Saya baru sadar hampir semua yang saya kerjakan di sini ada lawannya.
Keluar rumah, saya menahan dingin. Mengobrol, saya menahan tidak paham. Berjalan, saya mengejar jadwal yang bukan saya yang membuatnya.
Tenaganya habis untuk tidak jatuh
Saya menghitung ke mana tenaga saya pergi, dan hasilnya membuat saya diam.
Hampir semuanya terpakai untuk tidak jatuh. Tidak ada yang terpakai untuk maju ke mana-mana.
Hidupnya tetap jalan — cuma jalannya di tempat. Dan dari luar, dua-duanya kelihatan sama sibuknya. Bahkan saya sendiri lama tidak bisa membedakan.
Bertahan dan hidup itu dua hal yang berbeda
Bertahan itu menjaga posisi. Hidup itu memindahkan posisi.
Saya sangat mahir yang pertama, dan saya lupa yang kedua ada.
Kuda-kuda itu untuk menahan pukulan, bukan untuk berdiri seharian.
Dari mana kuda-kudanya datang
Waktu saya baru datang, semuanya memang lawan betulan. Bahasa, cuaca, cara orang antre — semuanya harus saya tahan.
Jadi saya memasang kuda-kuda, dan itu masuk akal waktu itu.
Lalu lawannya pelan-pelan hilang. Bahasanya masih susah, tapi tidak menyerang lagi. Tapi kuda-kuda saya tidak ikut bubar. Badan saya masih siap pada sesuatu yang sudah selesai.
Harganya bukan capeknya
Harganya adalah saya tidak menyadari waktu keadaannya sudah longgar.
Saya masih bersiap untuk sesuatu yang sudah tidak datang. Dan siap terus itu namanya bukan siap — itu namanya tidak pernah berhenti. Yang tidak pernah berhenti itu tidak kelihatan lelah dari luar.
Jadi saya menguji satu sore
Saya keluar tanpa menyiapkan apa pun di kepala. Tidak menyusun kalimat lebih dulu, tidak menghitung waktu, tidak menebak-nebak.
Saya cuma berjalan, dan saya tunggu apa yang menyerang.
Tidak ada. Sorenya lewat begitu saja.
Dan saya baru sadar saya sudah lama aman tanpa saya izinkan. Yang berubah bukan kotanya — yang berubah izin saya untuk santai.
—
Saya tidak sedang bilang di sini gampang. Ada hal yang memang masih harus saya tahan, dan saya tahan.
Tapi saya berhenti menahan yang sudah tidak menekan.
Sekarang tiap kali saya merasa bersiap, saya bertanya satu hal: ini betulan sedang ada, atau tinggal kebiasaan?
Dan seringnya, yang saya lawan itu sudah pulang lebih dulu.