Blog ini sudah berjalan kira-kira sebulan. Dalam waktu itu sudah ada tiga puluhan tulisan: tentang belajar, tentang bekerja, dan tentang hal-hal kecil yang saya pikirkan sambil lalu. Tetapi ada satu tulisan yang belum pernah saya buat, padahal semestinya ia datang paling awal: kenapa saya memulai semua ini.
Saya sengaja menundanya. Di hari pertama, alasan apa pun terdengar seperti janji, dan janji mudah diucapkan. Setelah sebulan, saya bisa melihat alasan mana yang ternyata sungguhan dan mana yang hanya terdengar bagus. Jadi tulisan ini bukan perkenalan. Ini lebih mirip catatan dari tengah jalan: apa yang membuat saya mulai, dan apa yang membuat saya masih di sini.
Pikiran yang tidak mau diam
Alasan pertama sebenarnya sederhana dan agak egois. Kepala saya sering penuh dengan pikiran setengah jadi. Sebuah gagasan muncul saat berjalan, lalu berputar-putar sepanjang hari tanpa pernah sampai di mana pun. Besoknya ia muncul lagi dalam bentuk yang sedikit berbeda, dan tetap tidak selesai.
Saya sudah mencoba beberapa cara untuk menenangkannya. Membicarakannya dengan orang lain membantu, tetapi percakapan bergerak cepat dan jarang memberi ruang untuk menelusuri satu hal sampai ujung. Mencatat di buku juga membantu, tetapi catatan pribadi terlalu mudah dibiarkan berantakan, karena tidak ada yang akan membacanya selain saya.
Menulis untuk dibaca orang lain ternyata berbeda. Begitu saya membayangkan ada pembaca, saya terpaksa menyusun. Kalimat yang di kepala terasa jelas, ternyata di layar berlubang di sana-sini. Saya harus memutuskan apa yang sebenarnya saya maksud, mana yang perlu datang lebih dulu, dan mana yang sebaiknya dibuang. Prosesnya melelahkan, tetapi setelah itu pikiran tadi berhenti berputar. Ia sudah punya bentuk, dan saya bisa melepaskannya.

Tempat untuk hal-hal yang tidak mendesak
Alasan kedua berkaitan dengan jenis hal yang ingin saya pikirkan. Sebagian besar hari saya diisi urusan yang mendesak: pesan yang perlu dibalas, pekerjaan yang punya tenggat, hal-hal kecil yang menuntut perhatian sekarang juga. Semua itu penting, tetapi jarang ada yang benar-benar saya renungkan.
Sementara itu, pertanyaan yang paling menarik bagi saya justru tidak pernah mendesak. Bagaimana sebenarnya saya belajar? Kenapa sebagian minggu terasa ringan dan sebagian lagi berat? Apa arti cukup? Pertanyaan semacam ini tidak punya tenggat, sehingga selalu kalah oleh urusan lain. Kalau tidak diberi tempat khusus, mereka akan terus menunggu dan tidak pernah dijawab.
Blog ini saya bayangkan sebagai tempat khusus itu. Setiap tulisan adalah janji kecil pada diri sendiri bahwa satu pertanyaan yang tidak mendesak akan mendapat waktu yang layak, setidaknya sekali.
Yang menarik, begitu sebuah pertanyaan diberi tempat, ia berhenti terasa mengganggu. Saya tidak lagi memikirkannya diam-diam di sela pekerjaan, karena saya tahu ada waktu dan ruang yang memang disediakan untuknya. Pertanyaan itu boleh menunggu, tetapi kini ia menunggu dengan tenang, bukan menunggu sambil terus mengetuk-ngetuk dari belakang kepala.
Belajar menyelesaikan sesuatu
Alasan ketiga lebih sulit diakui. Saya punya kebiasaan lama memulai banyak hal dan menyelesaikan sedikit. Folder saya penuh draf yang berhenti di paragraf kedua. Banyak ide terasa luar biasa di malam hari, lalu terasa biasa saja keesokan paginya, dan akhirnya ditinggalkan begitu saja.
Saya ingin punya satu kegiatan yang memaksa saya sampai di ujung. Tulisan blog cocok untuk itu karena ukurannya pas. Tidak terlalu besar sampai menakutkan, tidak terlalu kecil sampai tidak berarti. Ada awal, ada tengah, ada penutup, lalu ada saat ketika saya harus memutuskan bahwa tulisan ini sudah cukup baik untuk dibaca orang lain.
Saat itulah yang paling saya butuhkan. Bukan saat menulis, tetapi saat melepas. Saya cenderung terus memoles sesuatu sampai ia tidak pernah jadi. Blog melatih saya untuk berkata, “ini belum sempurna, tetapi ini sudah selesai.”
Saya juga harus mengakui ada rasa takut di sana. Menerbitkan sesuatu berarti membiarkannya dilihat, lengkap dengan kekurangannya. Tulisan yang hanya tersimpan sebagai draf tidak pernah bisa dinilai buruk. Justru karena itu, draf terasa aman, dan karena terasa aman pula, ia tidak pernah membuat saya bertumbuh.

Yang bukan alasan saya
Supaya jujur, ada beberapa hal yang sering dikira menjadi alasan orang menulis blog, tetapi bukan alasan saya.
- Bukan karena merasa paling tahu. Hampir semua yang saya tulis adalah hal yang masih saya pelajari. Saya menulis dari tengah proses, bukan dari puncaknya.
- Bukan untuk mengejar angka. Senang tentu kalau ada yang membaca, tetapi jumlah pembaca tidak saya jadikan ukuran berhasil atau tidaknya sebuah tulisan.
- Bukan untuk menjual sesuatu. Tidak ada produk di balik tulisan-tulisan ini. Yang ada hanya catatan.
- Bukan untuk terlihat produktif. Menulis tentang produktivitas tidak membuat saya otomatis produktif. Kadang malah sebaliknya.
Menuliskan daftar ini membantu saya sendiri. Kalau suatu hari saya tergoda menulis sesuatu hanya karena sedang ramai dibicarakan, saya bisa kembali ke sini dan bertanya apakah itu masih sejalan.
Setelah tiga puluhan tulisan
Sebulan memang bukan waktu yang lama, tetapi cukup untuk melihat beberapa hal yang tidak saya duga.
Pertama, alasan-alasan di atas ternyata bertahan, tetapi urutannya berubah. Di awal, saya kira alasan terpenting adalah merapikan pikiran. Sekarang saya merasa yang paling berharga justru latihan menyelesaikan. Setiap tulisan yang terbit adalah bukti kecil bahwa saya bisa sampai di ujung, dan bukti-bukti kecil itu mulai menumpuk menjadi rasa percaya diri yang sebelumnya tidak ada.
Kedua, menulis ternyata lebih banyak tentang mendengarkan daripada berbicara. Sering kali saya mulai menulis dengan pendapat yang sudah jadi, lalu di tengah jalan menyadari bahwa pendapat itu tidak sepenuhnya benar. Beberapa tulisan berakhir di tempat yang berbeda dari rencana awalnya. Saya mulai menyukai momen itu.

Ketiga, tidak semua tulisan terasa sama. Ada yang mengalir dalam sekali duduk, ada yang harus ditinggal dan didatangi lagi berkali-kali. Saya belum menemukan polanya. Mungkin memang tidak ada pola, dan itu tidak apa-apa.
Keempat, menulis rutin membuat saya lebih memperhatikan hari-hari biasa. Percakapan singkat, kebiasaan kecil, atau satu pekerjaan yang terasa lebih ringan dari biasanya, kini sering saya lihat sebagai bahan tulisan. Bukan karena semuanya istimewa, tetapi karena saya mulai sadar bahwa hal biasa pun menyimpan pertanyaan, asal mau diperhatikan sedikit lebih lama.
Kenapa saya masih ingin melanjutkan
Pertanyaan yang lebih penting sekarang bukan lagi kenapa saya mulai, tetapi kenapa saya ingin melanjutkan. Jawabannya ternyata lebih tenang daripada yang saya kira.
Saya melanjutkan karena menulis sudah menjadi cara saya berpikir. Ketika ada sesuatu yang mengganjal, refleks pertama saya kini adalah bertanya, “kalau ini ditulis, akan seperti apa?” Pertanyaan itu saja sudah membantu, bahkan sebelum satu kalimat pun saya tulis.
Saya juga melanjutkan karena ada yang membaca. Saya tidak tahu siapa saja, dan memang tidak perlu tahu. Tetapi kesadaran bahwa ada orang lain di ujung sana membuat saya lebih berhati-hati, lebih jujur, dan lebih sabar menyusun kalimat.
Saya tidak tahu blog ini akan bertahan berapa lama, dan saya tidak ingin membuat janji besar tentang itu. Yang bisa saya janjikan hanya tulisan berikutnya. Setelah itu, tulisan berikutnya lagi. Cara berpikir sekecil ini ternyata lebih mudah dijalani daripada rencana besar yang terdengar meyakinkan tetapi terasa berat setiap kali dibayangkan.
Penutup
Jadi, kenapa saya mulai menulis blog ini? Untuk merapikan pikiran, untuk memberi tempat bagi pertanyaan yang tidak mendesak, dan untuk belajar menyelesaikan sesuatu. Setelah sebulan, ketiga alasan itu masih ada. Hanya saja kini terasa lebih nyata dan tidak lagi muluk.
Saya tidak menulis karena sudah tahu jawabannya; saya menulis supaya bisa menemukannya.
Blog ini akan terus berubah, sama seperti saya. Mungkin suatu hari alasannya bergeser lagi. Kalau itu terjadi, saya akan menuliskannya juga.
Kalau Anda pernah memulai sesuatu, entah menulis, menggambar, atau kebiasaan lain, apa yang membuat Anda bertahan? Apakah alasannya masih sama dengan alasan ketika Anda memulai? Ceritakan di kolom komentar. Saya ingin membacanya.

Leave a Reply