Posted in

Rencana Penuh Bukan Berarti Tahu Arah

Papan keberangkatan di Gare Cornavin, Jenewa

Ada papan besar di Gare Cornavin. Isinya nama kota, jam berangkat, sama nomor peron. Gue suka berdiri di depannya sebentar, walaupun keretanya bukan buat gue.

Yang bikin gue berhenti di situ

Bukan karena papan begitu bikin pengen pergi. Yang bikin gue berhenti itu betapa pastinya semua angka di papan itu.

Jam segini, peron segini, sampai jam segitu. Nggak ada satu pun yang ditulis kira-kira.

Dan hidup gue di sini juga kelihatannya begitu. Gue tau tram nomor berapa yang gue naik tiap pagi. Gue tau jam berapa harus keluar biar nggak ketinggalan. Gue tau hari apa cucian harus dibawa keluar. Semuanya rapi, dan semuanya jalan.

Pertanyaan yang nggak ada jawabannya

Terus suatu sore ada yang nanya ke gue, pertanyaan biasa aja.

Rencananya di sini sampai kapan.

Dan gue nggak punya jawabannya.

Nggak salah sih. Tapi gue kaget sama diri gue sendiri — karena gue bisa jawab semua pertanyaan yang lebih kecil. Besok naik apa, minggu depan ngapain, bulan depan bayar apa. Yang paling besar justru yang paling kosong.

Kenapa bisa begitu

Selama ini gue ngisi hidup gue pakai jadwal. Jadwal itu enak, karena dia ngasih rasa aman tiap hari. Tiap kali gue ngerjain yang sesuai jadwal, gue ngerasa lagi maju.

Itu bagus. Tapi disiplin itu ngukur langkah, bukan arah.

Papan besar di stasiun itu juga sebenernya begitu. Dia ngasih tau jam berapa keretanya berangkat. Dia nggak ngasih tau lo harus naik yang mana.

Dua hal yang sering ketuker

Rencana itu soal langkah berikutnya. Arah itu soal ke mana semua langkah itu ngumpul.

Dan gue punya banyak banget yang pertama — sampai gue nggak pernah kepikiran ngecek yang kedua.

Buat orang yang pindah ke negara lain, ini gampang kejadian. Bulan-bulan pertama habis buat menyusun sistem: cara belanja, cara bayar, cara berangkat, cara pulang. Waktu semuanya akhirnya jalan, rasanya seperti sudah sampai di suatu tempat.

Padahal yang selesai baru sistemnya.

Bukan berarti harus punya jawabannya sekarang

Gue nggak lagi maksa diri gue buat tau mau ke mana. Gue cuma nggak mau lagi ngira jadwal yang penuh itu artinya gue tau mau ke mana.

Kemarin gue lewat papan itu lagi. Gue baca satu nama kota yang belum pernah gue datengin. Gue nggak naik keretanya — gue cuma baca namanya lebih lama dari biasanya.

Ini episode terakhir Musim 1 dari serial Jadi Orang Lain, catatan soal jadi orang asing di Jenewa. Video lengkapnya ada di atas, atau di kanal Suisse Diaries ID.

Lo bisa jawab semua pertanyaan kecil tentang hidup lo, tapi mentok di yang paling besar? Cerita di kolom komentar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *