Posted in

Semua Ada Waktunya, Katanya

Deretan pohon di taman Jenewa

Ada satu kalimat yang selalu membuat saya tenang.

Semua ada waktunya.

Dan itu benar. Saya tidak sedang menyindir — tiap kali saya mengucapkannya, dada saya memang lebih longgar.

Lalu saya perhatikan kapan kalimat itu muncul

Bukan waktu saya sedang santai.

Munculnya waktu saya seharusnya mengerjakan sesuatu. Detik saya terpikir satu hal yang belum jalan, kalimat itu langsung datang.

Dan saya tidak pernah curiga, karena kalimatnya benar.

Ternyata bedanya cuma satu

Menunggu itu ada yang sedang disiapkan. Diam itu tidak ada.

Dari luar keduanya kelihatan sama persis. Yang satu tidak mengerjakan apa-apa di luarnya saja — di dalamnya ada yang jalan.

Dan saya lupa bertanya saya sedang yang mana. Saya kira selama saya tidak menyerah, berarti saya sedang menunggu.

Pohonnya yang menjelaskan

Saya lewat taman, dan saya lihat pohon-pohonnya.

Berbulan-bulan mereka kelihatan tidak mengerjakan apa-apa. Gundul, diam, tidak ada tanda. Padahal di dalamnya ada yang jalan terus.

Waktu daunnya keluar, itu bukan hari dia mulai. Itu hari kelihatannya saja.

Dan saya selama ini meniru bagian yang salah: saya meniru diamnya, saya tidak meniru kerjanya.

Harganya bukan saya jadi ketinggalan

Harganya saya punya kalimat yang tidak pernah bisa salah.

Kalau sesuatu belum jadi — semua ada waktunya. Kalau tidak jadi selamanya — ya berarti memang bukan waktunya.

Tidak ada yang salah. Itu justru masalahnya. Kalimat yang selalu benar itu tidak memberi saya kabar apa-apa.

Satu syarat kecil

Saya tidak berhenti menunggu, dan saya tidak memaksa cepat. Saya cuma menambah satu syarat.

Tiap hal yang saya tunggu harus punya satu pekerjaan yang jalan sekarang. Kecil tidak apa-apa — yang penting cuma masuk akal kalau hal itu jadi.

Kalau saya tidak menemukan satu pun, berarti saya bukan sedang menunggu. Berarti saya sedang diam, dan saya menyebutnya menunggu.

Saya coba ke tiga hal yang sudah lama saya simpan

Dua di antaranya ketemu pekerjaannya. Satu tidak ada sama sekali.

Yang satu itu tidak saya buang. Saya cuma berhenti menyebutnya menunggu. Kelihatannya sepele, tapi rasanya beda.

Yang dua tadi sekarang ada bunyinya, walaupun pelan sekali.

Semua ada waktunya. Tapi waktunya tidak datang ke tempat yang kosong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *