Kata “cukup” terdengar sederhana, tetapi bertahun-tahun saya tidak benar-benar tahu cara memakainya. Bagi saya dulu, cukup adalah kata untuk orang yang berhenti berusaha. Kalau masih bisa lebih, kenapa berhenti di cukup?
Pandangan itu berubah pelan-pelan, bukan karena satu kejadian, melainkan karena lelah yang menumpuk. Saya memperhatikan bahwa setiap kali sampai pada sesuatu yang saya kejar, rasa lega hanya singgah sebentar, lalu muncul sasaran berikutnya. Tulisan ini adalah usaha saya merumuskan apa arti cukup bagi saya sekarang. Saya tidak sedang membicarakan uang atau cara mengaturnya. Saya membicarakan sesuatu yang lebih sehari-hari: kapan saya boleh berkata “sudah”.
Garis yang terus bergeser
Dulu saya membayangkan cukup sebagai sebuah titik di depan. Setelah pekerjaan ini selesai, setelah kemampuan ini dikuasai, setelah keadaan sedikit lebih longgar, barulah saya akan merasa cukup. Titik itu terasa nyata, dan saya berjalan ke arahnya dengan sungguh-sungguh.
Yang terjadi selalu sama. Begitu saya mendekat, titiknya mundur. Hal yang kemarin terasa seperti tujuan, hari ini terasa seperti hal biasa, dan tujuan baru sudah berdiri sedikit lebih jauh. Saya tidak pernah benar-benar tiba, karena tempat tibanya ikut bergerak bersama saya.

Dari situ saya menyimpulkan satu hal: cukup tidak bisa ditemukan dengan cara mengejarnya. Kalau ia hanya sebuah jumlah, selalu ada jumlah yang lebih besar. Cukup, bagi saya, akhirnya lebih mirip keputusan daripada pencapaian. Saya yang harus menaruh garisnya, lalu berani berdiri di sana.
Cukup dalam pekerjaan: kapan sesuatu boleh selesai
Tempat pertama saya berlatih adalah pekerjaan. Saya punya kebiasaan memoles sesuatu jauh melewati titik ketika polesan itu masih terlihat. Mengganti satu kata, menggeser satu bagian, memeriksa ulang yang sudah diperiksa. Rasanya seperti ketelitian. Sering kali sebenarnya itu rasa takut, yaitu takut pekerjaan itu dinilai sebelum sempurna.
Sekarang, sebelum memulai, saya mencoba menjawab satu pertanyaan: seperti apa bentuk “selesai” untuk pekerjaan ini? Saya menuliskannya dalam satu atau dua kalimat. Ketika bentuk itu tercapai, saya berhenti, walaupun tangan masih gatal ingin menambah.
Hasilnya tidak menjadi lebih buruk. Yang berkurang hanya jam-jam terakhir yang dulu saya habiskan untuk perbaikan yang tidak dilihat siapa pun, termasuk saya sendiri seminggu kemudian. Jam-jam itu sekarang kembali kepada saya.
Ini tidak berarti saya bekerja asal jadi. Ada pekerjaan yang memang pantas diberi perhatian lebih, dan untuk yang seperti itu garis selesainya saya taruh lebih tinggi sejak awal. Bedanya, garis itu ditentukan sebelum saya mulai, ketika kepala masih jernih, bukan di tengah jalan ketika rasa cemas sudah ikut menentukan.
Cukup dalam barang dan pilihan
Saya dulu mengira lebih banyak pilihan berarti lebih leluasa. Lebih banyak alat, lebih banyak cadangan, lebih banyak kemungkinan yang dibiarkan terbuka. Kenyataannya, setiap benda yang saya simpan meminta sedikit perhatian: tempat untuk menaruhnya, waktu untuk merawatnya, dan keputusan kecil setiap kali harus memilih di antaranya.
Cukup, di sini, bagi saya berarti memiliki sejumlah hal yang benar-benar saya pakai dan saya kenal baik. Bukan sesedikit mungkin. Saya tidak sedang berlomba mengosongkan rumah. Ukurannya bukan jumlah, tetapi apakah saya masih bisa memperhatikan semuanya. Begitu ada yang hanya tersimpan dan terlupa, itu tanda bagi saya bahwa garisnya sudah terlewati.
Hal yang sama berlaku untuk rencana. Ada masa ketika saya menyimpan terlalu banyak “suatu hari nanti”, dan semuanya terasa seperti janji kecil yang belum ditepati. Melepas sebagian dari rencana itu tidak membuat hidup saya menyempit. Ia justru membuat rencana yang tersisa terasa mungkin.
Yang paling sulit saya lepaskan ternyata bukan benda, melainkan kemungkinan. Menyimpan sesuatu “siapa tahu nanti perlu” terasa bijak, padahal sering kali saya hanya enggan mengakui bahwa saya tidak akan menjadi orang yang memakai semua itu. Mengakuinya sedikit tidak enak pada awalnya. Setelah itu, rasanya ringan.

Cukup tidak sama dengan berhenti ingin
Keberatan lama saya masih sering muncul: kalau merasa cukup, bukankah saya akan berhenti bertumbuh? Saya rasa kekhawatiran itu mencampur dua hal yang berbeda.
Yang satu adalah ingin karena kurang. Saya mengejar sesuatu karena tanpa itu saya merasa belum layak, belum aman, belum bisa tenang. Yang lain adalah ingin karena tertarik. Saya mengerjakan sesuatu karena penasaran, karena senang, karena hal itu menurut saya pantas dikerjakan. Dari luar keduanya tampak sama, sama-sama sibuk dan sama-sama berusaha. Dari dalam rasanya jauh berbeda.
Merasa cukup, bagi saya, menghentikan yang pertama dan justru memberi ruang bagi yang kedua. Saya masih ingin belajar, masih ingin membuat sesuatu yang lebih baik. Tetapi saya tidak lagi menggantungkan ketenangan pada hasilnya. Kalau berhasil, saya senang. Kalau belum, saya tetap utuh.
Anehnya, saya justru bekerja lebih lama dan lebih betah dengan cara ini. Ingin yang berasal dari rasa kurang cepat melelahkan, karena setiap hasil langsung terasa belum memadai. Ingin yang berasal dari rasa tertarik bisa berjalan jauh, karena ia tidak menuntut saya tiba di mana pun untuk merasa baik.
Tanda-tanda yang saya pakai untuk mengenali cukup
Karena cukup tidak punya angka, saya membutuhkan tanda lain. Beberapa yang paling sering saya pakai:
- Tambahan berikutnya tidak lagi terasa. Satu jam kerja lagi, satu barang lagi, satu kabar lagi, dan saya tidak merasa lebih baik daripada sebelumnya.
- Saya mulai kehilangan sesuatu yang lain. Tidur, waktu bersama orang terdekat, atau sekadar waktu kosong mulai terpotong untuk membayar tambahan itu.
- Alasannya berubah menjadi perbandingan. Saya menginginkannya bukan karena perlu, tetapi karena melihat orang lain punya.
- Saya tidak bisa menyebut untuk apa. Kalau ditanya “lalu setelah itu apa?”, saya tidak punya jawaban selain “supaya lebih”.
Tidak satu pun dari tanda ini bersifat pasti. Kadang saya memang perlu mendorong sedikit lebih jauh, dan itu sah. Tetapi kalau dua atau tiga tanda muncul bersamaan, saya belajar untuk berhenti dan bertanya ulang, alih-alih terus berjalan karena terbiasa.

Cukup untuk hari ini
Bentuk cukup yang paling sering saya pakai ternyata yang paling kecil, yaitu cukup untuk satu hari. Di penghujung hari selalu ada yang belum selesai. Selalu. Dulu itu membuat saya menutup hari dengan perasaan bersalah.
Sekarang saya mencoba menutupnya dengan pertanyaan yang berbeda: dengan tenaga dan waktu yang saya punya hari ini, apakah saya sudah mengerjakannya dengan wajar? Kalau jawabannya ya, hari itu cukup, walaupun daftarnya belum habis. Daftar memang tidak dirancang untuk habis. Yang perlu saya jaga adalah diri saya, supaya besok masih mau kembali.
Ada hari ketika jawabannya tidak, dan saya tahu saya sebenarnya bisa berbuat lebih. Itu pun tidak masalah. Cukup bukan alasan untuk memaafkan semua hal. Ia hanya ukuran yang jujur, yang kadang berkata “sudah” dan kadang berkata “belum”.
Kebiasaan kecil ini mengubah cara saya tidur lebih daripada perubahan besar apa pun yang pernah saya coba. Saya tidak lagi membawa seluruh daftar ke tempat tidur. Saya hanya membawa satu jawaban, dan apa pun jawabannya, hari itu saya anggap sudah ditutup.
Penutup
Kalau harus saya rumuskan, cukup menurut saya adalah keadaan ketika saya bisa berhenti menambah tanpa merasa kehilangan. Ia bukan batas yang dipasang orang lain, dan bukan pula tanda saya menyerah. Ia garis yang saya tarik sendiri, lalu saya periksa ulang dari waktu ke waktu, karena hidup berubah dan garisnya boleh ikut berubah.
Cukup bukan tempat yang akhirnya saya capai, melainkan garis yang akhirnya berani saya tarik sendiri.
Saya belum selalu berhasil. Masih ada hari ketika saya menambah hanya karena bisa, dan baru sadar setelahnya. Tetapi sekarang setidaknya saya punya kata untuk dipegang, dan pertanyaan untuk diajukan sebelum melangkah lagi.
Bagaimana dengan Anda? Dalam hal apa Anda paling sulit berkata “sudah cukup”, dan apa yang membantu Anda mengenalinya? Saya senang membaca cerita Anda di kolom komentar.

Leave a Reply