Posted in

Yang Ditunda Bukan Berarti Hilang

Lorong rak di supermarket Jenewa

Ada satu rak di toko yang saya lewati tiap minggu.

Saya selalu melihat, dan saya tidak pernah mengambil. Tiap kali saya bilang ke diri sendiri: nanti saja.

Lalu minggu lalu saya lewat lagi, dan saya tidak melihat.

Saya tidak pernah memutuskan untuk tidak mengambil

Saya cuma menunda, lalu menunda lagi. Dan di suatu titik dia pindah sendiri — dari daftar belum, ke daftar nggak jadi.

Pindahnya kapan? Saya tidak tahu, dan saya tidak diajak.

Keputusan paling besar di kepala saya diambil tanpa rapat.

Padahal dua daftar itu berbeda jauh

Tertunda itu masih punya tanggal. Batal itu sudah tidak punya.

Yang satu menunggu, yang satu sudah pulang.

Yang berat bukan tidak terjadinya — tapi saya keburu mengubur. Saya menutup pintu yang sebenarnya masih terbuka.

Kenapa saya buru-buru

Menyimpan sesuatu di daftar belum itu ada ongkosnya. Tiap kali terpikir, saya harus menjawab: kapan.

Lebih enteng bilang nggak jadi, karena itu tidak bertanya balik.

Jadi buru-buru menutup itu bukan menyerah — itu menghemat tenaga. Dan itu lumayan curang: saya memberi diri saya tenang, tapi saya membayar pakai barangnya. Dan yang saya bayar selalu hal yang saya inginkan.

Harganya kelihatan waktu saya coba hitung

Ada beberapa hal yang saya anggap sudah lewat. Waktu saya periksa satu per satu, sebagian besar sebenarnya masih bisa.

Bukan gampang. Cuma masih ada.

Lalu kenapa tidak dikerjakan? Karena di kepala saya barang itu sudah tidak ada. Itu yang paling membuat saya diam — bukan waktunya yang habis.

Apa yang berubah

Yang saya ubah kecil, dan agak administratif.

Saya berhenti bilang nggak jadi kalau saya belum memutuskan. Kalau saya menunda, saya tulis menunda, beserta tanggalnya. Kalau saya memang membatalkan, saya batalkan betulan, sadar-sadar.

Dua-duanya boleh. Yang tidak boleh yang diam-diam — karena yang diam-diam itu selalu memilih batal.

Minggu ini saya lewat rak itu lagi. Saya tetap tidak mengambil, dan itu tidak apa-apa.

Bedanya sekarang saya tahu kenapa, dan saya tahu sampai kapan.

Yang saya benahi bukan barangnya. Yang saya benahi cara saya menyimpan.

Belum itu bukan kabar buruk. Belum itu cuma belum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *