Posted in

Gue Kira Semua Orang Punya Rencana

Pemandangan jalanan Jenewa dari balik jendela tram

Saya punya kebiasaan yang baru saya sadari jeleknya belakangan.

Tiap pagi saya naik tram nomor lima belas, dan saya selalu memilih tempat dekat jendela. Sepanjang jalan saya menebak orang.

Yang membawa map itu mau rapat. Yang jalannya lurus itu sudah hafal belokannya. Yang berdiri di lampu merah itu tahu mau ke mana.

Saya menebak dari punggung

Dan itu masalahnya. Saya tidak pernah menebak ada yang sedang bingung.

Saya menebak dari punggung. Dan punggung tidak pernah kelihatan ragu.

Kenapa tebakan itu gampang dipercaya

Di sini tebakan seperti itu gampang sekali dipercaya. Trotoarnya rapi. Jadwalnya rapi. Orang menyeberang pas lampunya hijau, bukan pas jalanannya kosong.

Semuanya kelihatan sudah diatur oleh seseorang.

Yang diatur itu jalanannya. Bukan hidup orangnya. Dan dua hal itu yang saya campur aduk selama ini: saya melihat tempatnya rapi, lalu saya menebak orangnya punya rencana.

Rapi dan rencana itu dua hal yang berbeda

Rapi itu bisa dilihat dari luar. Rencana tidak bisa — dia ada di dalam kepala.

Yang satu bicara soal kelihatannya, yang satu bicara soal isinya. Dan dari jendela tram, saya cuma dapat kelihatannya.

Dari luar, saya kelihatan sama

Lalu saya terpikir satu hal yang membuat tidak enak.

Di tram itu saya juga duduk diam. Saya juga turun di halte yang sama tiap hari. Kalau ada yang menebak saya dari jendela sebelah, dia akan bilang saya tahu mau ke mana.

Saya memang tahu haltenya. Bukan tahu sampai kapan.

Punggung saya juga tidak kelihatan ragu. Padahal isinya penuh.

Yang sebenarnya saya bandingkan

Di situ saya mengerti saya sedang membandingkan apa.

Saya membandingkan dalam saya dengan luar orang lain.

Dalam saya isinya ragu, karena cuma saya yang bisa melihatnya. Luar orang isinya gerak, karena cuma itu yang bisa saya lihat.

Yang saya ubah cuma satu: saya berhenti percaya pada tebakan saya sendiri.

Harganya

Karena tebakan itu ada harganya. Tiap saya menebak orang punya rencana, saya jadi merasa paling belakangan. Padahal yang saya lihat cuma orang yang sedang berjalan.

Bukan mereka yang membuat saya kecil. Tebakan saya yang membuat saya kecil.

Pagi tadi saya duduk di jendela yang sama. Ada orang menyeberang sambil menenteng tas, jalannya cepat.

Dulu saya akan langsung menebak dia mau ke mana. Tadi saya cuma melihat. Lalu tramnya jalan lagi.

Dan itu sudah cukup untuk satu pagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *