Jam tujuh malam di sini, jalanan udah kosong. Bukan kosong yang serem — kosong yang rapi. Toko tutup tepat waktu, orang pulang tepat waktu.
Masalahnya bukan sepinya
Gue suka sepinya. Banyak orang bahkan pengen tinggal di tempat yang begini.
Masalahnya apa yang gue baca dari sepi itu.
Gue jalan sembilan menit ke halte, dan sepanjang jalan itu nggak ada suara. Di kepala gue, sepinya jadi kayak pengumuman. Coba dengerin gimana kepala gue nerjemahinnya:
– Nggak ada suara, berarti nggak ada yang nyariin. – Nggak ada yang lewat, berarti gue nggak kelewatan sama siapa-siapa.
Padahal dua-duanya bukan kesimpulan. Itu cuma nebak. Dan gue nebaknya selalu ke arah yang sama.
Kamus lama di kota baru
Di tempat gue dulu, sepi itu tanda ada yang salah. Kalau jam tujuh malam nggak ada suara di gang, berarti ada apa-apa.
Jadi gue baca sepi di sini pakai arti dari sana. Padahal di sini sepi itu default — bukan kejadian. Jalanan ini sepi buat semua orang yang lewat, bukan cuma buat gue.
Dan itu butuh waktu lama buat gue percaya.
Yang gue lakukan tanpa sadar
Kadang gue jalan lebih lambat, biar ada yang lewat. Kadang gue milih rute yang lewat depan restoran, biar ada bunyinya.
Kedengerannya kayak nyari rame. Tapi belakangan gue sadar itu bukan itu — **gue nggak lagi nyari orang. Gue nyari bukti.** Bukti bahwa dunia masih jalan di sekitar gue.
Padahal dunianya emang jalan. Cuma nggak berisik.
Dua hal yang sering ketuker
Sepi itu keadaan tempatnya. Sendirian itu keadaan gue.
Dan selama ini gue pakai yang pertama buat ngukur yang kedua.
Itu alat ukur yang salah, dan hasilnya selalu jelek — karena kota ini nggak akan pernah berisik buat nyenengin gue. Jadi kalau ukurannya itu, gue kalah tiap malam.
Buat siapa pun yang baru pindah ke kota yang jauh lebih tenang dari kota asalnya, gue rasa ini jebakan yang umum. Kita bawa kamus lama, lalu kita pakai kamus itu untuk membaca hal yang tidak sedang berbicara kepada kita sama sekali.
Kemarin malam
Kemarin gue jalan pulang, dan jalanannya sepi kayak biasa. Ada satu orang lewat, bajunya sama gelapnya. Kita nggak saling negur — nggak ada yang perlu ditegur.
Dan buat pertama kalinya, gue nggak nganggep itu jawaban buat gue.
Sepinya tetap ada. Gue cuma berhenti nganggep itu tentang gue.
—
Ini bagian dari serial Jadi Orang Lain, catatan soal jadi orang asing di Jenewa. Video lengkapnya ada di atas, atau di kanal Suisse Diaries ID.
Pernah salah membaca sepi sebagai sesuatu yang tertuju ke lo? Cerita di kolom komentar.