Lima pelajaran terpenting yang saya dapat tahun ini

Lima catatan tempel di sebuah papan, satu berwarna oranye

Setiap kali tahun mendekati ujung, saya punya kebiasaan kecil: duduk sebentar dan bertanya, apa yang sebenarnya saya pelajari selama dua belas bulan terakhir? Bukan apa yang saya capai, bukan apa yang saya selesaikan, tetapi apa yang mengubah cara saya melihat sesuatu.

Daftarnya selalu lebih pendek dari yang saya kira. Banyak hal terasa penting ketika terjadi, lalu memudar dalam beberapa minggu. Yang tersisa biasanya hanya beberapa gagasan sederhana yang terus muncul lagi di situasi yang berbeda-beda. Tahun ini ada lima. Tidak ada yang baru atau istimewa, tetapi kelimanya cukup sering menyelamatkan saya dari kerepotan yang tidak perlu, jadi saya ingin mencatatnya di sini.

1. Sebagian besar kekhawatiran saya tidak pernah terjadi

Saya termasuk orang yang suka menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Sebelum percakapan penting, saya sudah membayangkan semua cara ia bisa berjalan buruk. Sebelum memulai sesuatu, saya sudah menghitung semua hal yang bisa gagal. Rasanya seperti berhati-hati. Padahal sering kali itu hanya membayar mahal untuk sesuatu yang tidak pernah datang.

Tahun ini saya mencoba hal sederhana: setiap kali cemas tentang sesuatu, saya menuliskannya dalam satu kalimat, lalu membacanya lagi beberapa minggu kemudian. Hasilnya cukup memalukan. Hampir semua yang saya tulis tidak terjadi. Sebagian kecil memang terjadi, tetapi bentuknya jauh lebih ringan dari bayangan saya. Dan untuk yang benar-benar terjadi, kekhawatiran di muka ternyata tidak membuat saya lebih siap. Ia hanya membuat saya lelah lebih dulu.

Beberapa awan pucat dan hanya satu awan kecil yang menurunkan hujan
Dari sekian banyak awan yang saya bayangkan, hanya sedikit yang benar-benar menurunkan hujan.

Saya tidak berhenti khawatir sepenuhnya. Tetapi sekarang saya lebih cepat bertanya: apakah ada yang bisa saya lakukan tentang ini hari ini? Kalau ada, saya kerjakan. Kalau tidak ada, saya mencoba meletakkannya dulu. Persiapan yang berguna selalu berupa tindakan, bukan putaran pikiran yang sama.

Ada satu hal lagi yang saya sadari. Kekhawatiran sering menyamar sebagai tanggung jawab. Rasanya kalau saya berhenti memikirkan sesuatu, berarti saya lalai. Padahal memikirkan hal yang sama untuk kesepuluh kalinya tidak menambah apa pun. Tanggung jawab yang sesungguhnya justru terlihat dari satu langkah kecil yang benar-benar diambil.

2. Hubungan tidak merawat dirinya sendiri

Dulu saya mengira hubungan yang baik akan bertahan dengan sendirinya. Kalau memang dekat, pasti tetap dekat. Kenyataannya tidak begitu. Teman yang jarang dihubungi pelan-pelan menjadi sekadar kenalan. Bukan karena ada masalah, tetapi karena tidak ada yang menyiraminya.

Yang saya pelajari tahun ini: merawat hubungan hampir tidak pernah membutuhkan hal besar. Satu pesan singkat yang bilang “tadi saya teringat kamu” sudah cukup. Menanyakan kabar tanpa ada keperluan. Mengingat hal kecil yang pernah diceritakan orang lain, lalu menanyakannya lagi. Hal-hal itu nyaris tidak memakan waktu, tetapi efeknya terasa jauh lebih lama.

Saya juga belajar untuk tidak menunggu giliran. Selama ini saya sering diam-diam menghitung siapa yang terakhir menghubungi siapa. Sekarang saya berhenti menghitung. Kalau saya ingat seseorang, saya yang menyapa lebih dulu. Hampir selalu, orang di seberang sana senang disapa.

Tentu tidak semua hubungan bisa dan perlu dirawat dengan cara yang sama. Waktu dan tenaga saya terbatas. Karena itu saya mulai lebih sadar memilih: siapa saja yang ingin tetap ada dalam hidup saya beberapa tahun lagi? Pertanyaan itu membantu saya menaruh perhatian di tempat yang tepat, bukan sekadar membalas siapa yang paling ramai.

3. Saya tidak perlu punya pendapat tentang semua hal

Setiap hari ada saja hal baru untuk ditanggapi. Topik yang ramai dibicarakan, keputusan orang lain, perdebatan yang sebenarnya tidak menyangkut saya. Dulu saya merasa wajib punya sikap tentang semuanya, seolah diam berarti tidak peduli atau tidak tahu.

Ternyata menyusun pendapat itu memakan tenaga. Saya harus membaca, menimbang, lalu sering kali mempertahankannya, bahkan di dalam kepala sendiri. Tahun ini saya mulai membolehkan diri berkata, setidaknya kepada diri sendiri, “saya belum tahu” atau “saya tidak perlu memutuskan apa-apa tentang ini”.

Deretan gelembung bicara, sebagian besar kosong dan hanya beberapa yang terisi
Tidak semua ruang perlu diisi dengan pendapat saya.

Hasilnya terasa lega. Pikiran saya punya lebih banyak ruang untuk hal-hal yang memang saya pedulikan dan pahami. Ketika akhirnya saya berpendapat tentang sesuatu, pendapat itu lebih matang, karena tidak harus bersaing dengan seratus pendapat setengah jadi lainnya.

Ini bukan berarti saya berhenti peduli. Ada hal-hal yang memang perlu disikapi, dan untuk itu saya tetap berusaha jujur. Yang berubah hanya rasa wajibnya. Saya tidak lagi merasa harus ikut di setiap percakapan, dan saya tidak lagi merasa kalah ketika orang lain lebih cepat bersuara.

4. Minta maaf lebih cepat dan lebih sederhana

Ini pelajaran yang agak memalukan untuk diakui. Ketika saya salah, saya cenderung menunda minta maaf. Kadang karena menunggu momen yang tepat, kadang karena sibuk menyusun penjelasan supaya kesalahannya terdengar lebih masuk akal. Makin lama ditunda, makin berat rasanya untuk diucapkan.

Tahun ini saya belajar bahwa permintaan maaf terbaik biasanya yang paling pendek dan paling cepat. Mengakui apa yang salah, minta maaf, lalu menawarkan apa yang bisa saya perbaiki. Tanpa “tapi”, tanpa pembelaan panjang. Yang mengejutkan, hampir semua orang menerimanya jauh lebih baik dari yang saya bayangkan. Penjelasan panjang justru sering membuat permintaan maaf terdengar seperti pembelaan diri.

Ada tiga hal yang sekarang saya usahakan setiap kali minta maaf:

  • Sebut kesalahannya dengan jelas. Bukan “maaf kalau ada yang tersinggung”, tetapi apa persisnya yang saya lakukan.
  • Jangan diikuti kata “tapi”. Penjelasan boleh menyusul kalau ditanya, bukan untuk menutupi.
  • Tawarkan perbaikan. Kalau ada yang bisa dibereskan, katakan apa yang akan saya lakukan, lalu benar-benar lakukan.

Permintaan maaf yang cepat ternyata juga baik untuk saya sendiri. Kesalahan yang belum diakui terus mengganjal dan muncul di kepala pada saat-saat yang tidak tepat. Begitu diucapkan, ganjalan itu hilang, apa pun tanggapannya. Saya tidak bisa mengatur bagaimana orang lain menerima permintaan maaf saya. Yang bisa saya atur hanya kesungguhan dan kecepatannya.

5. Merawat lebih murah daripada memperbaiki

Pelajaran terakhir ini datang dari hal-hal yang sangat biasa. Barang yang dibersihkan secara rutin jarang rusak mendadak. Pekerjaan yang dirapikan sedikit demi sedikit tidak menumpuk menjadi kekacauan. Rumah yang dibereskan sebentar setiap hari tidak perlu dibereskan seharian penuh di akhir pekan.

Saya dulu cenderung mengabaikan perawatan karena ia tidak terasa mendesak. Tidak ada yang memuji saya karena sesuatu tidak rusak. Perbaikan, sebaliknya, terasa penting dan heroik. Tetapi perbaikan hampir selalu lebih mahal: lebih banyak waktu, lebih banyak tenaga, dan sering kali lebih banyak penyesalan.

Roda gigi dengan kaleng minyak kecil yang meneteskan minyak ke atasnya
Setetes perawatan hari ini menghemat banyak perbaikan di kemudian hari.

Ada satu kebiasaan kecil yang membantu: ketika melihat sesuatu yang mulai longgar, kotor, atau berantakan, saya bertanya apakah membereskannya hanya butuh beberapa menit. Kalau iya, saya kerjakan saat itu juga. Kebanyakan kerusakan besar dimulai dari hal kecil yang dibiarkan dengan alasan nanti saja.

Sekarang saya mencoba menyisihkan sedikit waktu untuk hal-hal yang tidak mendesak tetapi menjaga semuanya tetap berjalan. Memeriksa, membersihkan, merapikan, menyapa. Tidak menarik, tetapi justru dari situlah sebagian besar ketenangan saya tahun ini berasal. Kalau dipikir lagi, pelajaran kedua tentang hubungan sebenarnya juga bagian dari pelajaran ini.

Penutup

Kalau saya lihat lagi, kelima pelajaran ini punya satu benang merah: hampir semuanya tentang melepaskan beban yang saya pikul sendiri tanpa perlu. Kekhawatiran yang dibayar di muka, gengsi menunggu giliran menyapa, kewajiban untuk berpendapat, penjelasan panjang yang menunda permintaan maaf, dan perbaikan besar yang sebenarnya bisa dicegah dengan perawatan kecil.

Tidak satu pun dari pelajaran ini sudah benar-benar saya kuasai. Saya masih sering khawatir berlebihan, masih kadang menunda minta maaf. Bedanya, sekarang saya lebih cepat menyadarinya, dan menurut saya itu sudah lebih dari cukup untuk satu tahun.

Saya menuliskan daftar ini bukan sebagai nasihat untuk siapa pun. Ini lebih seperti catatan untuk diri sendiri, supaya tahun depan saya bisa membacanya lagi dan memeriksa mana yang masih saya pegang dan mana yang sudah terlepas.

Banyak hal menjadi ringan begitu saya berhenti memikulnya lebih awal dari waktunya.

Bagaimana dengan Anda? Apa satu pelajaran terpenting yang Anda dapat tahun ini? Tuliskan di kolom komentar. Saya ingin tahu, dan siapa tahu pelajaran Anda bisa menjadi pelajaran saya juga.

LF

Ditulis oleh

Lukman Fajar

Menulis tentang belajar, bekerja, dan berpikir. Tentang saya โ†’

YouTube ยท Instagram


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *