Posted in

Gue Berhenti Ngukur Pakai Kalender Orang

Berjalan di kota tua Jenewa

Di bahasa Indonesia, ada satu hal yang harus saya tahu sebelum bisa mulai bicara.

Umur orangnya.

Kakak atau adik. Om atau tante. Panggilannya berbeda semua, dan saya tidak bisa memulai kalimat sebelum itu jelas.

Ternyata itu bukan cuma sopan santun

Itu alat ukur, dan saya membawanya ke mana-mana.

Di sini panggilannya tidak berubah. Orang yang jauh lebih tua dan orang seumuran saya disapa dengan cara yang sama. Dan tidak ada yang bertanya saya lahir tahun berapa.

Awalnya saya kira itu cuma soal bahasa. Ternyata bukan.

Saya jadi tidak tahu lagi siapa yang seharusnya ada di depan saya. Dan dari situ saya baru sadar bahwa saya selalu membutuhkan urutan itu.

Seusia dan setahap itu dua hal yang berbeda

Umur yang sama tidak berarti tahap yang sama.

Seusia itu soal angka lahir. Setahap itu soal apa yang sedang dikerjakan. Dua orang bisa lahir di bulan yang sama dan sedang mengerjakan hal yang sangat berbeda.

Selama ini saya mengukur diri pakai kalender yang bukan saya yang membuatnya.

Daftar yang tidak pernah saya tulis

Saya punya daftar di kepala. Umur sekian seharusnya sudah begini. Umur sekian seharusnya sudah punya itu.

Saya tidak ingat kapan daftar itu masuk. Tapi tiap ulang tahun, saya memeriksa diri saya dengan daftar itu.

Dan tidak ada nama penulisnya. Itu yang membuatnya susah dilawan — kalau ada orangnya, saya bisa tidak setuju. Ini tidak ada yang bisa saya ajak berdebat.

Harganya bukan sedih

Harganya adalah saya jadi tidak bisa menikmati yang sedang berjalan.

Saya memasak tiap hari, dan itu jalan. Tapi kalau saya tempelkan ke daftar itu, memasak tidak masuk hitungan. Tidak ada kolomnya.

Menurut daftar yang mana?

Apa yang berubah

Yang saya ubah cuma satu, dan kecil.

Saya berhenti bertanya sampai mana saya, dan mulai bertanya *sedang mengerjakan apa saya*.

Sampai mana itu butuh garis. Sedang mengerjakan apa tidak butuh siapa-siapa.

Saya tidak sedang bilang umur tidak penting. Ada hal yang memang ada waktunya. Tapi kebanyakan yang saya kejar, ternyata tidak ada tanggal jatuh temponya.

Kemarin ada yang bertanya saya bekerja di bidang apa.

Bukan sudah berapa lama, bukan umur berapa. Cuma sedang mengerjakan apa.

Saya menjawab, dan obrolannya jalan terus. Tidak ada yang merasa perlu menaruh saya di urutan mana.

Dan saya pulang tanpa memeriksa daftar itu sekali pun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *