Posted in

Disiplin yang Nggak Bikin Capek

Memasak di dapur apartemen di Jenewa

Saya masak hampir tiap hari.

Bukan masak yang susah. Nasi, satu lauk, selesai. Dan itu jalan terus tanpa saya paksa.

Padahal daftar niat saya yang lain berguguran semua.

Alasannya bukan yang saya kira

Kalau cuma soal lapar, saya bisa beli. Di sini banyak yang jual, dan saya pernah mencoba beli terus.

Yang membuat saya kembali memasak juga bukan hemat. Itu alasan yang saya karang belakangan, supaya kedengarannya masuk akal.

Yang saya suka ternyata bagian yang paling tidak penting: bunyi air waktu beras dicuci, uap yang naik waktu tutup pancinya dibuka, dan dapur yang jadi berbau sesuatu — walaupun cuma sebentar.

Kecil sekali. Tapi yang kecil itu yang menempel.

Rutin dan terpaksa itu dua hal yang berbeda

Saya tidak pernah menunda memasak. Saya menunda semua hal yang saya anggap penting.

Dan dari situ saya mengerti bedanya dengan daftar niat yang gagal.

**Rutin itu jalan karena ada yang saya suka di dalamnya. Terpaksa itu jalan karena ada yang saya takutkan di belakangnya.**

Dua-duanya sampai. Yang satu bicara soal hasilnya, yang satu bicara soal ongkosnya. Dan yang satu meninggalkan saya kosong.

Niat saya yang lain memang lahir dari takut

Belajar bahasa saya mulai karena takut ketinggalan. Saya mulai lari karena takut pada angka timbangan.

Dua-duanya jalan dua minggu, lalu berhenti.

Rasa takut memang membuat saya mulai lebih cepat. Tapi berhentinya juga lebih cepat.

Dan saya lama sekali salah membaca tandanya

Tiap ada kebiasaan yang gagal, saya pikir saya kurang disiplin. Jadi saya menaikkan tekanannya. Saya membuat aturan yang lebih ketat.

Padahal yang kurang bukan tekanannya. Yang kurang alasan yang saya suka.

Saya tidak sedang bilang semuanya harus menyenangkan. Ada hal yang memang harus dipaksa, dan saya tidak mau berpura-pura tidak.

Apa yang berubah

Yang saya ubah cuma satu: saya berhenti menambah aturan lebih dulu.

Sekarang tiap mau memulai kebiasaan baru, saya cari dulu bagian kecilnya. Bagian yang saya tunggu, bukan yang saya selesaikan. Kalau tidak ketemu, saya tidak mulai.

Itu memang bisa jadi alasan untuk malas. Makanya saya tetap memasak juga waktu sedang malas.

Tadi malam saya memasak lagi, menu yang sama. Tidak ada yang istimewa, dan tidak ada yang saya unggah.

Cuma bunyi air, uap, dan dapur yang berbau sesuatu.

Besok saya memasak lagi, dan saya tidak perlu niat untuk itu.

Itu satu-satunya disiplin saya yang tidak minta bayaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *