Bekerja dengan bantuan AI: yang membantu dan yang tidak

Layar berisi baris tulisan dengan sebuah bintang kecil di sampingnya

Sudah cukup lama saya memakai asisten AI dalam pekerjaan sehari-hari. Awalnya karena penasaran, lalu menjadi kebiasaan. Selama itu, pendapat saya tentangnya naik turun: pernah terlalu kagum, pernah terlalu kecewa, dan baru belakangan terasa lebih wajar.

Tulisan ini bukan ulasan dan bukan panduan. Saya tidak paham cara kerja teknologinya secara mendalam, dan saya tidak akan berpura-pura paham. Ini hanya catatan dari sisi pemakai: di bagian mana asisten AI sungguh membantu saya, di bagian mana tidak, dan aturan apa yang akhirnya saya buat untuk diri sendiri. Pengalaman Anda bisa saja berbeda.

Membantu: melewati halaman kosong

Bagian tersulit dari banyak pekerjaan saya adalah memulai. Halaman kosong punya cara sendiri untuk membuat saya tiba-tiba ingin merapikan meja. Di sinilah asisten AI paling terasa gunanya. Saya menceritakan apa yang ingin saya kerjakan dengan kalimat seadanya, lalu memintanya menyusun kerangka kasar atau beberapa kemungkinan arah.

Halaman kosong di kiri, halaman berisi draf kasar di kanan
Draf pertama dari asisten AI jarang saya pakai apa adanya, tetapi ia memberi saya sesuatu untuk diperbaiki.

Hasilnya hampir tidak pernah saya pakai apa adanya. Sering kali malah saya tidak setuju dengan sebagian besar isinya. Tetapi justru itu yang membantu. Lebih mudah bagi saya untuk berkata “bukan begini” pada sesuatu yang sudah ada daripada menciptakan dari ketiadaan. Draf yang kurang pas membuat saya tahu apa yang sebenarnya saya inginkan.

Satu hal yang saya perhatikan: semakin banyak konteks yang saya berikan, semakin berguna kerangkanya. Kalau saya hanya menulis satu baris permintaan, hasilnya terasa seperti ditulis untuk siapa saja. Kalau saya menceritakan tujuannya, pembacanya, dan apa yang sudah saya coba, hasilnya lebih dekat dengan yang saya perlukan.

Membantu: teman berpikir yang sabar

Kegunaan kedua baru saya temukan belakangan. Daripada meminta jawaban, saya meminta asisten AI mengajukan pertanyaan kepada saya. Misalnya ketika sedang menyusun rencana, saya memintanya mencari bagian yang belum jelas atau kemungkinan yang belum saya pikirkan.

Tidak semua pertanyaannya tajam. Sebagian terasa umum dan bisa diabaikan. Tetapi di antara sekian pertanyaan biasanya ada satu atau dua yang membuat saya berhenti dan berpikir, dan itu sudah cukup. Ia juga tidak bosan ketika saya menjelaskan hal yang sama dengan tiga cara berbeda sampai saya sendiri paham maksud saya.

Saya juga terbantu ketika mempelajari hal yang masih asing. Saya bisa meminta penjelasan yang lebih sederhana, meminta contoh lain, atau bertanya hal yang mungkin terlalu dasar untuk ditanyakan kepada orang. Untuk mendapat gambaran awal, ini menghemat banyak waktu. Hanya gambaran awal, dan soal itu saya bahas di bawah.

Membantu: pekerjaan merapikan

Ada jenis pekerjaan yang tidak sulit tetapi memakan tenaga: merapikan catatan yang berantakan, meringkas tulisan panjang milik saya sendiri, mengubah susunan daftar, memeriksa salah ketik, atau menyusun ulang kalimat yang terlalu berbelit. Untuk pekerjaan seperti ini, asisten AI cepat dan cukup bisa diandalkan, terutama karena saya bisa langsung memeriksa hasilnya dengan mata sendiri.

Itu kata kuncinya bagi saya: mudah diperiksa. Semakin mudah saya menilai benar atau tidaknya sebuah hasil, semakin nyaman saya menyerahkan pekerjaannya.

Contoh lain yang sering saya pakai: meminta beberapa pilihan kata untuk judul, mengubah catatan yang acak menjadi daftar hal yang perlu ditindaklanjuti, atau memeriksa apakah sebuah penjelasan cukup mudah diikuti oleh orang yang baru mengenal topiknya. Semua itu bisa saya lakukan sendiri. Bedanya, tenaga yang tersisa bisa saya pakai untuk bagian yang memang membutuhkan saya.

Tidak membantu: ketika saya sendiri belum tahu maunya apa

Sekarang bagian yang kurang menyenangkan. Beberapa kali saya datang dengan permintaan yang kabur, berharap asisten AI akan menemukan sendiri apa yang saya butuhkan. Hasilnya selalu sama: jawaban yang rapi, panjang, dan tidak berguna. Bukan karena jawabannya buruk, tetapi karena pertanyaannya memang belum ada.

Asisten AI bekerja dengan apa yang saya berikan. Kalau saya memberi permintaan yang samar, saya mendapat jawaban yang umum. Yang lebih berbahaya, jawaban umum yang ditulis rapi bisa terasa seperti kemajuan. Saya pernah menghabiskan satu sore penuh bolak-balik meminta perbaikan, padahal yang saya perlukan hanyalah lima belas menit berpikir sendiri dengan kertas dan pena.

Sekarang, kalau jawaban yang saya terima terasa hambar, saya menganggapnya sebagai cermin. Biasanya itu berarti saya belum bisa menjelaskan apa yang saya butuhkan, untuk siapa, dan seperti apa hasil yang saya anggap bagus. Begitu ketiga hal itu jelas, sering kali saya malah tidak perlu bertanya lagi.

Tidak membantu: jawaban yang terdengar yakin

Ini pelajaran yang saya dapat dengan cara tidak enak. Pernah suatu kali saya menerima penjelasan yang ditulis dengan sangat meyakinkan, lalu saya pakai begitu saja. Belakangan ketahuan bahwa sebagian isinya keliru. Tidak ada tanda apa pun dalam jawaban itu yang menunjukkan keraguan. Kalimatnya sama lancarnya dengan bagian yang benar.

Gelembung jawaban yang diperiksa dengan kaca pembesar
Jawaban yang lancar belum tentu benar. Untuk hal penting, saya memeriksanya ke sumber lain.

Sejak itu saya memperlakukan jawaban asisten AI seperti keterangan dari kenalan yang pintar tetapi kadang salah ingat: layak didengar, tidak layak ditelan mentah. Untuk hal yang akibatnya kecil, saya terima saja. Untuk hal yang penting, saya periksa ke sumber lain atau bertanya kepada orang yang memang paham. Dan untuk urusan yang menyangkut kesehatan, hukum, atau uang, saya tidak menjadikannya rujukan.

Yang membuat hal ini sulit adalah rasa percaya yang terbentuk pelan-pelan. Setelah berkali-kali menerima jawaban yang benar, saya cenderung tidak lagi memeriksa jawaban berikutnya. Padahal justru di situ saya paling lengah.

Kesalahan seperti itu sebenarnya bukan sepenuhnya salah alatnya. Sayalah yang memakai jawabannya, jadi sayalah yang bertanggung jawab.

Yang hilang kalau terlalu bergantung

Ada satu masa ketika hampir semua hal saya tanyakan dulu sebelum saya pikirkan sendiri. Lama-lama saya merasakan sesuatu yang tidak beres. Tulisan saya menjadi lebih rapi tetapi kurang terasa seperti saya. Pendapat saya tentang suatu hal sering kali ternyata hanya ringkasan dari jawaban yang saya baca.

Bagi saya, berpikir dan menulis bukan hanya cara menghasilkan sesuatu. Keduanya adalah cara saya memahami. Ketika bagian itu saya serahkan, hasilnya memang tetap jadi, tetapi pemahamannya tidak ikut datang. Saya memegang jawaban tanpa pernah menempuh jalannya.

Ada juga hal kecil yang saya rindukan: rasa puas setelah berhasil memecahkan sesuatu sendiri. Rasa itu tidak muncul ketika jawabannya datang dalam beberapa detik. Untuk sebagian pekerjaan, itu tidak masalah. Untuk pekerjaan yang saya sukai, kehilangan itu terasa.

Karena itu, untuk tulisan yang membawa nama saya, keputusan akhirnya selalu saya pegang sendiri. Asisten AI boleh membantu menyusun draf, memeriksa ejaan, atau menunjukkan kalimat yang membingungkan, tetapi yang terbit harus yang memang saya setujui. Kalau tidak, saya tidak tahu lagi untuk apa menulis.

Aturan pakai saya

Dari semua pengalaman itu, saya akhirnya punya beberapa aturan sederhana. Aturan ini cocok untuk saya dan belum tentu cocok untuk orang lain.

  • Berpikir dulu, bertanya kemudian. Saya menuliskan pendapat atau rencana saya sendiri lebih dulu, walau hanya beberapa baris, baru meminta tanggapan.
  • Meminta bahan, bukan keputusan. Pilihan, pertanyaan, dan sudut pandang saya terima. Keputusan akhirnya saya ambil sendiri.
  • Memeriksa hal yang penting. Semakin besar akibatnya kalau salah, semakin wajib saya periksa ke tempat lain.
  • Tidak memasukkan hal yang bersifat pribadi atau rahasia. Baik milik saya maupun milik orang lain.
  • Berhenti kalau sudah berputar-putar. Kalau setelah beberapa kali mencoba hasilnya tidak membaik, biasanya masalahnya ada pada pertanyaan saya, bukan pada jawabannya.
Kompas besar dengan sebuah bintang kecil di sampingnya
Alat boleh membantu di perjalanan, tetapi arahnya tetap saya yang menentukan.

Aturan-aturan itu tidak selalu saya patuhi. Ada hari ketika saya terburu-buru dan langsung bertanya tanpa berpikir. Biasanya saya menyadarinya dari hasilnya sendiri: pekerjaan memang selesai, tetapi saya tidak merasa mengerjakannya.

Penutup

Setelah sekian lama memakainya, kesimpulan saya tidak terlalu seru: asisten AI adalah alat yang berguna, dengan batas yang nyata. Ia membantu saya memulai, merapikan, dan melihat dari sudut lain. Ia tidak membantu ketika saya malas berpikir, dan bisa menyesatkan ketika saya malas memeriksa.

Alat yang baik mempercepat langkah saya, tetapi tidak bisa memilihkan ke mana saya pergi.

Saya tidak tahu seperti apa alat-alat ini beberapa waktu ke depan, dan saya tidak ingin menebak. Yang bisa saya jaga hanyalah cara saya memakainya: dengan rasa ingin tahu, dengan sikap hati-hati, dan tanpa menyerahkan bagian yang membuat pekerjaan itu milik saya.

Bagaimana pengalaman Anda bekerja dengan bantuan AI? Di bagian mana ia paling membantu, dan di bagian mana justru merepotkan? Ceritakan di kolom komentar. Saya penasaran apakah pengalaman kita mirip.

LF

Ditulis oleh

Lukman Fajar

Menulis tentang belajar, bekerja, dan berpikir. Tentang saya →

YouTube · Instagram


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *