Posted in

Berusaha Terlalu Keras Itu Kelihatan

Berdiri sendirian di dalam lift gedung kantor di Jenewa

Koridor kantor saya panjangnya tidak sampai lima belas meter.

Tapi di situ kepala saya paling sibuk.

Saya memikirkan mau menyapa duluan atau menunggu disapa. Saya memikirkan mata saya mau diarahkan ke mana. Saya bahkan memikirkan kecepatan jalan saya sendiri.

Lima belas meter, dan saya sudah lelah

Buat saya itu masih daftar keputusan, bukan kebiasaan. Dan lima belas meter itu cukup untuk membuat saya keluar dalam keadaan lumayan capek.

Yang saya kejar sebenarnya sederhana

Kelihatan biasa saja.

Bukan kelihatan pintar, bukan kelihatan ramah. Cuma biasa — seperti orang yang memang tempatnya di situ.

Dan di situ letak masalahnya: yang saya tiru itu hasilnya, bukan caranya. Mereka tidak berusaha kelihatan biasa. Mereka memang biasa.

Usaha dan hasil itu dua hal yang berbeda

**Usaha itu bisa dilihat orang dari luar. Hasil justru kelihatan waktu usahanya sudah tidak kelihatan.**

Coba perhatikan orang yang baru bisa menyetir. Tangannya kaku, matanya ke mana-mana, dan itu kelihatan. Selama usahanya masih kelihatan, itu belum jadi miliknya.

Harganya bukan malu, tapi tenaga

Sore hari saya capek, padahal pekerjaan saya tidak berat.

Yang habis bukan tenaga untuk bekerja. Yang habis tenaga untuk kelihatan wajar.

Dan lingkarannya makin rapat

Karena capek, lama-lama saya mulai menghindari koridor itu sendiri. Saya menunggu sepi dulu baru keluar ruangan.

Padahal makin jarang lewat, makin lama ia jadi kebiasaan.

Yang saya ubah cuma satu: saya berhenti menghitung usahanya.

Apa yang berubah

Dulu saya menilai hari saya dari seberapa keras saya mencoba. Hari yang berat saya anggap hari yang bagus.

Padahal berat itu cuma tanda belum terbiasa.

Saya tidak menyuruh siapa pun santai. Saya cuma berhenti bangga pada capeknya.

Pagi tadi saya lewat koridor yang sama. Saya menyapa satu orang, lalu jalan terus.

Saya baru sadar di meja, bahwa tadi saya tidak memikirkan apa-apa.

Dan itu pertama kalinya koridor itu cuma jadi koridor. Bukan karena saya makin keras mencoba — justru karena berhenti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *