Saya menulis di blog ini, dan saya juga membuat video. Dari luar keduanya tampak seperti pekerjaan yang sama dengan bungkus berbeda: ada gagasan, lalu gagasan itu disampaikan kepada orang lain. Dulu saya pun mengira begitu. Saya pikir video hanyalah tulisan yang dibacakan di depan kamera.
Ternyata tidak. Setelah cukup lama mengerjakan keduanya, saya merasa seperti memakai dua bagian diri yang berlainan. Tulisan ini tidak hendak mengatakan mana yang lebih baik. Saya hanya ingin mencatat apa bedanya bagi saya, dari sisi proses dan dari sisi rasa.
Menulis: berpikir pelan-pelan dalam sunyi
Ketika menulis, saya sendirian dengan sebuah halaman kosong. Tidak ada yang melihat. Saya boleh memulai dari tengah, boleh menulis kalimat yang buruk, boleh berhenti lama di satu kata. Semua kekacauan itu tersembunyi, dan pembaca hanya akan bertemu dengan hasil akhirnya.
Bagi saya, menulis adalah cara berpikir. Sering kali saya baru tahu apa pendapat saya setelah mencoba menuliskannya. Paragraf pertama biasanya hanya pemanasan. Gagasan yang sebenarnya baru muncul di paragraf keempat atau kelima, dan sesudah itu saya kembali ke atas untuk membuang pemanasannya.
Rasanya tenang dan sedikit lambat. Seperti merapikan laci: mengeluarkan semuanya, melihat satu per satu, lalu memasukkan kembali hanya yang perlu.
Ada kesenangan tersendiri di situ. Ketika sebuah kalimat akhirnya menemukan bentuknya, saya merasakan sesuatu yang mirip dengan memasang kepingan terakhir pada tempatnya. Tidak ada yang bertepuk tangan, dan memang tidak perlu. Kepuasannya terjadi di dalam, antara saya dan halaman itu.
Video: berpikir sambil dilihat
Membuat video terasa lain sejak detik pertama. Begitu tombol rekam ditekan, ada sesuatu yang berubah di tubuh saya. Punggung lebih tegak, suara naik sedikit, dan saya tiba-tiba sadar akan tangan saya sendiri.

Di depan kamera, saya tidak bisa diam lama mencari kata. Kalimat harus keluar dengan urutan yang bisa diikuti telinga, saat itu juga. Karena itu, pekerjaan berpikirnya harus selesai lebih dulu. Kalau menulis adalah berpikir sambil mengerjakan, merekam adalah menyampaikan sesuatu yang sudah selesai dipikirkan.
Yang juga berbeda adalah banyaknya hal di luar gagasan itu sendiri. Cahaya, suara, latar di belakang saya, suara kendaraan yang lewat tepat di kalimat terbaik. Ketika menulis, saya hanya butuh tempat duduk. Ketika merekam, saya menjadi penulis, pembicara, dan juru teknis sekaligus, dan ketiganya jarang akur.
Tetapi video juga memberi sesuatu yang tidak saya dapat dari menulis. Ada tenaga yang muncul justru karena saya tahu sedang berbicara kepada seseorang, walaupun orangnya belum ada. Saya jadi lebih lugas, lebih cepat sampai ke intinya, dan kadang menemukan cara menjelaskan yang tidak akan terpikir kalau saya hanya duduk mengetik.
Menyunting kalimat, menyunting diri sendiri
Menyunting tulisan adalah bagian yang saya sukai. Saya membaca ulang, memotong kalimat yang berputar-putar, menukar urutan paragraf, mengganti satu kata dengan kata yang lebih tepat. Naskah bisa dirombak sampai hampir tidak mirip dengan draf awalnya, dan tidak ada yang tahu.
Menyunting video adalah pengalaman yang jauh lebih merendahkan hati. Bahannya adalah diri saya sendiri: wajah, suara, dan semua kebiasaan kecil yang tidak pernah saya sadari. Saya baru tahu betapa sering saya mengucapkan kata pengisi, betapa panjang jeda saya, dan betapa berbeda suara saya dari yang saya dengar di kepala.

Bedanya yang paling terasa ada di sini. Kalimat yang kurang baik bisa saya tulis ulang kapan saja. Rekaman yang kurang baik hanya punya dua pilihan: dipotong, atau direkam lagi dari awal. Saya tidak bisa menyisipkan satu kata di tengah ucapan. Karena itu video memaksa saya menerima hasil yang cukup baik lebih cepat daripada tulisan. Itu latihan yang berguna bagi orang yang cenderung terlalu lama memoles.
Lama-lama saya juga berdamai dengan melihat diri sendiri di layar. Pada awalnya setiap sesi menyunting terasa seperti duduk di depan cermin yang terlalu terang. Sekarang saya memperlakukan orang di layar itu seperti rekan kerja: saya perhatikan mana yang jelas dan mana yang bertele-tele, lalu saya potong tanpa terlalu banyak perasaan.
Yang tidak bisa disembunyikan suara
Tulisan memberi saya jarak. Saya bisa menulis tentang hal yang berat dengan nada yang rapi, karena pembaca tidak melihat saya ketika menulisnya. Tulisan juga bisa membuat saya terdengar lebih yakin daripada yang sebenarnya, dan saya harus berhati-hati dengan itu.
Video tidak memberi jarak semacam itu. Suara membawa hal-hal yang tidak tertulis di naskah: ragu, lelah, antusias, atau sekadar sedang tidak sepenuhnya hadir. Kalau saya membicarakan sesuatu yang belum benar-benar saya pahami, itu terdengar. Kalau saya membicarakan sesuatu yang saya sukai, itu juga terdengar, tanpa perlu saya katakan.
Karena itu saya merasa video lebih jujur dalam satu hal dan tulisan lebih jujur dalam hal lain. Video jujur tentang keadaan saya saat itu. Tulisan jujur tentang pikiran saya setelah diendapkan. Keduanya tidak selalu sama, dan saya kira pembaca maupun penonton berhak mendapat keduanya.
Tanggapan orang pun terasa berbeda. Tanggapan pada tulisan biasanya tentang gagasannya: setuju, tidak setuju, atau menambahkan pengalaman sendiri. Tanggapan pada video lebih sering tentang cara saya menyampaikannya, seolah-olah yang ditanggapi adalah orangnya dulu, baru isinya. Tidak ada yang salah dengan keduanya, tetapi saya perlu waktu untuk terbiasa dengan yang kedua.
Tenaga yang diminta masing-masing
Lama saya heran mengapa satu sesi merekam yang singkat bisa terasa lebih melelahkan daripada menulis sepanjang pagi. Sekarang saya mengerti bahwa keduanya meminta jenis tenaga yang berbeda.
- Menulis meminta ketenangan. Saya butuh waktu tanpa gangguan dan kepala yang tidak terburu-buru. Tubuh hampir tidak dipakai.
- Merekam meminta kehadiran. Saya harus “menyala” selama kamera hidup, dan itu menguras dengan cara yang mirip berbicara di depan banyak orang.
- Menulis bisa dicicil. Sepuluh menit di sela kegiatan lain pun bisa menambah satu paragraf.
- Merekam butuh persiapan. Menata tempat, memeriksa suara, menunggu sekitar cukup sepi. Jarang bisa dikerjakan mendadak.
- Menulis memaafkan hari yang buruk. Draf yang jelek bisa diperbaiki besok. Rekaman pada hari yang buruk biasanya harus diulang.
Mengetahui ini membantu saya mengatur hari. Pada hari ketika saya sedang tenang tetapi tidak banyak tenaga, saya menulis. Pada hari ketika saya sedang bersemangat dan ingin bicara, saya merekam. Memaksakan yang sebaliknya hampir selalu berakhir dengan hasil yang hambar.
Bagaimana saya memilih medium untuk satu gagasan
Tidak semua gagasan cocok untuk keduanya. Lama-lama saya punya semacam patokan kasar untuk memutuskan ke mana sebuah gagasan sebaiknya dibawa.

Kalau gagasannya masih kabur dan saya sendiri belum tahu ujungnya, saya menulis. Tulisan sabar terhadap pikiran yang belum jadi. Kalau gagasannya butuh ketelitian, banyak syarat dan pengecualian, saya juga memilih menulis, karena pembaca bisa berhenti, mengulang, dan membaca dengan kecepatannya sendiri.
Kalau gagasannya lebih mudah ditunjukkan daripada dijelaskan, saya membuat video. Begitu pula kalau nada bicaranya penting, misalnya ketika saya ingin terdengar sedang mengobrol, bukan sedang menguraikan. Ada hal yang di atas kertas terasa kaku, tetapi menjadi hangat ketika diucapkan.
Sering kali urutannya begini: saya menulis dulu untuk mengetahui apa yang saya pikirkan, lalu sebagian dari itu saya bawa ke depan kamera. Jarang sekali sebaliknya.
Ada juga gagasan yang saya coba di kedua tempat, dan hasilnya hampir tidak pernah kembar. Versi tulisannya lebih rapat dan lebih hati-hati. Versi videonya lebih longgar, dengan contoh yang muncul begitu saja saat bicara. Saya tidak menganggap salah satunya salinan dari yang lain. Keduanya seperti dua orang yang menceritakan kejadian yang sama dengan caranya masing-masing.
Penutup
Kalau diringkas, menulis bagi saya adalah berpikir dalam sunyi, dan membuat video adalah hadir di depan orang. Yang satu melatih kejernihan, yang lain melatih keberanian untuk terlihat apa adanya. Saya butuh keduanya, dan masing-masing ternyata memperbaiki yang lain. Menulis membuat ucapan saya lebih teratur. Berbicara di depan kamera membuat tulisan saya lebih mirip cara saya bicara.
Tulisan memperlihatkan pikiran saya setelah dirapikan; video memperlihatkan saya sebelum sempat merapikan diri.
Saya tidak tahu mana yang akan lebih lama saya kerjakan. Untuk saat ini saya senang punya dua pintu, dan boleh memilih salah satunya sesuai keadaan hari itu.
Bagaimana dengan Anda? Lebih nyaman menyampaikan sesuatu lewat tulisan atau lewat bicara? Dan sebagai pembaca atau penonton, mana yang lebih Anda sukai? Ceritakan di kolom komentar.

Leave a Reply