Posted in

Kenapa Banyak Kata Indonesia Ternyata dari Bahasa Belanda? Saya Cari Tahu di Amsterdam

Saya sedang berdiri di pinggir kanal Amsterdam, di salah satu titik di pusat kota, dekat Stasiun Centraal. Saya dengar dua orang Belanda berbincang di sebelah saya. Cuma percakapan biasa soal kereta. Tapi saya mendengar satu kata yang membuat saya berhenti sejenak: “spur.”

Spur. Kalau kamu orang Indonesia, kamu pasti pernah dengar kata “sepur” — sebutan untuk kereta api di Jawa. Saya selalu mengira itu kata Jawa asli. Ternyata bukan. Itu kata serapan Bahasa Belanda, yang sudah hidup di lidah orang Indonesia selama hampir empat abad — dan saya baru benar-benar paham itu setelah berdiri di tanah Belanda sendiri.

Setelah dua tahun tinggal di Jenewa, Swiss, saya akhirnya menyempatkan diri menyeberang ke Belanda. Dan satu hari di Amsterdam mengubah cara saya melihat Bahasa Indonesia. Di artikel ini saya mau ajak kamu jalan-jalan singkat ke kota itu — sambil membongkar kenapa banyak kosakata Bahasa Indonesia ternyata berasal dari Belanda, dan kenapa itu penting buat kita pahami sebagai orang Indonesia.


Kantor, Gratis, Sepur — Kata Sehari-hari yang Bukan Asli Indonesia

Mari kita mulai dari yang paling familiar.

Coba kamu sebut sepuluh kata yang kamu pakai sehari-hari di Indonesia: kantor, gratis, koran, sepatu, handuk, bangku, knalpot, polisi, kamar, balai kota. Sepuluh kata itu — semuanya — bukan Bahasa Indonesia asli. Semuanya kata serapan Bahasa Belanda.

  • Kantor dari kantoor
  • Gratis dari gratis (sama tulisannya, dipakai sama persis)
  • Koran dari krant
  • Sepatu dari schoen… (well, ini ada perdebatan, tapi banyak juga yang melalui jalur Belanda)
  • Handuk dari handdoek
  • Bangku dari bank
  • Knalpot dari knalpot (lagi-lagi, tulisan sama)
  • Polisi dari politie
  • Kamar dari kamer
  • Balai kota dari stadhuis — yang ini bahkan struktur kata-katanya kita terjemahkan langsung

Saya baca penelitian linguistik yang menyebutkan ada lebih dari 5.000 kata Bahasa Indonesia yang merupakan kata serapan Bahasa Belanda. Lima ribu. Itu bukan angka kecil. Itu adalah jejak yang membuat Bahasa Indonesia kita “berbau” Belanda tanpa kita sadari.

Tapi yang lebih menarik bukan jumlahnya. Yang menarik adalah: kenapa? Kenapa Bahasa Belanda mengakar sedalam ini dalam keseharian kita, sampai sekarang, di 2026, kamu tetap akan bilang “saya mau ke kantor” tanpa pernah mempertanyakan asal kata “kantor” itu?


Amsterdam vs Jenewa: Kesan Pertama yang Bikin Saya Sadar

Sebagai orang Indonesia yang sudah dua tahun terbiasa dengan kerapian Jenewa, kesan pertama saya soal Amsterdam jujur agak mengejutkan.

Amsterdam tidak sebersih Jenewa. Itu hal pertama yang menampar saya begitu keluar dari Centraal Station. Bukan kotor — saya tidak bisa bilang kotor — tapi standar kebersihan harian Jenewa membuat saya kaget ketika lihat sampah yang tidak terurus di pinggir kanal, grafiti di mana-mana, kerumunan turis yang berseliweran dengan sepeda.

Tapi yang membuat saya tertegun bukan soal kebersihan. Yang membuat saya tertegun adalah: wajah-wajah Asia di mana-mana.

Di Jenewa, saya bisa berjalan satu jam tanpa berpapasan dengan satu pun orang Asia Tenggara. Di Amsterdam, dalam lima menit pertama, saya berpapasan dengan setidaknya tiga keluarga yang mukanya mirip orang Indonesia. Bukan kebetulan. Ini adalah jejak demografis yang dibangun selama tiga setengah abad hubungan kolonial — orang Indonesia, Suriname, dan keturunan Indo-Belanda yang menetap di kota ini sejak lama, ditambah gelombang migrasi dan turis baru.

Perbandingan Amsterdam vs Jenewa dari mata orang Indonesia ini, buat saya, adalah pengingat: dua kota Eropa bisa terasa sangat berbeda karena sejarah masing-masing menghubungkannya dengan dunia kita dengan cara yang berbeda. Jenewa adalah jantung diplomasi internasional yang netral. Amsterdam adalah ibukota mantan kekuatan kolonial yang dunia kita dulu pernah jadi bagiannya.


VOC 300 Tahun: Kenapa Bahasa Belanda Mengakar Sedalam Ini

Mari kita zoom out sebentar dan masuk ke sejarahnya.

Antara tahun 1602 dan 1799, ada satu perusahaan dagang yang mengontrol perdagangan rempah dari Nusantara: Vereenigde Oostindische Compagnie, atau VOC — Kompeni dalam istilah lokal. Hampir 200 tahun VOC berkuasa, dilanjutkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda sampai 1949. Total: hampir 350 tahun orang Belanda mengelola tanah kita.

Dan di setiap masa itu, mereka membawa kosa kata mereka. Untuk hal-hal yang baru — kereta api, kantor pemerintahan, polisi, surat kabar, dokter, sekolah — Belanda menyodorkan kata Belanda. Kita serap. Kita ucapkan. Lambat laun, kata-kata itu menjadi “milik kita.” Kita tidak lagi merasa itu kata asing.

Saya berjalan menyusuri jembatan-jembatan Amsterdam — banyak di antaranya dibangun pada abad 18 dan 19, persis di tengah era VOC dan kolonial Hindia Belanda. Saat saya menyentuh batu jembatan itu, sulit untuk tidak berpikir: “Saat batu ini dipasang, di Nusantara mungkin sedang terjadi perlawanan, atau perdagangan rempah, atau orang Indonesia pertama yang mulai memakai kata ‘kantor’ untuk menyebut tempat kerjanya.”

Itu yang membuat jejak VOC bukan sekadar pelajaran sejarah yang abstrak. Itu adalah sesuatu yang masih kamu ucapkan, hari ini, setiap kali kamu bilang “saya mau ke kantor” atau “kasih bangku itu kemari.”


Patung Multatuli — Suara Kritis dari Dalam Belanda Sendiri

Di tengah perjalanan, saya berhenti di sebuah jembatan kecil. Di sana ada patung Multatuli.

Untuk yang belum familiar: Multatuli adalah nama pena Eduard Douwes Dekker, seorang pegawai pemerintah kolonial Belanda yang menulis novel Max Havelaar di tahun 1860. Novel itu mengkritik habis-habisan praktik tanam paksa dan sistem kolonial yang menyengsarakan petani di Jawa.

Yang menarik: dia orang Belanda. Tapi dia yang paling keras menyuarakan ketidakadilan terhadap orang Indonesia. Bukunya bahkan jadi salah satu pemicu reformasi kebijakan kolonial Belanda.

Patungnya berdiri kecil dan tenang, hampir luput dari perhatian turis yang lewat. Tapi buat orang Indonesia yang lewat dan tahu konteksnya, itu adalah momen reflektif. Bahwa sejarah Indonesia-Belanda tidak hitam-putih — ada penindasan, ya, tapi juga ada suara-suara dari dalam yang berusaha mengoreksi penindasan itu.

Dan kata serapan Bahasa Belanda yang kita pakai hari ini adalah salah satu warisan dari hubungan yang rumit itu. Bukan hanya soal “siapa menjajah siapa” — tapi soal bagaimana dua budaya berinteraksi selama tiga abad, dan jejaknya tertinggal di lidah kita.


Plot Twist: “Istana” di Dam Square Ternyata Dulu Balai Kota

Saya tutup perjalanan saya di Dam Square, alun-alun utama Amsterdam.

Di sana ada bangunan besar yang menjulang — namanya sekarang Koninklijk Paleis alias Royal Palace. Tempat tinggal resmi Raja Belanda. Saya berdiri di depannya selama beberapa menit, kagum dengan struktur masifnya.

Lalu saya iseng baca tulisan di plakat di samping bangunan.

Plot twist: bangunan ini bukan istana sejak awal. Dulunya, gedung ini adalah stadhuis — balai kota. Dibangun di abad ke-17 saat Amsterdam berada di puncak kejayaan dagangnya. Baru di abad ke-19, di era Napoleon, fungsinya diubah jadi istana.

Ini moment “aha” terakhir saya hari itu. Bahkan bangunan yang terlihat seperti istana, yang berasa seperti istana, yang difungsikan sebagai istana sekarang — sebenarnya pada awalnya adalah balai kota. Sebuah gedung pemerintahan lokal. Sebuah stadhuis. Yang, kalau kamu lihat strukturnya, kata “balai kota” dalam Bahasa Indonesia adalah terjemahan langsung dari istilah Belandanya.

Lapisan demi lapisan. Bahasa, sejarah, fungsi — semuanya saling tumpang tindih.


Kesimpulan: Indonesia di Lidah, Belanda di Akar

Pulang ke Jenewa, saya berpikir: kita orang Indonesia sering bangga dengan Bahasa Indonesia. Dan memang seharusnya bangga. Tapi Bahasa Indonesia yang kita pakai sehari-hari bukan murni “asli” Indonesia. Ia adalah hasil ratusan tahun pertemuan, gesekan, dan serapan dengan banyak budaya — terutama Belanda.

Dan saya pikir, itu bukan hal yang perlu kita sembunyikan atau malukan. Justru sebaliknya: itu bukti kekayaan sejarah kita. Bukti bahwa Indonesia adalah bangsa yang pernah, sedang, dan akan terus berdialog dengan dunia luar. Kosakata yang kita serap adalah peninggalan dialog itu.

Yang penting adalah kita sadar. Sadar bahwa setiap kali kamu bilang “saya berangkat ke kantor naik sepur,” kamu sedang mengucapkan dua kata yang lahir di Eropa Barat 400 tahun yang lalu, lalu menyeberangi samudera, lalu menetap di lidah generasi demi generasi orang Indonesia, sampai akhirnya tiba di mulutmu pagi ini.

Itu menurut saya luar biasa.

🎬 Video Lengkapnya

Saya rekam seluruh perjalanan ini — dari pinggir kanal Centraal Station, lewat patung Multatuli, sampai ke Dam Square — dalam satu video. Termasuk reaksi langsung saya saat pertama kali sadar soal “spur = sepur” itu, dan obrolan singkat dengan orang Ghana yang juga sedang turis di Amsterdam.

Kalau kamu mau lihat sendiri perjalanannya, tonton di sini:

👉 https://youtu.be/EQGM5voJqUE

Jangan lupa subscribe ke channel Suisse Diaries ID kalau kamu suka konten soal kehidupan orang Indonesia di Eropa, cerita budaya, dan cara berpikir Eropa dari sudut pandang kita. Setiap minggu ada video baru.

Dan kalau kamu tahu kata serapan Bahasa Belanda lain yang sering dipakai sehari-hari di Indonesia tapi jarang dibahas, tulis di kolom komentar YouTube — saya bakal kompilasi jadi episode lanjutan. Ada beberapa yang sudah saya catat (kompor, korting, sopir, asbak, brankas, persneling…), tapi saya yakin kamu tahu banyak yang belum saya temukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *