Senin siang, teman saya bilang mau pergi sendiri dulu. Saya bilang oke.
Dan itu jadi dua jam paling jujur dari seluruh perjalanan ke Barcelona.
Satu piring, satu gelas, satu kursi kosong
Jam satu kurang, saya duduk di kafe yang dindingnya merah muda, tidak jauh dari Katedral Barcelona. Di depan saya ada satu piring, satu gelas, dan satu kursi kosong.
Kami tidak sedang bertengkar. Kami cuma dua orang dewasa yang sadar, liburan berdua itu sebenarnya dua liburan yang kebetulan naik pesawat yang sama.
Justru karena tidak ada apa-apa, saya jadi kepikiran. Dua puluh tahun saya percaya jalan bareng itu harus menempel dari pagi sampai malam. Baru di Barcelona saya tahu, menempel itu bukan ukuran dekat.
Gang selebar dua orang
Jam dua lewat lima, saya masuk gang di belakang Via Laietana. Lebarnya kira-kira cukup untuk dua orang. Temboknya lima lantai, jadi matahari cuma lewat di tengah, satu garis, seperti pintu yang dibuka sedikit.
Di sini tidak ada yang menoleh. Turis lain juga jalan sendiri. Kakek di bangku juga sendiri. Motor yang parkir juga sendiri. Sendiri di gang ini cuma soal jumlah, bukan sesuatu yang perlu disimpulkan orang lain.
“Kok sendirian?”
Ada satu pertanyaan yang ikut masuk gang bersama saya. Kok sendirian? Di Indonesia, jalan sendiri itu sering jadi pertanyaan: pasti ada yang salah, ada yang tidak diajak, ada yang kurang.
Saya membawa pertanyaan itu sampai umur segini, sampai ke sebuah gang di Barcelona. Dan di gang itu, untuk pertama kali, saya jawab sendiri: iya, sendirian. Tidak ada yang salah.
Tembok dua ribu tahun di sebelah coretan semalam
Saya sengaja tidak punya tujuan. Kalau jalan sendiri sambil mengejar tujuan, itu bukan jalan-jalan, itu kerja.
Jadi saya belok setiap kali gangnya kelihatan lebih gelap. Ketemu pintu kayu besar berukir, tingginya tiga kali saya. Ketemu tembok penuh graffiti. Di sebelahnya berdiri tembok batu Romawi dari zaman Barcino, kota yang dibangun orang Romawi sekitar tahun 15 Sebelum Masehi.
Di situ saya merasa kecil. Bukan kecil yang sedih, tapi kecil yang lega. Kalau tembok ini sudah dua ribu tahun tidak peduli siapa yang lewat, kenapa saya harus peduli siapa yang melihat saya lewat.
Selfie tanpa senyum
Bagian ini agak memalukan: saya banyak selfie. Bukan untuk pamer, tapi sebagai bukti untuk diri sendiri bahwa saya pernah ada di gang itu, jam dua siang, dan baik-baik saja.
Kalau diperhatikan, wajah saya di video tidak tersenyum. Itu bukan wajah sedih. Itu wajah orang yang sedang tidak menjaga wajah. Di kantor tidak pernah, di tram tidak pernah, di depan kamera pun jarang.
Yang dipilih dan yang dikasih
Di Jenewa saya juga sering jalan sendiri, tapi itu jarang saya putuskan sendiri. Di Barcelona saya yang bilang, “oke, pisah dulu.”
Rasanya beda. Sama-sama tidak ada orang di sebelah, tapi yang satu terasa kosong dan yang satu terasa luas. Bedanya siapa yang pegang remote. Kalau kita yang mematikan lampu, gelapnya tidak menakutkan.
Itu yang saya bawa pulang. Saya tidak bisa mengganti kotanya, tapi saya bisa mengganti siapa yang memutuskan.
Ketemu lagi di Plaça Catalunya
Jam setengah empat saya ke Plaça Catalunya. Teman saya sudah duduk di sana. Dia tanya, “ke mana aja?” Saya jawab, “muter.”
Itu jawaban yang jujur. Di bus ke bandara kami duduk bersebelahan dan tidak banyak bicara, dan itu tidak apa-apa. Dekat itu boleh pergi sendiri, lalu tetap pulang bareng.
Kalau kamu sedang jalan-jalan, kamu tim yang ingin pisah dulu atau tim yang ingin terus bersama rombongan? Ceritakan di kolom komentar.