Tentang membandingkan diri dengan orang lain

Timbangan dengan lingkaran di satu sisi dan persegi di sisi lain

Ada satu kebiasaan yang saya lakukan hampir tanpa sadar: mengukur diri dengan orang lain. Seseorang menceritakan pencapaiannya, dan sebelum sempat ikut senang, kepala saya sudah sibuk berhitung. Dia sudah sampai di sana, saya masih di sini. Dia bisa, saya belum. Hitungan itu berlangsung cepat sekali, dan hasilnya hampir selalu sama: saya merasa tertinggal.

Tulisan ini bukan tentang cara berhenti membandingkan diri. Saya belum berhasil berhenti, dan saya ragu apakah itu mungkin. Ini catatan tentang apa yang saya pelajari setelah lama memperhatikan kebiasaan itu: dari mana datangnya, kapan ia merugikan, kapan ia justru berguna, dan apa yang saya lakukan ketika ia muncul lagi.

Perbandingan datang tanpa diundang

Dulu saya mengira membandingkan diri adalah tanda ada yang salah dengan saya. Kurang bersyukur, kurang percaya diri, kurang dewasa. Karena itu setiap kali perasaan itu muncul, saya menambahkan satu beban lagi di atasnya: rasa bersalah karena merasakannya.

Sekarang saya melihatnya dengan lebih santai. Membandingkan adalah cara paling cepat yang dimiliki kepala saya untuk menjawab pertanyaan “saya ini sedang di mana?”. Tanpa pembanding, pertanyaan itu sulit dijawab. Jadi wajar kalau kepala mengambil pembanding yang paling dekat, yaitu orang-orang di sekitar saya.

Masalahnya bukan pada kegiatan membandingkan itu sendiri. Masalahnya ada pada apa yang dibandingkan dan apa yang saya simpulkan sesudahnya.

Mengetahui hal itu saja sudah meringankan. Saya tidak perlu lagi memarahi diri sendiri setiap kali perasaan itu lewat. Saya cukup memperhatikannya, seperti memperhatikan cuaca, lalu memutuskan apa yang mau saya lakukan dengannya.

Saya membandingkan dua hal yang tidak setara

Tentang diri sendiri, saya tahu semuanya. Saya tahu berapa kali saya ragu, berapa banyak yang saya tunda, bagian mana yang saya kerjakan asal-asalan, dan betapa berantakannya proses di balik setiap hasil. Tentang orang lain, saya hanya tahu apa yang mereka tunjukkan, dan orang biasanya menunjukkan bagian yang sudah rapi.

Gunung es dengan puncak kecil di atas garis air dan badan besar di bawahnya
Yang tampak dari orang lain hanya puncaknya. Tentang diri sendiri, saya melihat semuanya sampai ke dasar.

Jadi yang saya bandingkan sebenarnya adalah dapur saya dengan ruang tamu orang lain. Tentu saja dapur saya kalah rapi. Kesimpulan “saya lebih buruk” lahir dari timbangan yang sejak awal sudah miring.

Ada satu ketimpangan lagi yang lama tidak saya sadari. Saya jarang membandingkan diri dengan satu orang secara utuh. Saya mengambil kelebihan orang pertama, ketekunan orang kedua, keberuntungan orang ketiga, lalu menggabungkan semuanya menjadi satu sosok yang tidak pernah ada. Melawan sosok rekaan seperti itu, siapa pun pasti kalah.

Saya juga sering lupa soal waktu. Orang yang saya jadikan pembanding mungkin sudah menekuni hal itu jauh lebih lama, memulai dari tempat yang berbeda, atau memikul beban yang tidak saya ketahui. Membandingkan hasil tanpa melihat titik berangkat ibarat membandingkan dua pelari tanpa tahu di mana masing-masing mulai berlari.

Penggaris yang saya pinjam

Suatu kali saya merasa iri kepada seorang kenalan yang berhasil mencapai sesuatu. Rasa iri itu bertahan beberapa hari. Lalu saya bertanya kepada diri sendiri: kalau hal itu ditawarkan kepada saya hari ini, lengkap dengan semua yang harus dikorbankan untuk mendapatkannya, apakah saya mau? Jawaban jujurnya ternyata tidak.

Di situ saya sadar bahwa saya sedang mengukur hidup saya dengan penggaris milik orang lain. Saya merasa kalah dalam perlombaan yang tidak pernah saya daftari, dan hadiahnya pun tidak saya inginkan.

Satu balok diukur dengan dua penggaris yang jarak garisnya berbeda
Setiap orang memegang penggaris yang berbeda. Angka di penggaris orang lain belum tentu berarti apa-apa bagi saya.

Sejak itu, setiap kali rasa tertinggal muncul, saya mencoba memeriksa penggarisnya lebih dulu. Apakah ini memang hal yang saya inginkan, atau hanya hal yang tampak mengesankan? Dua hal itu sering tertukar. Hal yang mengesankan mudah dikenali karena banyak orang bertepuk tangan. Hal yang benar-benar saya inginkan kadang sepi, dan justru karena sepi ia mudah saya lupakan.

Kapan membandingkan justru berguna

Saya tidak ingin berpura-pura bahwa semua perbandingan itu buruk. Sebagian justru menolong saya. Bedanya terletak pada pertanyaan yang saya ajukan ketika melihat orang lain.

  • “Kenapa dia bisa dan saya tidak?” Pertanyaan ini berakhir pada penilaian tentang diri saya, dan hampir tidak pernah menghasilkan apa-apa selain murung.
  • “Apa yang dia lakukan, yang belum saya lakukan?” Pertanyaan ini berakhir pada sesuatu yang bisa saya coba besok pagi.
  • “Bagian mana dari jalannya yang cocok untuk saya?” Pertanyaan ini mengingatkan saya bahwa saya boleh mengambil sebagian saja, tidak harus menyalin seluruhnya.

Dengan pertanyaan kedua dan ketiga, orang lain berubah dari hakim menjadi petunjuk arah. Mereka menunjukkan bahwa sesuatu itu mungkin dilakukan, dan kadang memperlihatkan caranya. Itu pemberian yang berharga, asal saya tidak buru-buru mengubahnya menjadi vonis tentang diri sendiri.

Tanda yang saya pakai sederhana. Kalau setelah melihat seseorang saya jadi ingin mengerjakan sesuatu, perbandingan itu berguna. Kalau setelahnya saya justru ingin berhenti, ada yang perlu diperiksa.

Ada satu jenis perbandingan lagi yang jarang saya akui, yaitu ketika saya merasa lebih baik daripada orang lain. Rasanya menyenangkan, tetapi akarnya sama. Saya tetap sedang menggantungkan penilaian tentang diri saya pada posisi orang lain, dan penilaian seperti itu mudah sekali runtuh begitu saya bertemu seseorang yang lebih jauh di depan.

Yang saya lakukan ketika perasaan itu datang

Perasaan tertinggal tetap datang, biasanya pada saat yang tidak saya duga. Saya tidak lagi berusaha mengusirnya. Yang saya lakukan kurang lebih seperti ini:

  1. Mengakuinya dengan terus terang. Saya katakan dalam hati, “saya sedang iri”. Anehnya, perasaan yang diberi nama biasanya mengecil sendiri.
  2. Memeriksa apa yang sebenarnya saya lihat. Apakah saya tahu prosesnya, atau hanya hasil akhirnya? Hampir selalu hanya hasil akhirnya.
  3. Bertanya apakah saya sungguh menginginkannya. Kalau tidak, saya lepaskan. Kalau iya, rasa iri itu berubah menjadi informasi tentang apa yang penting bagi saya.
  4. Mencari satu langkah kecil. Bukan rencana besar untuk mengejar, cukup satu hal yang bisa saya kerjakan hari ini.
  5. Kembali ke pekerjaan saya sendiri. Rasa tertinggal paling cepat reda bukan saat saya memikirkannya, melainkan saat tangan saya sibuk lagi.

Urutan ini tidak selalu berhasil. Ada hari ketika saya tetap murung sampai malam. Tetapi dibanding dulu, waktu yang saya habiskan untuk merasa kecil sudah jauh lebih pendek.

Pembanding yang paling adil

Kalau memang harus ada pembanding, yang paling adil adalah diri saya yang kemarin. Dia memulai dari titik yang sama, membawa keterbatasan yang sama, dan menempuh jalan yang sama dengan saya. Tidak ada orang lain yang memenuhi syarat itu.

Seseorang di ujung jalur menanjak, dengan penanda titik berangkat di belakangnya
Jarak yang paling jujur untuk diukur adalah jarak dari titik saya berangkat.

Karena itu saya menyimpan jejak. Catatan lama, hasil kerja lama, hal-hal yang dulu terasa sulit. Ketika merasa tidak ke mana-mana, saya membukanya kembali. Hampir selalu saya menemukan bahwa hal yang dulu membuat saya pusing kini saya kerjakan tanpa berpikir. Kemajuan semacam itu tidak terlihat dari hari ke hari, dan tidak akan pernah terlihat kalau mata saya terus tertuju ke jalur orang lain.

Ada satu catatan kecil. Membandingkan diri dengan diri yang kemarin pun bisa berubah menjadi tuntutan baru, seolah setiap hari harus lebih baik daripada hari sebelumnya. Itu tidak realistis. Ada masa ketika saya mundur, dan ada masa ketika saya hanya bertahan. Yang saya cari bukan garis yang terus naik, melainkan arah yang secara umum benar.

Penutup

Saya masih membandingkan diri dengan orang lain, dan mungkin akan terus begitu. Yang berubah adalah apa yang saya lakukan sesudahnya. Saya berusaha ingat bahwa saya hanya melihat sebagian kecil dari hidup orang lain, bahwa penggaris mereka belum tentu penggaris saya, dan bahwa tugas saya adalah melanjutkan jalan saya sendiri.

Orang lain boleh menjadi petunjuk arah, tetapi tidak perlu menjadi garis akhir saya.

Kalau hari ini Anda sedang merasa tertinggal, cobalah satu hal saja: lihat ke belakang sebentar, ke titik tempat Anda dulu memulai. Kemungkinan besar jaraknya lebih jauh daripada yang Anda kira.

Bagaimana dengan Anda? Dalam hal apa Anda paling sering membandingkan diri, dan apa yang membantu Anda kembali ke jalur sendiri? Tulis di kolom komentar. Saya ingin membacanya.

LF

Ditulis oleh

Lukman Fajar

Menulis tentang belajar, bekerja, dan berpikir. Tentang saya โ†’

YouTube ยท Instagram

โ† Sebelumnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *