Apa yang saya berhenti lakukan supaya lebih produktif

Balon udara yang naik setelah melepaskan beberapa kantong beban

Selama ini, setiap kali merasa kurang produktif, pertanyaan saya selalu sama: apa lagi yang perlu saya tambahkan? Kebiasaan baru, cara baru, jadwal baru. Daftar itu terus bertambah panjang, dan anehnya, hari-hari saya tidak terasa lebih ringan. Malah makin penuh.

Suatu saat saya membalik pertanyaannya: apa yang bisa saya hentikan? Ternyata jawaban atas pertanyaan itu jauh lebih berguna. Berikut lima hal yang sudah saya tinggalkan. Tidak satu pun menuntut tenaga tambahan, dan justru itu yang membuatnya bertahan.

Kenapa mengurangi lebih mudah bertahan

Kebiasaan baru butuh tenaga setiap hari. Ia harus diingat, dijadwalkan, dan dipaksakan pada hari-hari ketika saya sedang malas. Berhenti melakukan sesuatu bekerja dengan cara sebaliknya. Begitu berhasil, ia tidak meminta apa-apa lagi. Ia malah mengembalikan waktu dan perhatian yang sebelumnya terpakai.

Saya membayangkannya seperti balon udara. Untuk naik lebih tinggi, menambah api memang salah satu cara. Tetapi ada cara lain yang lebih sederhana, yaitu melepaskan beban yang tidak perlu ikut terbang.

Cara saya menemukan apa yang perlu dilepas tidak rumit. Selama beberapa hari saya memperhatikan momen ketika saya merasa lelah tetapi tidak ada hasil yang bisa ditunjuk. Di balik momen seperti itu biasanya ada satu kebiasaan yang diam-diam menyedot tenaga.

1. Membuka pesan sebagai hal pertama di pagi hari

Dulu, hal pertama yang saya lakukan saat mulai bekerja adalah membuka kotak masuk. Alasannya terdengar bertanggung jawab: siapa tahu ada yang penting. Akibatnya, sebelum sempat memikirkan apa yang ingin saya kerjakan, kepala saya sudah berisi keinginan orang lain.

Pesan pertama memancing balasan, balasan memancing pesan berikutnya, dan tanpa terasa pagi sudah habis. Padahal pagi adalah waktu ketika pikiran saya paling jernih. Saya memberikan jam terbaik saya untuk pekerjaan yang paling tidak membutuhkannya.

Matahari terbit di sebelah kiri dan sebuah amplop tertutup yang menunggu di sebelah kanan
Pagi untuk satu hal penting lebih dulu. Amplopnya boleh menunggu sebentar.

Sekarang saya mengerjakan satu hal penting lebih dulu, baru membuka pesan. Tidak harus lama. Kadang hanya setengah jam. Yang berubah bukan jumlah pesan yang saya balas, tetapi urutannya. Dan ternyata hampir tidak ada pesan yang menjadi masalah karena dibaca sedikit lebih siang.

Di awal, perubahan ini terasa tidak nyaman. Ada rasa gelisah, seolah-olah ada sesuatu yang menunggu dan saya sedang mengabaikannya. Rasa itu mereda setelah beberapa hari, ketika saya melihat sendiri bahwa tidak ada yang runtuh.

2. Mengutak-atik cara kerja

Saya pernah sangat senang mengganti alat. Aplikasi catatan baru, cara menyusun folder baru, warna label baru. Setiap kali pindah, saya merasa hidup saya akan lebih teratur. Perasaan itu bertahan beberapa hari, lalu saya menemukan alat lain yang tampak lebih bagus.

Butuh waktu lama untuk mengakui bahwa merapikan sistem adalah cara saya menghindari pekerjaan. Rasanya seperti bekerja, karena ada yang dipindahkan dan ada yang tampak lebih rapi. Tetapi tidak ada satu pun hal yang selesai.

Saya juga memperhatikan kapan godaan itu datang. Hampir selalu ia muncul tepat ketika ada pekerjaan yang sulit atau membosankan di depan mata. Keinginan merapikan sistem ternyata bukan tanda bahwa sistemnya bermasalah. Itu tanda bahwa saya sedang mencari jalan keluar.

Sekarang aturannya begini: selama alat yang ada masih bisa dipakai, saya tidak menggantinya. Kalau ada yang benar-benar mengganggu, saya catat dulu dan menunggu. Kalau setelah beberapa minggu masih mengganggu, baru saya perbaiki. Sebagian besar keluhan itu hilang sendiri sebelum waktunya tiba.

3. Memoles sebelum selesai

Kebiasaan ini paling sulit saya lepaskan. Saya menulis satu paragraf, lalu memperbaikinya berulang-ulang sebelum melanjutkan ke paragraf kedua. Hasilnya, bagian awal sangat rapi, sementara sisanya belum ada.

Masalahnya, saya tidak tahu apakah bagian yang saya poles itu akan dipakai. Sering kali setelah seluruh kerangka jadi, paragraf yang saya rawat dengan susah payah ternyata harus dibuang karena arahnya berubah.

Dua baris kotak: baris atas hanya satu kotak yang rapi dan sisanya kosong, baris bawah semua kotak terisi kasar
Satu bagian yang sempurna kalah berguna dibanding seluruh bagian yang sudah ada meski masih kasar.

Sekarang saya memisahkan dua pekerjaan itu. Pertama, membuat versi kasar sampai ujung, sejelek apa pun. Kedua, baru memperbaiki. Versi kasar yang utuh memberi saya sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh paragraf pembuka yang sempurna: gambaran tentang apa yang sebenarnya perlu diperbaiki.

Ini tidak hanya berlaku untuk tulisan. Rancangan, rencana, bahan presentasi, hampir semua pekerjaan yang punya banyak bagian mengikuti pola yang sama. Menyelesaikan seluruhnya secara kasar lebih dulu membuat saya tahu bagian mana yang pantas mendapat perhatian lebih, dan bagian mana yang cukup dibiarkan sederhana.

4. Menjadikan lembur sebagai cadangan

Dulu, di belakang kepala saya selalu ada pikiran bahwa kalau tidak selesai siang ini, masih ada malam. Pikiran itu terasa menenangkan. Nyatanya, ia membuat siang saya longgar. Saya membiarkan pekerjaan melebar karena tahu ada waktu tambahan yang bisa dipinjam.

Malam yang dipinjam itu juga tidak gratis. Besoknya saya memulai hari dengan tenaga yang sudah berkurang, bekerja lebih lambat, lalu kembali meminjam malam berikutnya.

Saya berhenti menganggap malam sebagai cadangan. Hari kerja saya punya ujung, dan ujung itu saya perlakukan seperti janji dengan orang lain. Anehnya, ketika waktunya terbatas, saya lebih cepat memutuskan mana yang penting dan mana yang bisa dilepas. Tentu ada pengecualian. Sesekali ada tenggat yang memang menuntut kerja ekstra. Bedanya, sekarang itu pengecualian, bukan rencana.

5. Menyelesaikan semuanya sendirian

Saya dulu menganggap bertanya sebagai tanda belum cukup berusaha. Jadi saya bisa menghabiskan setengah hari mencari jawaban yang sebenarnya dapat diberikan seseorang dalam dua menit. Ada rasa bangga yang aneh ketika akhirnya menemukannya sendiri, tetapi harganya terlalu mahal.

Dua figur berhadapan: satu dengan gelembung tanda tanya, satu lagi menjawab dengan tanda centang
Pertanyaan yang disiapkan dengan baik sering menghemat setengah hari.

Sekarang saya memberi diri sendiri batas. Kalau sudah mencoba dengan sungguh-sungguh dan masih buntu, saya bertanya. Supaya tidak merepotkan, saya menyiapkan pertanyaannya dengan baik: apa yang ingin saya capai, apa yang sudah saya coba, dan di bagian mana tepatnya saya tersangkut.

Menyusun pertanyaan seperti itu kadang sudah cukup untuk membuat saya menemukan jawabannya sendiri. Kalau tidak, orang yang ditanya bisa membantu dengan cepat karena tahu persis masalahnya.

Saya juga belajar bahwa kebanyakan orang tidak keberatan ditanya. Yang membuat orang enggan membantu biasanya bukan pertanyaannya, melainkan pertanyaan yang asal dilempar tanpa usaha lebih dulu.

Yang saya pelajari dari berhenti

Kelima hal tadi punya satu kesamaan. Semuanya terasa seperti bekerja. Itulah yang membuatnya sulit dikenali. Tidak ada yang tampak seperti bermalas-malasan, sehingga saya tidak pernah mencurigainya.

Ada satu hal lagi yang saya sadari. Setiap kebiasaan itu dulu memberi saya rasa aman. Membuka pesan membuat saya merasa tidak ketinggalan. Memoles membuat saya merasa teliti. Lembur membuat saya merasa bersungguh-sungguh. Melepasnya berarti rela kehilangan rasa aman itu untuk sementara, dan mungkin itulah bagian yang paling berat.

Kalau Anda ingin mencari daftar Anda sendiri, pertanyaan-pertanyaan ini mungkin membantu:

  • Kegiatan apa yang rutin saya lakukan tetapi tidak meninggalkan hasil yang bisa ditunjuk?
  • Kebiasaan apa yang saya pertahankan hanya karena sudah lama dilakukan?
  • Apa yang saya kerjakan untuk meredakan cemas, bukan untuk memajukan pekerjaan?
  • Kalau satu hal harus dihapus dari hari saya, mana yang paling tidak akan dirindukan?

Saya menyarankan memilih satu saja. Berhenti dari lima hal sekaligus sama beratnya dengan memulai lima kebiasaan baru. Saya sendiri melepasnya satu per satu, dengan jeda yang cukup panjang, dan beberapa kali kambuh sebelum benar-benar lepas.

Kambuh itu wajar. Kebiasaan lama tidak hilang karena satu keputusan. Ia melemah sedikit demi sedikit setiap kali saya sadar sedang melakukannya, lalu memilih berhenti lagi tanpa banyak drama.

Penutup

Saya masih menambah hal baru sesekali, dan tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi sekarang, sebelum menambah, saya bertanya dulu apa yang bisa dikurangi. Pesan di pagi hari, sistem yang terus diutak-atik, polesan yang terlalu dini, malam yang dipinjam, dan keengganan bertanya: lima hal itu dulu saya kira bagian dari bekerja keras. Ternyata tanpa kelimanya, pekerjaan saya justru lebih banyak yang selesai.

Kadang cara tercepat untuk maju adalah meletakkan sesuatu yang selama ini saya bawa.

Daftar saya belum tentu cocok untuk Anda. Yang bagi saya beban bisa jadi justru penopang bagi orang lain. Yang layak ditiru bukan isinya, melainkan pertanyaannya.

Kebiasaan apa yang sudah Anda hentikan dan ternyata membuat hari Anda lebih ringan? Ceritakan di kolom komentar. Siapa tahu itu hal berikutnya yang perlu saya lepaskan.

LF

Ditulis oleh

Lukman Fajar

Menulis tentang belajar, bekerja, dan berpikir. Tentang saya →

YouTube · Instagram


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *