Posted in

Tempat Tinggal Bukan Berarti Rumah

Kamar apartemen di Jenewa

Gue tinggal di lantai lima. Kuncinya jalan, kompornya nyala, air panasnya keluar. Semua yang bikin sebuah tempat bisa ditinggalin, ada.

Satu benda yang nggak ada

Di apartemen ini nggak ada tempat nyuci baju. Jadi tiap minggu, baju gue keluar dari gedung ini. Gue masukin ke tas, gue bawa jalan, gue cuci di tempat orang.

Di sini itu wajar, dan gue nggak protes. Tapi coba pikir sebentar: **ada satu bagian dari hidup gue yang nggak muat di dalam rumah gue sendiri.** Dan tiap minggu, bagian itu harus dititipin ke luar.

Begitu gue lihat polanya, gue mulai lihat pola yang sama di tempat lain.

Bau yang nggak pernah sempat tinggal

Gue masak hampir tiap hari. Nasi, selalu. Udah bertahun-tahun gue coba lepas dari nasi, dan gue kalah terus.

Harusnya itu tanda rumah, kan. Ada bau masakan.

Tapi di sini ada penyedot di atas kompor, dan dia kerja bagus banget. Baunya naik, ditarik, hilang. Gue keluar ke koridor lima menit setelah masak, dan koridornya netral. Nggak ada jejak apa-apa.

Di rumah gue dulu, bau masakan nempel sampai besok pagi. Tetangga tau kita masak apa. Kadang mereka nanya resepnya.

Itu Indonesia, dan ini bukan soal mana yang lebih enak. Gue cuma lagi nyari, apa sebenarnya yang bikin sebuah tempat berubah jadi rumah.

Jawabannya bukan barang

Barangnya udah lengkap. Piring ada, panci ada, lemari penuh. Kalau rumah itu soal kelengkapan, harusnya urusannya selesai dari dulu.

Ternyata bukan itu. Yang bikin sebuah tempat jadi rumah adalah **bekas yang ketinggalan**.

Rumah itu tempat yang berubah karena lo tinggal di situ. Yang dindingnya kena minyak,

yang lantainya hafal langkah lo.

Apartemen gue nggak berubah sedikit pun sejak hari pertama.

Dan itu bukan salahnya

Bagian ini yang paling lama gue cerna. Apartemen ini dirawat supaya begitu.

Tiap yang gue tinggalin, ada sistem yang ngerapiin. Bau masakan ditarik penyedot. Cucian dikirim ke luar. Sampahnya dipisah dan diangkut tiap pagi. Semuanya bekerja persis seperti seharusnya.

Kalau gue pindah besok, butuh setengah hari buat ngembaliin dia kayak semula.

Buat orang yang tinggal sementara, ini justru nyaman — nggak ada yang perlu dibersihin waktu pergi. Tapi kalau lo diam-diam berharap tempat itu jadi rumah, sistem yang sama bekerja melawan lo, tanpa niat jahat sama sekali.

Dua hal yang sering ketuker

Tempat tinggal itu soal semua yang lo butuh tersedia. Rumah itu soal ada yang

tertinggal di situ karena lo ada.

Dan gedung ini dibikin supaya nggak ada yang tertinggal.

Yang gue lakukan tadi malam

Tadi malam gue masak lagi. Nasi lagi. Penyedotnya gue matiin lebih cepat dari biasanya.

Baunya sempat tinggal sebentar di dapur. Cuma sebentar.

Tapi malam itu tempatnya kerasa beda.

Ini bagian dari serial Jadi Orang Lain, catatan soal jadi orang asing di Jenewa. Video lengkapnya ada di atas, atau di kanal Suisse Diaries ID.

Ada benda yang nggak ada di tempat tinggal lo, dan lo baru sadar itu yang bikin bedanya? Cerita di kolom komentar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *