Apa yang saya lakukan ketika merasa mentok

Seseorang berdiri di depan tembok, dengan jalur putus-putus yang melewati tembok menuju bendera

Ada saat ketika pekerjaan berhenti bergerak. Saya sudah duduk cukup lama, sudah mencoba beberapa cara, dan hasilnya tetap sama: tidak ada. Layarnya masih itu-itu saja, halamannya masih kosong di bagian yang sama. Semakin lama saya menatapnya, semakin terasa bahwa masalahnya ada pada diri saya.

Saya dulu menanggapi keadaan itu dengan dua cara, dan keduanya buruk. Memaksa terus sampai kesal, atau meninggalkannya diam-diam dan berharap besok lebih mudah. Sekarang saya punya urutan kecil yang saya jalankan setiap kali merasa mentok. Urutan ini tidak selalu berhasil, tetapi hampir selalu membuat sesuatu bergerak, dan itu biasanya sudah cukup.

Mengakui dulu bahwa saya mentok

Langkah pertama terdengar sepele, tetapi paling sering saya lewatkan. Saya bisa menghabiskan waktu lama dalam keadaan setengah bekerja: membuka berkas, menutupnya lagi, merapikan hal yang tidak perlu dirapikan, lalu kembali ke titik yang sama. Dari luar tampak sibuk. Dari dalam, saya hanya berputar.

Maka saya membuat tanda untuk diri sendiri. Kalau saya sudah tiga kali mencoba cara yang pada dasarnya sama dan hasilnya tidak berubah, saya berhenti dan mengatakannya dengan jelas: saya mentok. Mengatakannya mengubah keadaan dari sesuatu yang memalukan menjadi sesuatu yang bisa ditangani.

Lalu saya bertanya, mentok yang mana? Menurut pengalaman saya, ada tiga jenis, dan obatnya berbeda:

  • Tidak tahu langkah berikutnya. Tujuannya jelas, jalannya yang tidak kelihatan.
  • Tahu langkahnya, tetapi tidak sanggup mengerjakannya. Biasanya karena ada pengetahuan atau keterampilan yang belum saya punya.
  • Tidak yakin lagi pada tujuannya. Saya bisa melanjutkan, tetapi ada yang terasa keliru dan saya belum bisa menyebutkannya.

Membedakan ketiganya menghemat banyak tenaga. Dulu saya mengobati semuanya dengan cara yang sama, yaitu berusaha lebih keras. Itu hanya cocok untuk sebagian kecil keadaan. Kalau yang kurang adalah pengetahuan, berusaha lebih keras tidak menambah pengetahuan. Kalau yang goyah adalah tujuannya, berusaha lebih keras hanya membawa saya lebih cepat ke tempat yang salah.

Menuliskan masalahnya dalam satu kalimat

Selama masih di dalam kepala, masalah terasa besar dan kusut. Segalanya bercampur: bagian yang sulit, rasa khawatir akan tenggat, dan hal-hal lain yang sebenarnya tidak berhubungan. Maka saya mengambil kertas dan menulis satu kalimat yang dimulai dengan “Saya mentok karena”.

Garis kusut di sebelah kiri berubah menjadi satu garis lurus di sebelah kanan
Benang yang kusut di kepala sering terurai begitu dipaksa menjadi satu kalimat.

Kalimat pertama hampir selalu terlalu umum. “Saya mentok karena bagian ini susah.” Jadi saya menulis kalimat kedua yang lebih sempit, lalu ketiga. Saya berhenti ketika kalimatnya cukup tepat sehingga orang lain bisa mengerti apa yang kurang tanpa perlu bertanya balik.

Tidak jarang, urusannya selesai di sini. Begitu masalahnya tertulis dengan tepat, jawabannya ikut terlihat, atau setidaknya terlihat bahwa yang saya kira satu masalah ternyata tiga masalah kecil yang saling menumpuk.

Mengecilkan pertanyaannya

Kalau kalimat tadi belum membuka apa-apa, saya mengecilkan pertanyaannya. Saya berhenti bertanya “bagaimana menyelesaikan ini?” dan menggantinya dengan pertanyaan yang jauh lebih sempit: bagian mana yang sudah pasti benar? Di titik mana persisnya ia berhenti bekerja? Apa hal terkecil yang bisa saya uji dalam sepuluh menit?

Satu batu besar di kiri dan beberapa batu kecil di kanan, salah satunya berwarna oranye
Batu besar tidak bisa diangkat, tetapi salah satu pecahannya hampir selalu bisa.

Pertanyaan kecil punya satu keunggulan: ia bisa dijawab. Dan jawaban kecil, meskipun tidak menyelesaikan masalahnya, mengubah keadaan saya dari tidak tahu apa-apa menjadi tahu satu hal. Dari satu hal itu biasanya muncul pertanyaan kecil berikutnya.

Cara lain yang sering saya pakai adalah sengaja membuat versi yang buruk. Jawaban yang asal, kerangka yang kasar, kalimat yang jelek. Sesuatu yang buruk tetapi ada jauh lebih mudah diperbaiki daripada sesuatu yang sempurna tetapi belum ada. Sering kali saya mentok bukan karena tidak mampu, melainkan karena menuntut hasil pertama langsung bagus.

Ada satu trik lagi untuk jenis mentok yang pertama: mengerjakannya dari belakang. Saya membayangkan pekerjaan itu sudah selesai, lalu bertanya apa yang harus sudah ada tepat sebelum selesai, dan apa yang harus ada sebelum itu. Berjalan mundur dari tujuan kadang memperlihatkan langkah yang tidak tampak ketika saya hanya memandang ke depan dari tempat saya berdiri.

Menjauh sebentar dengan sengaja

Kalau dua langkah tadi belum menolong, saya berdiri dan pergi. Bukan kabur, karena saya menentukan dulu berapa lama dan kapan kembali. Bedanya penting. Pergi tanpa batas mudah berubah menjadi menghindar. Pergi dengan batas adalah bagian dari bekerja.

Selama menjauh, saya melakukan sesuatu yang memakai badan dan membiarkan kepala kosong: berjalan kaki, mencuci piring, menyiram tanaman. Saya tidak membuka layar lain, karena itu hanya mengganti satu keramaian dengan keramaian berikutnya.

Sebelum pergi, saya membaca kalimat masalah tadi sekali lagi. Entah bagaimana, kepala tetap mengerjakannya di belakang. Berkali-kali saya kembali ke meja dengan satu gagasan yang tidak muncul selama saya menatap masalah itu dari dekat. Tidak selalu, tetapi cukup sering untuk membuat saya percaya pada cara ini.

Bertanya kepada orang lain

Saya termasuk orang yang terlambat belajar meminta bantuan. Rasanya seperti mengaku tidak mampu. Padahal waktu yang saya habiskan sendirian untuk masalah yang bisa dijawab orang lain dalam lima menit tidak membuat saya lebih hebat. Hanya lebih lelah.

Dua orang di dua tebing yang terpisah, dihubungkan oleh sebuah jembatan
Jarak yang tidak bisa dilompati sendirian kadang cukup diseberangi dengan satu pertanyaan.

Supaya pertanyaan saya tidak membuang waktu orang yang ditanya, saya menyiapkan tiga hal: apa yang ingin saya capai, apa saja yang sudah saya coba, dan di mana tepatnya saya berhenti. Kalimat masalah yang tadi saya tulis biasanya sudah memuat ketiganya.

Yang menarik, cukup sering saya menemukan jawabannya ketika sedang menyusun pertanyaan itu, sebelum sempat mengirimkannya. Menjelaskan sebuah masalah kepada orang lain memaksa saya menyusunnya secara berurutan, dan urutan itulah yang sebelumnya tidak ada.

Kalau memang tidak ada orang yang bisa ditanya, saya tetap menuliskan pertanyaannya selengkap mungkin, seolah akan dikirim. Kadang saya membacakannya keras-keras di ruangan kosong. Kedengarannya ganjil, tetapi telinga sering menangkap kejanggalan yang dilewatkan mata.

Ketika mentok adalah tanda salah arah

Ada jenis mentok yang tidak bisa dipecahkan dengan teknik apa pun, yaitu jenis ketiga dalam daftar di atas. Semua langkah sudah saya coba, masalahnya terus kembali dalam bentuk yang sedikit berbeda, dan setiap perbaikan memunculkan dua kerusakan baru.

Pada titik itu saya mundur satu tingkat dan bertanya: apakah saya sedang memecahkan masalah yang tepat? Barangkali pendekatannya yang perlu diganti, bukan langkahnya. Barangkali ada jalan yang lebih sederhana yang saya abaikan karena sudah terlanjur jauh di jalan ini.

Mundur terasa mahal, karena ada pekerjaan yang harus ditinggalkan. Tetapi saya belajar untuk tidak menghitung apa yang sudah saya keluarkan. Yang saya hitung hanya apa yang masih tersisa di depan. Kalau jalan lain lebih pendek dari titik saya berdiri sekarang, saya pindah.

Keputusan seperti ini tidak saya ambil ketika sedang kesal. Saya menundanya sampai esok hari, dan baru memutuskan setelah membaca lagi catatan tentang apa saja yang sudah dicoba. Dengan begitu saya tahu bahwa saya berganti arah karena alasan yang bisa dijelaskan, bukan karena sedang lelah.

Penutup

Mentok dulu saya anggap sebagai bukti bahwa saya kurang pandai. Sekarang saya menganggapnya sebagai bagian biasa dari pekerjaan apa pun yang sedikit lebih sulit daripada kemampuan saya saat ini. Kalau tidak pernah mentok, kemungkinan besar saya hanya mengerjakan hal yang sudah saya kuasai.

Urutannya sendiri tidak istimewa: akui, tuliskan, kecilkan, menjauh, bertanya, dan kalau perlu, ganti arah. Yang membuatnya berguna adalah saya tidak perlu memikirkan apa yang harus dilakukan saat kepala sedang buntu. Saya tinggal menjalankan langkah berikutnya.

Mentok jarang berarti jalannya habis; lebih sering berarti saya perlu melihatnya dari tempat lain.

Kalau saat ini Anda sedang menghadapi sesuatu yang tidak mau bergerak, cobalah mulai dari langkah yang paling murah: tulis satu kalimat tentang apa persisnya yang menghalangi. Mungkin itu belum menyelesaikan apa-apa, tetapi Anda akan tahu sedang berhadapan dengan apa.

Apa yang biasanya Anda lakukan ketika merasa mentok? Bagikan di kolom komentar. Siapa tahu cara Anda adalah langkah yang belum ada dalam daftar saya.

LF

Ditulis oleh

Lukman Fajar

Menulis tentang belajar, bekerja, dan berpikir. Tentang saya →

YouTube · Instagram


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *