Saya orang yang pandai menunda. Bukan menunda dengan bermalas-malasan, tetapi menunda dengan cara yang tampak rajin: merapikan meja, membalas pesan, membaca sekali lagi sebelum mulai. Pekerjaan yang seharusnya saya kerjakan tetap menunggu di tempatnya, dan saya tetap merasa sibuk seharian.
Saya sudah mencoba banyak cara untuk mengatasinya. Sebagian besar tidak bertahan lebih dari beberapa hari. Tulisan ini berisi sedikit cara yang benar-benar bertahan, beserta beberapa yang tidak. Saya menuliskannya sebagai pengalaman pribadi, bukan sebagai resep. Kalau kebiasaan menunda sudah terasa sangat mengganggu hidup Anda, berbicara dengan orang yang memang ahli tentu lebih tepat daripada membaca catatan saya.
Saya menunda perasaan, bukan pekerjaan
Lama sekali saya mengira saya menunda karena malas atau karena buruk dalam mengatur waktu. Karena itu obat yang saya coba selalu berupa jadwal: jadwal yang lebih ketat, pengingat yang lebih banyak, tenggat yang lebih awal. Tidak ada yang berhasil, karena jadwalnya memang tidak pernah menjadi masalah.
Yang akhirnya saya perhatikan adalah ini: saya hampir tidak pernah menunda pekerjaan yang membosankan tetapi jelas. Yang saya tunda adalah pekerjaan yang membuat saya merasa sesuatu. Takut hasilnya jelek. Bingung harus mulai dari mana. Enggan karena tahu akan ada percakapan yang canggung. Yang saya hindari bukan pekerjaannya, melainkan rasa tidak enak yang muncul begitu saya mendekatinya.
Saya tidak tahu apakah ini berlaku untuk semua orang. Untuk saya, pengamatan sederhana itu menjelaskan banyak hal, termasuk kenapa saya justru paling rajin merapikan meja pada hari-hari ketika ada pekerjaan penting yang menunggu.
Begitu melihatnya seperti itu, pertanyaannya ikut berubah. Bukan lagi “bagaimana cara memaksa diri”, tetapi “bagaimana membuat rasa tidak enak itu cukup kecil untuk dilewati”.
Menyebut apa yang sebenarnya saya hindari
Cara pertama hampir tidak terlihat seperti cara. Ketika sadar sedang berputar-putar di sekitar satu pekerjaan, saya mengambil kertas dan menyelesaikan satu kalimat: saya belum mengerjakan ini karena…
Jawaban pertama biasanya alasan resmi: belum ada waktu. Saya menulis lagi sampai muncul jawaban yang agak memalukan. Karena saya tidak tahu apa yang diharapkan. Karena saya khawatir orang akan melihat bahwa saya tidak sepandai yang mereka kira. Karena ada satu hal yang belum saya putuskan, dan selama belum diputuskan, tidak ada yang bisa dikerjakan.

Jawaban yang jujur hampir selalu menunjuk ke langkah berikutnya. Kalau saya tidak tahu apa yang diharapkan, langkah pertamanya adalah bertanya, bukan bekerja lebih keras. Kalau ada keputusan yang menggantung, langkah pertamanya adalah memutuskan. Selama rasa enggan itu masih berupa kabut, saya hanya bisa menjauhinya. Setelah punya nama, ia menjadi sesuatu yang bisa saya tangani.
Janji lima menit
Cara kedua adalah yang paling sering saya pakai. Saya berjanji kepada diri sendiri untuk mengerjakan hal itu selama lima menit saja. Saya memasang pengatur waktu, dan ketika berbunyi, saya sungguh-sungguh boleh berhenti.
Bagian “sungguh-sungguh boleh berhenti” itu penting. Kalau janji lima menit hanya tipuan untuk menjebak diri bekerja dua jam, bagian diri saya yang enggan akan segera tahu, dan lain kali ia tidak mau diajak berunding. Jadi kadang saya memang berhenti setelah lima menit. Itu tetap terhitung berhasil.
Satu syarat lagi: lima menit itu harus dipakai untuk pekerjaannya sendiri, bukan untuk bersiap-siap. Membuka berkas lalu merapikan folder tidak dihitung. Menulis satu kalimat yang buruk dihitung.
Namun lebih sering saya meneruskan. Rasa enggan paling besar ternyata ada tepat sebelum mulai. Begitu saya sudah berada di dalam pekerjaannya, yang saya hadapi bukan lagi bayangan tentang pekerjaan itu, melainkan pekerjaannya sendiri. Dan pekerjaan yang sebenarnya hampir selalu lebih jinak daripada bayangannya.
Mengizinkan versi yang jelek
Banyak penundaan saya berasal dari satu keinginan yang kedengarannya baik: ingin mengerjakannya dengan benar. Selama saya belum mulai, hasilnya masih bisa sempurna di kepala. Begitu saya mulai, ia menjadi nyata, dan yang nyata selalu punya cacat.
Jadi saya mengubah targetnya. Tugas saya pada sesi pertama bukan membuat sesuatu yang bagus, melainkan membuat versi yang jelek dengan sengaja. Kalimat yang kaku, urutan yang belum tentu benar, bagian yang hanya saya tandai dengan “nanti diisi”. Saya bahkan menamai berkasnya dengan kata “kasar” supaya tidak ada yang berharap banyak darinya, termasuk saya.
Ada kelegaan yang aneh dalam mengerjakan sesuatu yang memang tidak dimaksudkan untuk bagus. Tidak ada yang perlu dijaga, jadi tangan saya bergerak lebih cepat.

Versi jelek punya satu kelebihan besar dibanding versi sempurna yang belum ada: ia bisa diperbaiki. Memperbaiki jauh lebih ringan daripada memulai. Saya jarang menunda pekerjaan merapikan sesuatu yang sudah ada. Yang saya tunda adalah berhadapan dengan halaman kosong.
Menyiapkan langkah pertama sebelum niatnya datang
Saya memperhatikan bahwa pada saat enggan, hambatan sekecil apa pun cukup untuk membatalkan niat. Harus mencari berkasnya dulu. Harus mengumpulkan bahannya. Harus membersihkan meja. Masing-masing hanya makan semenit, tetapi semenit itu sudah cukup bagi saya untuk beralih ke hal lain.
Maka pada saat saya tidak enggan, biasanya sore sebelumnya, saya menyiapkan semuanya. Berkasnya saya biarkan terbuka di layar. Bahan yang diperlukan saya taruh di atas meja. Dengan begitu, ketika waktunya tiba, langkah pertama tinggal satu gerakan: duduk.
Ini terasa seperti kecurangan kecil terhadap diri sendiri, dan memang begitu. Saya yang sedang bersemangat membuat persiapan untuk saya yang besok mungkin tidak bersemangat. Keduanya orang yang sama, hanya dengan tenaga yang berbeda.
Bekerja di dekat orang lain
Untuk pekerjaan yang paling saya hindari, ada satu cara yang hampir selalu berhasil: mengerjakannya di dekat orang lain yang juga sedang bekerja. Tidak perlu orang yang paham pekerjaan saya. Tidak perlu saling membantu. Cukup duduk di ruangan yang sama, masing-masing dengan urusannya.

Sebelum mulai, saya biasanya mengatakan dengan suara keras apa yang akan saya kerjakan selama satu jam ke depan. Hanya itu. Entah kenapa, kalimat yang sudah diucapkan kepada orang lain lebih sulit saya abaikan daripada kalimat yang hanya ada di kepala. Dan kehadiran orang yang sedang tekun membuat saya malu untuk membuka hal lain.
Kalau tidak ada orang, mengirim pesan singkat kepada seorang teman kadang cukup: “Saya akan mengerjakan ini sampai siang, nanti saya kabari.” Saya tidak meminta diawasi. Saya hanya membuat niat saya terdengar oleh orang selain saya.
Yang tidak berhasil untuk saya
Supaya adil, berikut beberapa cara yang sering disarankan dan sudah saya coba berkali-kali tanpa hasil. Mungkin berhasil untuk orang lain. Untuk saya tidak.
- Menunggu suasana hati yang pas. Suasana hati itu datang setelah saya mulai, bukan sebelumnya. Menunggunya sama dengan menunggu sesuatu yang hanya muncul kalau saya berangkat.
- Memarahi diri sendiri. Rasa bersalah menambah rasa tidak enak pada pekerjaan itu, padahal rasa tidak enak itulah yang sejak awal saya hindari. Hasilnya saya menunda lebih lama.
- Tenggat buatan. Saya tahu tenggat itu saya karang sendiri, jadi saya juga yang dengan mudah menggesernya.
- Hadiah besar di akhir. Hadiah yang jauh tidak pernah menang melawan rasa enggan yang ada di depan mata.
Keempatnya punya pola yang sama: semuanya mencoba menambah tekanan. Padahal tekanan sudah lebih dari cukup. Yang kurang adalah jalan masuk.
Penutup
Kalau saya melihat kembali cara-cara yang bertahan, semuanya punya satu kesamaan. Tidak ada yang mencoba membuat saya lebih kuat atau lebih disiplin. Semuanya hanya membuat awal pekerjaan menjadi lebih kecil, lebih jelas, dan tidak terlalu menakutkan. Saya masih orang yang sama, masih mudah enggan. Saya hanya berhenti mengandalkan kemauan dan mulai mengatur pintu masuknya.
Saya tidak perlu merasa siap untuk mulai; saya hanya perlu mulai dalam keadaan belum siap.
Saya masih menunda, tentu saja. Bedanya, sekarang saya lebih cepat mengenali tandanya dan tahu apa yang bisa dicoba. Kalau ada satu pekerjaan yang sedang Anda hindari, cobalah satu hal saja hari ini: tulis kenapa Anda belum mengerjakannya, atau pasang pengatur waktu lima menit dan lihat apa yang terjadi.
Cara apa yang berhasil untuk Anda ketika sedang enggan memulai? Dan apa yang ternyata sama sekali tidak berhasil? Ceritakan di kolom komentar. Saya senang membacanya.

Leave a Reply