Ada satu kalimat yang cukup sering saya ucapkan dalam hati, biasanya ketika melihat orang lain melakukan sesuatu yang diam-diam ingin saya coba: “Seandainya saya mulai dari dulu.” Kalimat itu terdengar seperti penyesalan, tetapi sebenarnya ia bekerja sebagai alasan. Karena tidak mulai dari dulu, saya merasa tidak perlu mulai sekarang.
Tulisan ini tentang perasaan terlambat itu, dan tentang bagaimana saya pelan-pelan belajar untuk tidak terlalu memercayainya. Saya tidak akan berkata bahwa usia tidak berpengaruh sama sekali, karena itu tidak jujur. Yang ingin saya katakan lebih sederhana: pengaruhnya sering kali berbeda dari yang saya bayangkan.
Jadwal tak tertulis yang saya bawa ke mana-mana
Kalau saya telusuri, rasa terlambat hampir selalu berasal dari sebuah jadwal yang tidak pernah saya tulis sendiri. Di dalamnya ada urutan: kapan seharusnya mulai belajar ini, kapan seharusnya sudah mahir itu, kapan seharusnya sudah mapan. Tidak ada yang pernah menyerahkan jadwal itu kepada saya secara resmi. Saya memungutnya sedikit demi sedikit dari sekeliling, lalu memperlakukannya seperti aturan.
Masalahnya, jadwal itu hanya mencatat satu jenis perjalanan, yaitu yang lurus dan dimulai sedini mungkin. Siapa pun yang berbelok, berhenti sebentar, atau baru tertarik pada sesuatu belakangan otomatis tampak tertinggal. Padahal tertinggal dari apa? Tidak ada perlombaan yang saya daftarkan. Yang ada hanya keinginan untuk mencoba sesuatu, dan suara yang berkata bahwa waktunya sudah lewat.
Jadwal itu juga punya satu sifat yang licik: ia hanya memperlihatkan orang-orang yang tepat waktu. Mereka yang memulai belakangan, lalu menjalaninya dengan tenang tanpa banyak bersuara, jarang terlihat. Jadi kesan bahwa semua orang sudah mulai sejak dulu sebagian besar adalah soal siapa yang tampak, bukan soal siapa yang ada.

Waktu tetap berjalan, saya mulai atau tidak
Ada satu perhitungan sederhana yang banyak menolong saya. Ketika ingin memulai sesuatu yang butuh waktu lama untuk dikuasai, pikiran pertama saya biasanya: “Butuh bertahun-tahun, nanti saya sudah setua apa?” Lalu saya menyadari bahwa tahun-tahun itu akan lewat juga. Saya akan tetap sampai pada usia itu, dengan atau tanpa kemampuan baru tersebut.
Jadi pilihan yang sebenarnya bukan antara “mulai sekarang” dan “mulai sejak muda”. Pilihan kedua sudah tidak tersedia. Pilihannya adalah antara sampai di masa depan dengan sesuatu di tangan, atau sampai di sana dengan kalimat “seandainya” yang sama, hanya lebih tua beberapa tahun.
Cara pandang ini tidak membuat memulai menjadi mudah. Tetapi ia memindahkan pertanyaannya. Dari “apakah saya terlambat?”, yang tidak punya jawaban berguna, menjadi “apakah saya menginginkan ini cukup kuat untuk memberinya waktu?”, yang bisa saya jawab.
Yang berubah bukan kemampuan, tetapi syaratnya
Saya tidak mau berpura-pura bahwa memulai belakangan sama saja dengan memulai lebih awal. Ada yang memang berubah. Waktu luang lebih sedikit dan terpotong-potong. Tanggung jawab lebih banyak. Tenaga tidak selalu tersisa di penghujung hari. Dan rasa canggung ketika tidak bisa terasa lebih menyengat, karena di bidang lain saya sudah terbiasa dianggap bisa.
Tetapi ada juga hal yang justru bertambah, dan ini jarang saya hitung:
- Saya lebih mengenal diri sendiri. Saya tahu kapan saya paling segar, apa yang cepat membuat saya bosan, dan bagaimana biasanya saya berhenti.
- Saya tahu kenapa saya menginginkannya. Dulu saya sering memulai sesuatu karena ikut-ikutan. Sekarang, kalau saya masih menginginkan sesuatu setelah sekian lama, keinginan itu biasanya sungguhan.
- Saya punya bekal dari tempat lain. Kebiasaan berlatih, cara bertanya, kesabaran menghadapi hal yang membosankan. Semua itu ikut terbawa walaupun bidangnya baru.
- Saya tidak perlu membuktikan apa-apa. Tidak ada yang menunggu saya menjadi hebat, dan itu ternyata melegakan.
Jadi saya berhenti bertanya apakah saya masih bisa, dan mulai bertanya: dengan syarat hidup saya yang sekarang, seperti apa bentuk memulai yang masuk akal? Jawabannya sering kali lebih kecil dan lebih lambat daripada yang saya bayangkan dulu. Itu tidak apa-apa. Lambat tetap bergerak.
Pernah suatu kali saya ingin mempelajari sesuatu dan langsung merancang jadwal latihan yang padat, seolah-olah saya punya sore yang kosong setiap hari. Rencana itu bubar dalam beberapa hari, dan saya hampir menyimpulkan bahwa saya memang sudah terlambat. Padahal yang keliru bukan waktunya, melainkan ukurannya. Ketika saya mengulang dengan porsi yang jauh lebih kecil, yang muat di sela-sela hari saya yang sebenarnya, barulah ia bertahan.

Memulai tidak harus menjadi apa-apa
Salah satu hal yang lama menahan saya adalah anggapan bahwa memulai sesuatu baru sepadan kalau suatu hari saya bisa menjadi sangat baik di dalamnya. Kalau tidak akan sampai ke puncak, untuk apa mendaki?
Anggapan itu, kalau diperiksa, aneh. Saya tidak menerapkannya pada hal lain yang saya nikmati. Saya berjalan kaki tanpa berniat menjadi pelari. Saya memasak tanpa bercita-cita membuka rumah makan. Tetapi begitu menyangkut sesuatu yang baru, tiba-tiba saya menuntut ada hasil yang bisa dipamerkan.
Sekarang saya mengizinkan diri memulai sesuatu hanya karena ingin tahu rasanya. Ada hal yang saya pelajari dan tidak akan pernah saya kuasai, dan saya tetap senang telah mencobanya. Kemampuan yang setengah jadi pun mengubah cara saya memandang. Saya jadi lebih menghargai orang yang mahir, karena sekarang saya tahu sedikit tentang betapa sulitnya.
Ada kelegaan tersendiri dalam mengerjakan sesuatu yang tidak perlu menghasilkan apa-apa. Sebagian besar hari saya sudah diisi oleh hal yang harus berguna. Sesuatu yang saya mulai hanya karena ingin, tanpa kewajiban menjadi mahir, justru sering menjadi bagian hari yang paling saya tunggu.
Pertanyaan yang saya pakai sebelum mulai
Ketika rasa terlambat datang lagi, dan ia selalu datang lagi, saya tidak berusaha melawannya dengan semangat. Saya menjawabnya dengan beberapa pertanyaan yang lebih tenang:
- Kalau tidak ada seorang pun yang tahu saya memulai ini, apakah saya masih mau melakukannya?
- Bentuk paling kecil apa yang bisa saya coba minggu ini, tanpa mengubah seluruh jadwal?
- Apa yang harus saya kurangi supaya ada ruang untuknya? Sesuatu yang baru hampir selalu butuh tempat, dan tempat itu jarang kosong dengan sendirinya.
- Setelah mencoba beberapa kali, apakah saya ingin kembali lagi? Kalau ya, itu sudah cukup sebagai alasan untuk lanjut.
Pertanyaan pertama menyaring keinginan yang sebenarnya hanya ingin terlihat. Pertanyaan kedua dan ketiga membuatnya mungkin dilakukan. Pertanyaan terakhir saya pakai sebagai pengganti target. Saya tidak menanyakan seberapa jauh kemajuan saya, hanya apakah saya masih ingin datang.

Tentang hal-hal yang memang sudah lewat
Supaya adil, ada beberapa hal yang kesempatannya memang menyempit seiring waktu. Tidak semua bisa dimulai kapan saja dengan hasil yang sama, dan saya tidak ingin menghibur diri dengan mengingkarinya.
Yang saya pelajari adalah memisahkan dua hal: bentuk tertentu yang sudah tidak mungkin, dan inti yang sebenarnya saya inginkan. Sering kali yang saya rindukan bukan bentuknya, melainkan apa yang ada di dalamnya: bergerak, membuat sesuatu, memahami sesuatu, menjadi bagian dari sesuatu. Inti seperti itu hampir selalu masih punya pintu lain, walaupun pintunya tidak sebesar yang dulu saya bayangkan. Merelakan bentuk yang lama justru membuat saya bisa melihat pintu yang masih terbuka.
Penutup
Saya masih sering merasa terlambat. Perasaan itu tidak hilang hanya karena saya sudah memahaminya. Bedanya, sekarang saya memperlakukannya sebagai kabar tentang jadwal lama yang masih saya bawa, bukan sebagai kabar tentang kenyataan.
Saya tidak bisa memilih kapan seharusnya mulai; saya hanya bisa memilih apakah hari ini termasuk di dalamnya.
Kalau ada sesuatu yang sudah lama Anda simpan dengan label “sudah terlambat”, barangkali ada baiknya label itu diperiksa lagi. Bukan untuk langsung dibuang, hanya untuk ditanya: benarkah ini terlambat, atau saya hanya takut terlihat baru?
Adakah sesuatu yang ingin Anda mulai tetapi terus tertahan oleh rasa terlambat? Ceritakan di kolom komentar. Saya ingin tahu apa yang sedang Anda timbang.

Leave a Reply