Posted in

Semua Kelihatan Lebih Cepat dari Saya

Place des Nations di Jenewa dengan orang-orang berjalan di kejauhan

Ada satu tempat yang membuat saya selalu merasa paling lambat: stasiun, jam berangkat kerja.

Semua orang jalannya cepat, dan tidak ada yang melihat ke atas. Mereka tidak membaca papan. Mereka sudah tahu.

Kebiasaan yang belum saya punya

Itu bukan kecerdasan, itu kebiasaan. Dan kebiasaan itu yang belum saya punya.

Saya masih yang berhenti sebentar untuk memastikan. Dan berhenti sebentar itu membuat saya terlihat berbeda dari yang lain.

Lalu saya lanjut membandingkan

Saya tidak berhenti di situ. Orang seumuran saya di sini sudah punya apa. Yang datang bersamaan dengan saya sudah bisa apa. Yang seangkatan saya di kantor sudah mengerjakan apa.

Padahal tidak ada yang meminta saya mengukur. Kepala saya membandingkan sendiri, tanpa saya suruh.

Dua hal yang saya campur

Lalu saya sadar saya mencampur dua hal yang berbeda.

Terlambat itu ada waktunya, dan saya lewat. Tertinggal itu semuanya masih jalan, cuma saya lebih pelan.

Terlambat itu pintu yang sudah menutup. Tertinggal itu pintu yang masih terbuka, tapi antrinya panjang.

Bedanya penting: yang satu sudah selesai, yang satu belum. Dan yang belum selesai itu masih bisa saya kerjakan.

Hampir semua yang saya takutkan itu jenis kedua

Tidak ada satu pun yang benar-benar menutup.

Saya cuma melihat punggung orang, lalu saya kira saya ketinggalan kereta. Padahal keretanya belum berangkat. Saya cuma sedang di belakang.

Di belakang itu posisi. Ketinggalan itu kesimpulan. Dan kesimpulan itu saya tarik sendiri, setiap pagi.

Harganya

Salah membacanya membuat lelah, karena saya jadi buru-buru terus. Mengambil keputusan cepat supaya kelihatan tidak ketinggalan.

Dan keputusan yang diambil karena panik jarang bagus. Saya pernah mengambil beberapa cuma karena orang lain sudah mengambil duluan — bukan karena saya butuh, tapi karena saya takut ketinggalan.

Bagaimana caranya berhenti membandingkan? Saya belum tahu. Saya belum pernah berhasil.

Yang saya bisa cuma menanyakan satu hal ke diri sendiri: ini pintunya sudah menutup, atau antrinya saja yang panjang?

Sejauh ini jawabannya selalu yang kedua.

Kemarin saya di stasiun lagi, jam yang sama. Orang-orang tetap lebih cepat dari saya. Saya tetap yang berhenti sebentar untuk memastikan.

Bedanya kemarin saya tidak buru-buru menyusul.

Saya masih di barisan yang sama. Antrinya saja yang panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *