Kenapa mengajarkan sesuatu adalah cara belajar terbaik

Dua figur sederhana berhadapan, satu berbicara lewat balon percakapan hijau berisi bentuk-bentuk dasar

Ada satu pengalaman yang berulang kali terjadi pada saya. Saya merasa sudah paham sesuatu, lalu seseorang meminta saya menjelaskannya. Di kalimat ketiga saya mulai tersendat. Di kalimat kelima saya sadar bahwa yang saya miliki bukan pemahaman, melainkan rasa akrab dengan istilah-istilahnya.

Sejak itu saya memperlakukan mengajar sebagai bagian dari belajar, bukan sesuatu yang dilakukan setelah belajar selesai. Saya bukan guru, dan tulisan ini bukan tentang berdiri di depan kelas. Yang saya maksud dengan mengajarkan jauh lebih sederhana: berusaha membuat satu orang lain mengerti satu hal yang baru saja saya pelajari.

Paham di kepala belum tentu paham di mulut

Ketika membaca atau menonton penjelasan orang lain, semuanya mengalir. Si penjelas sudah menyusun urutan, memilih contoh, dan menutup celah. Saya tinggal mengikuti. Mengikuti itu terasa seperti mengerti, padahal keduanya berbeda.

Saya menyebutnya rasa akrab. Saya mengenali istilahnya ketika mendengarnya, saya mengangguk ketika orang membahasnya, dan saya bisa mengikuti percakapan tentangnya. Semua itu terasa meyakinkan. Tetapi mengenali sesuatu dan mampu membangunnya kembali dari awal adalah dua kemampuan yang berbeda, dan hanya yang kedua yang bisa saya andalkan ketika benar-benar membutuhkannya.

Begitu saya yang harus menjelaskan, semua pekerjaan itu pindah ke saya. Saya harus memutuskan mulai dari mana. Saya harus tahu kenapa langkah kedua datang setelah langkah pertama. Saya harus punya contoh sendiri, karena contoh dari buku sering tidak cocok dengan orang yang ada di depan saya. Di situlah lubang-lubang mulai kelihatan.

Dinding bata hijau dengan beberapa bata yang hilang, satu di antaranya ditandai garis oranye
Saat menjelaskan, bagian yang belum saya pahami tampak seperti bata yang hilang.

Lubang itu tidak menyenangkan untuk ditemukan, tetapi sangat berguna. Ia memberi tahu saya dengan tepat apa yang perlu dipelajari lagi. Tanpa mencoba menjelaskan, saya bisa lama sekali membawa lubang yang sama tanpa pernah tahu bahwa ia ada.

Menyiapkan penjelasan memaksa saya merapikan isi kepala

Manfaat mengajar sudah terasa bahkan sebelum saya membuka mulut. Ketika tahu akan menjelaskan sesuatu kepada orang lain, cara saya belajar berubah. Saya tidak lagi sekadar mengumpulkan potongan. Saya mulai mencari hubungan di antara potongan-potongan itu.

Ada tiga pertanyaan yang hampir selalu muncul saat saya menyiapkan penjelasan:

  • Apa intinya dalam satu kalimat? Kalau saya tidak bisa meringkasnya, saya belum menemukan pusatnya.
  • Apa yang harus dipahami lebih dulu? Urutan memperlihatkan mana yang fondasi dan mana yang hiasan.
  • Contoh sehari-hari apa yang paling dekat? Contoh memaksa gagasan yang abstrak turun ke tanah.

Menjawab ketiganya sering lebih melelahkan daripada mempelajari materinya. Tetapi setelah itu, pengetahuan yang tadinya berserakan terasa punya bentuk. Saya tahu mana tulang punggungnya dan mana rinciannya, dan itu membuatnya jauh lebih mudah diingat.

Menyiapkan penjelasan juga memaksa saya menyederhanakan, dan itu ujian tersendiri. Untuk menyederhanakan, saya harus tahu rincian mana yang boleh dibuang tanpa membuat penjelasannya menjadi salah. Orang yang belum paham biasanya hanya punya dua pilihan: mengulang semuanya persis seperti sumbernya, atau memotong sembarangan. Kemampuan memilih apa yang ditinggalkan baru muncul ketika saya mengerti bagaimana bagian-bagiannya saling menopang.

Pertanyaan orang lain membawa saya ke tempat yang tidak terduga

Bagian paling berharga dari mengajar justru yang tidak bisa saya siapkan: pertanyaan. Orang yang baru mendengar suatu hal akan bertanya dari arah yang tidak pernah terpikir oleh saya. “Kenapa harus begitu?” “Kalau dibalik, bagaimana?” “Apa bedanya dengan yang tadi?”

Pertanyaan semacam itu sering terdengar polos, dan justru karena polos ia mengenai dasar. Saya sudah terlalu terbiasa dengan cara pandang saya sendiri sehingga tidak lagi mempertanyakannya. Orang lain belum punya kebiasaan itu.

Dua figur dengan dua panah berlawanan arah: penjelasan ke kanan dan tanda tanya kembali ke kiri
Penjelasan pergi ke satu arah, pertanyaan kembali dari arah yang lain.

Kadang saya bisa menjawab, dan saat menjawab itulah pemahaman saya mengeras. Kadang saya tidak bisa. Dulu saya malu ketika itu terjadi. Sekarang saya menganggapnya hadiah. Saya cukup berkata, “Saya belum tahu, nanti saya cari,” lalu benar-benar mencarinya. Hampir selalu, jawaban yang saya temukan dengan cara itu saya ingat lebih lama daripada apa pun yang saya baca sendirian.

Ada satu jenis tanggapan yang paling saya hargai, yaitu ketika pendengar mengulang penjelasan saya dengan kata-katanya sendiri dan hasilnya meleset. Saat itu saya bisa melihat dengan jelas di mana kalimat saya menyesatkan. Sering kali penyebabnya bukan pendengar yang kurang teliti. Penyebabnya saya sendiri, yang melompati satu langkah karena menganggapnya sudah jelas.

Bentuk mengajar yang kecil dan sehari-hari

Mengajarkan tidak harus resmi. Hampir semua yang saya lakukan berukuran kecil dan tidak butuh panggung.

Yang paling sering adalah menulis. Setelah mempelajari sesuatu, saya menulis penjelasan pendek seolah-olah untuk teman yang belum pernah mendengarnya. Tulisan itu tidak selalu saya terbitkan. Membayangkan pembacanya saja sudah cukup untuk membuat saya lebih teliti.

Yang kedua adalah bercerita kepada orang terdekat. Bukan ceramah, hanya dua atau tiga menit di sela obrolan: “Tadi saya baru mengerti satu hal, boleh saya coba jelaskan?” Wajah bingung pendengar adalah umpan balik yang paling cepat dan paling jujur.

Yang ketiga, ketika tidak ada siapa-siapa, saya menjelaskan dengan suara keras kepada ruangan kosong. Kedengarannya aneh, dan memang agak aneh. Tetapi berbicara memaksa setiap kalimat selesai. Di dalam kepala, pikiran boleh melompat dan menggantung. Di mulut, lompatan itu terdengar.

Yang keempat adalah menjawab pertanyaan orang yang sedang mempelajari hal yang sama. Saya berusaha menjawab dengan kata-kata sendiri, tidak menyalin penjelasan orang lain. Kalau terpaksa menyalin, itu tanda saya sendiri belum mengerti.

Dari keempatnya, tidak ada yang makan waktu lama. Kebanyakan selesai dalam beberapa menit. Yang membuatnya berguna bukan lamanya, tetapi kenyataan bahwa ada orang lain, sungguhan atau bayangan, yang harus bisa mengikuti.

Tidak perlu menjadi ahli dulu

Keberatan yang paling sering saya dengar, juga dari diri sendiri, adalah: siapa saya sampai berani mengajari orang? Saya sendiri baru belajar.

Lama-lama saya melihatnya terbalik. Orang yang baru selangkah di depan sering menjadi penjelas yang baik bagi orang yang selangkah di belakangnya. Ia masih ingat bagian mana yang membingungkan. Ia masih ingat kata-kata apa yang akhirnya membuatnya mengerti. Orang yang sudah sangat mahir kadang sudah lupa bagaimana rasanya tidak tahu.

Dua figur berdekatan di lereng, yang di depan terhubung dengan yang di belakang, sementara satu figur lain jauh di puncak
Cukup berada selangkah di depan untuk bisa menunjukkan jalan.

Syaratnya hanya jujur soal posisi. Saya tidak berkata “beginilah yang benar”. Saya berkata “beginilah yang saya pahami sejauh ini, dan begini cara saya sampai ke sana”. Kalimat itu melindungi pendengar dari kekeliruan saya, dan melindungi saya dari godaan untuk berpura-pura.

Saya juga belajar memilih ukuran yang pas. Saya tidak mencoba menjelaskan seluruh bidang. Saya menjelaskan satu hal kecil yang baru saja saya lewati: satu konsep, satu langkah, satu kesalahan yang baru saya perbaiki. Untuk ukuran sekecil itu, pengalaman yang masih baru justru menjadi kelebihan.

Jebakan yang perlu saya waspadai

Mengajar juga punya sisi yang bisa merusak belajar, dan saya pernah jatuh ke beberapa di antaranya.

Yang pertama adalah terdengar yakin melebihi apa yang saya tahu. Suara yang mantap mudah disangka pemahaman, termasuk oleh diri sendiri. Saya berusaha menandai bagian yang masih dugaan sebagai dugaan.

Yang kedua adalah lebih sibuk terlihat pintar daripada membuat orang mengerti. Tandanya mudah dikenali: saya memakai istilah yang rumit padahal ada kata yang sederhana. Kalau pendengar tidak mengerti, itu tugas saya untuk memperbaiki penjelasan, bukan kekurangan mereka.

Yang ketiga adalah berhenti belajar karena sudah nyaman menjelaskan. Penjelasan yang sama, diulang terus, lama-lama menjadi hafalan. Maka sesekali saya sengaja mencoba menjelaskan hal yang berada di tepi kemampuan saya, tempat saya masih mungkin tersendat.

Penutup

Saya tidak lagi menunggu sampai merasa menguasai sesuatu untuk mulai menjelaskannya. Urutannya saya balik. Saya menjelaskan supaya tahu sejauh mana saya menguasainya, lalu kembali belajar pada bagian yang tersendat.

Kita baru benar-benar tahu apa yang kita pahami ketika mencoba menyerahkannya kepada orang lain.

Orang yang mendengarkan mungkin mendapat sedikit manfaat. Tetapi sejujurnya, yang paling banyak belajar dalam setiap penjelasan itu hampir selalu saya sendiri.

Apa hal terakhir yang Anda pelajari dan bisa Anda jelaskan kepada orang lain dalam dua menit? Cobalah tuliskan di kolom komentar, sesingkat apa pun. Saya akan senang membacanya, dan mungkin ikut belajar darinya.

LF

Ditulis oleh

Lukman Fajar

Menulis tentang belajar, bekerja, dan berpikir. Tentang saya →

YouTube · Instagram


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *