tidak sedang mencari saya. Dia sedang mengikuti jadwal.

Dan jadwal itu tidak tahu saya ada.

Lalu saya mulai berangkat lebih awal

Awalnya tiga menit lebih awal. Lalu lima. Lalu sepuluh.

Sekarang saya selalu sampai di halte sebelum papannya menunjukkan apa-apa.

Yang menarik: saya tidak pernah memutuskan untuk berangkat lebih pagi. Saya cuma memundurkan alarm sedikit demi sedikit, setiap kali saya hampir ketinggalan.

Dari luar kelihatannya sama persis

Orang melihat saya berangkat pagi, dan bilang saya disiplin.

Padahal saya tidak sedang mengatur waktu saya. **Saya sedang mengejar waktu yang bukan punya saya.**

Disiplin itu saya yang menentukan jamnya. Dikejar itu jamnya yang menentukan saya. Sampainya sama — yang berbeda rasanya di dalam badan.

Orang yang datang lebih awal karena siap, dan orang yang datang lebih awal karena takut, berdiri di halte yang sama pada jam yang sama.

Yang terbawa pulang

Kebiasaan itu tidak berhenti di halte.

Saya jadi orang yang sampai di mana-mana kecepatan. Sampai di tempat janjian lima belas menit lebih awal, lalu menunggu di luar. Bukan karena saya berniat menghormati orangnya — tapi karena saya tidak sanggup merasakan hampir terlambat lagi.

Saya tepat waktu terus sekarang. Dan saya lelah terus sekarang.

Kemarin saya sampai di halte, dan papan itu menunjukkan enam menit.

Dulu enam menit begitu membuat saya kesal. Kemarin saya malah duduk.

Enam menit itu bukan waktu yang terbuang. Itu satu-satunya enam menit hari itu yang tidak ada seorang pun menunggu saya.

Besok saya berangkat pagi lagi. Tapi mungkin saya duduk lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *