Saya jarang ke danau.
Dan kalau ke sana, selalu ada alasannya. Entah sedang mencari bahan untuk konten, entah sedang ingin membakar karbo.
Tidak pernah cuma ingin ke sana.
Saya jalan cepat di tempat yang tidak ada apa-apa untuk dikejar
Sekali saya mencoba pelan-pelan. Bukan berhenti — cuma pelan.
Dan badan saya tidak menerima.
Ada rasa seperti saya sedang meninggalkan sesuatu di belakang. Padahal tidak ada yang saya tinggalkan. Tidak ada janji, tidak ada kereta.
Yang ada cuma perasaan bahwa seharusnya saya lebih cepat dari ini. Dan itu perasaan, bukan jadwal.
Ternyata saya mencampur dua hal yang berbeda
Lambat itu kecepatan. Mundur itu arah.
Saya bisa berjalan sangat pelan dan tetap menuju ke depan.
Yang membuat saya panik ternyata bukan arahnya.
Dari mana rasa itu datang
Saya menilai hari saya dari seberapa banyak yang terlewati. Berapa jauh saya berjalan. Berapa banyak yang selesai.
Jadi begitu lajunya turun, angkanya turun. Dan saya membaca itu sebagai kemunduran.
Padahal cuma angkanya yang turun. Yang turun ukurannya, bukan hidupnya.
Masalahnya saya tidak punya ukuran yang lain. Jadi tiap kali laju saya turun, saya tidak tahu lagi hari itu bagus atau tidak.
Harganya kelihatan waktu saya coba mengingat
Saya sudah sering ke danau itu.
Tapi saya tidak ingat satu pun sore di sana. Yang saya ingat cuma hasilnya — video jadi, atau langkah terkejar.
Saya punya banyak sore di sana, dan tidak satu pun jadi milik saya.
Apa yang berubah
Minggu lalu saya ke sana tanpa membawa apa-apa. Tidak ada rencana konten, tidak ada target langkah.
Lima menit pertama saya sangat tidak nyaman. Rasanya seperti sedang bolos — padahal tidak ada yang saya bolosi.
Lalu pelan-pelan rasa itu hilang, dan saya tidak sadar kapan.
—
Saya tidak sedang bilang pelan itu selalu benar. Ada hal yang memang harus cepat, dan saya masih mengejar itu.
Tapi saya berhenti mengukur maju dengan kecepatan.
Sekarang kalau sedang pelan, saya tidak bertanya kenapa saya selambat ini. Saya bertanya: ini masih ke arah yang sama tidak?
Dan biasanya jawabannya iya.