Saya pernah punya banyak sekali catatan dan hampir tidak ingat isinya. Buku tulis yang penuh, berkas yang menumpuk di aplikasi catatan, potongan kertas di sela-sela buku. Setiap kali membutuhkan sesuatu, saya tahu pernah mencatatnya, tetapi tidak tahu di mana. Lebih buruk lagi, saya tidak ingat apa isinya.
Dari situ saya sadar bahwa mencatat dan mengingat adalah dua hal yang berbeda. Catatan yang banyak tidak otomatis membuat saya lebih ingat. Tulisan ini berisi cara mencatat yang sekarang saya pakai. Tidak rumit, tidak bergantung pada alat tertentu, dan tujuannya hanya satu: apa yang saya catat hari ini masih bisa saya pakai nanti.
Menyalin bukan mencatat
Kebiasaan lama saya adalah menulis secepat dan selengkap mungkin. Kalau membaca, saya menandai hampir setiap kalimat. Kalau mendengarkan penjelasan, saya berusaha menuliskan semuanya kata demi kata. Hasilnya tampak rajin, tetapi kepala saya nyaris tidak ikut bekerja.
Menyalin adalah pekerjaan tangan. Mengingat membutuhkan pekerjaan kepala: memilih, meringkas, dan memutuskan mana yang penting. Selama saya hanya memindahkan kata-kata orang lain ke halaman saya, tidak ada yang benar-benar menempel.
Sekarang saya sengaja mencatat lebih sedikit. Saya membaca atau mendengarkan dulu sampai satu bagian selesai, berhenti, lalu menuliskan apa yang saya tangkap tanpa melihat sumbernya. Kalau ternyata tidak ada yang bisa saya tulis, berarti saya belum paham. Itu pun informasi yang berguna, dan lebih baik saya tahu sekarang daripada nanti.
Ada akibat lain yang tidak saya duga. Karena tidak lagi sibuk mengejar setiap kata, saya jadi lebih memperhatikan. Saya sempat bertanya dalam hati, membandingkan dengan apa yang sudah saya tahu, dan menyadari bagian yang tidak saya setujui. Semua itu dulu tertutup oleh kesibukan menulis.
Tangkap dulu di satu tempat
Gagasan jarang datang pada waktu yang rapi. Ia muncul di perjalanan, di tengah pekerjaan lain, atau menjelang tidur. Dulu saya menuliskannya di mana saja yang terdekat, dan justru karena itu ia hilang.
Aturan saya sekarang: semua catatan cepat masuk ke satu tempat penampungan. Bentuknya bebas, boleh buku saku atau satu halaman di aplikasi catatan. Yang penting jumlahnya hanya satu, sehingga saya tidak pernah bertanya di mana harus menulis dan di mana harus mencari.

Catatan di penampungan itu boleh berantakan. Setengah kalimat, kata kunci, pertanyaan yang belum selesai. Saya tidak merapikannya saat itu juga, karena merapikan sambil menangkap membuat keduanya lambat. Merapikan punya waktunya sendiri, biasanya di penghujung hari. Pada saat itulah saya sering mendapati bahwa sebagian besar catatan cepat ternyata boleh dibuang.
Satu gagasan, dengan kata-kata sendiri
Catatan yang layak disimpan saya tulis ulang menjadi catatan pendek. Setiap catatan hanya memuat satu gagasan, dengan judul berupa kalimat utuh, bukan sekadar topik. Judul “Tentang kebiasaan” tidak mengatakan apa-apa. Judul “Kebiasaan baru lebih mudah bertahan kalau ditempelkan pada kegiatan yang sudah ada” langsung mengingatkan saya pada isinya, bahkan sebelum catatannya dibuka.
Saya menulisnya seolah sedang menjelaskan kepada diri saya beberapa bulan lagi, yang sudah lupa konteksnya. Orang itu tidak ingat sedang membaca apa dan tidak ingat kenapa hal ini dulu terasa penting. Karena itu, di setiap catatan saya berusaha menjawab tiga pertanyaan:
- Apa intinya? Satu atau dua kalimat dengan kata-kata saya sendiri, tanpa menyalin.
- Kenapa ini penting bagi saya? Masalah apa yang sedang saya hadapi ketika menemukannya.
- Kapan saya akan memakainya? Satu situasi konkret tempat gagasan ini mungkin berguna.
Pertanyaan ketiga yang paling sering saya lewatkan dulu, padahal justru itu yang membuat catatan mudah dipanggil kembali. Ingatan saya ternyata lebih mudah menemukan sesuatu lewat situasi daripada lewat topik.
Saya juga membiarkan catatan itu pendek. Kalau sebuah catatan mulai melebihi satu layar atau setengah halaman, hampir pasti ada dua gagasan di dalamnya, dan saya memecahnya. Catatan pendek lebih cepat dibaca ulang, lebih mudah diberi judul, dan lebih mudah digabungkan dengan catatan lain di kemudian hari.
Sisakan pertanyaan, bukan hanya jawaban
Di bagian bawah catatan, saya menulis satu atau dua pertanyaan yang jawabannya ada di catatan itu sendiri. Ketika membukanya kembali, saya menutup isinya dulu dan mencoba menjawab dari kepala. Baru setelah itu saya memeriksa.

Alasannya sederhana. Membaca ulang terasa menyenangkan karena semuanya tampak akrab, dan rasa akrab itu mudah saya kira sebagai ingat. Padahal mengenali dan mengingat tidak sama. Menjawab pertanyaan memaksa saya mengeluarkan sesuatu dari kepala, bukan sekadar mengangguk pada apa yang ada di depan mata.
Sering kali saya gagal menjawab. Itu tidak apa-apa. Usaha mengingat yang gagal tetap lebih berguna bagi saya daripada membaca ulang yang terasa lancar, karena setelahnya saya tahu persis bagian mana yang sudah lepas.
Membuka kembali dengan jarak yang makin lebar
Catatan yang tidak pernah dibuka hampir sama dengan catatan yang tidak pernah ditulis. Jadi bagian terpenting dari cara ini sebenarnya bukan menulisnya, melainkan mengunjunginya lagi.
Polanya saya buat sesederhana mungkin. Catatan baru saya buka keesokan harinya, lalu beberapa hari kemudian, lalu beberapa minggu kemudian. Selama masih ingat, jaraknya saya lebarkan. Kalau ternyata sudah lupa, jaraknya saya pendekkan lagi.

Saya tidak memakai sistem yang rumit untuk ini. Di sudut setiap catatan saya menulis kapan catatan itu perlu dibuka lagi, lalu setiap pagi saya meluangkan beberapa menit untuk catatan yang jatuh pada hari itu. Jumlahnya jarang lebih dari segelintir, sehingga tidak terasa sebagai beban.
Catatan yang berkali-kali gagal saya ingat biasanya bukan soal ingatan. Biasanya catatannya yang bermasalah: terlalu panjang, memuat lebih dari satu gagasan, atau ditulis dengan kata-kata yang bukan milik saya. Catatan seperti itu saya tulis ulang, bukan saya hafalkan.
Catatan menempel kalau dipakai
Dari semua cara di atas, tidak ada yang mengalahkan satu hal: memakai catatan itu. Gagasan yang pernah saya pakai untuk menyelesaikan masalah, saya ceritakan dalam percakapan, atau saya masukkan ke dalam tulisan hampir tidak pernah hilang.
Karena itu saya membiasakan diri menghubungkan catatan baru dengan catatan lama. Setiap menambah satu catatan, saya bertanya: ini mirip dengan apa yang sudah saya tahu? Ini bertentangan dengan catatan yang mana? Cukup satu kalimat rujukan di bagian bawah. Lama-lama catatan tidak lagi berdiri sendiri, dan mengingat satu hal ikut menarik beberapa hal lain.
Sesekali saya juga menulis sesuatu hanya dari catatan-catatan itu: ringkasan pendek, penjelasan untuk teman, atau sekadar satu halaman tentang apa yang saya pahami sejauh ini. Hasilnya tidak selalu saya simpan. Yang saya cari adalah prosesnya, karena di situlah terlihat catatan mana yang sungguh saya mengerti dan mana yang hanya saya kumpulkan.
Yang sengaja tidak saya catat
Bagian ini mungkin terdengar aneh dalam tulisan tentang mencatat, tetapi sebagian besar hal memang tidak saya catat. Hal yang mudah dicari lagi tidak perlu disimpan. Hal yang hanya menarik selama lima menit juga tidak. Kalau saya ragu, saya biarkan dulu di penampungan sehari. Besoknya, kalau sudah tidak terasa penting, saya hapus.
Lupa, dalam hal ini, bukan musuh. Ia saringan. Semakin sedikit yang saya simpan, semakin besar kemungkinan saya benar-benar membuka dan memakainya. Tumpukan catatan yang terlalu tinggi membuat saya enggan mendekat, dan catatan yang tidak didekati tidak menolong siapa pun.
Penutup
Kalau diringkas, cara saya mencatat hanya terdiri atas beberapa kebiasaan kecil: tangkap di satu tempat, tulis ulang dengan kata-kata sendiri, sisakan pertanyaan, buka lagi dengan jarak yang makin lebar, dan pakai. Tidak ada yang canggih. Yang berubah hanyalah tujuan saya. Dulu saya mencatat supaya merasa aman. Sekarang saya mencatat supaya bisa kembali.
Catatan yang baik bukan yang paling lengkap, melainkan yang masih dibuka lagi.
Kalau catatan Anda terasa menumpuk tanpa pernah terpakai, cobalah mulai dari satu saja: ambil satu catatan lama, tulis ulang dalam tiga kalimat, dan tambahkan satu pertanyaan di bawahnya. Lihat apa yang terjadi ketika Anda membukanya lagi minggu depan.
Bagaimana cara Anda mencatat selama ini, dan bagian mana yang paling sering membuat catatan itu terlupakan? Tulis di kolom komentar. Saya senang belajar dari cara orang lain.

Leave a Reply