Jam kerja saya selesai, dan saya punya malam.
Tiap hari sama, dan tiap hari penuh. Angkat cucian. Lipat baju. Siapkan tas untuk besok.
Tidak ada yang berat satu pun.
Yang membuat saya lama-lama merasa aneh
Semua yang saya kerjakan malam itu untuk besok.
Saya melipat baju supaya besok pagi tidak mencari. Saya membereskan tas supaya besok berangkatnya cepat. Saya merapikan kamar supaya besok tidak menumpuk.
Lalu malamnya kebagian apa?
Tidak ada. Malamnya jadi ruang tunggu.
Saya selalu mengukur malam saya dari sibuknya
Kalau tangan saya penuh, saya anggap malamnya tidak terbuang.
Padahal sibuk itu soal tangan. Berguna itu soal ada yang tertinggal.
Semua beres, dan saya tidak merasa habis mengerjakan apa-apa.
Saya mencoba mencari satu saja yang bukan untuk besok
Saya urutkan dari jam saya sampai rumah. Satu per satu saya tanyai: ini untuk siapa.
Dan semuanya jawabannya sama.
Tidak ada satu pun. Saya mengulang dua malam, hasilnya tetap.
Yang membuat saya diam bukan daftarnya. Tapi kenyataan bahwa saya tidak pernah memeriksanya sebelum itu.
Harganya bukan malam yang kosong
Harganya adalah saya jadi tidak bisa menjawab kalau ditanya kemarin mengerjakan apa.
Saya tahu saya sibuk. Saya tidak tahu saya mengerjakan apa.
Dua hal itu kedengarannya mirip, ternyata jauh.
Apa yang berubah
Yang saya ubah kecil, dan agak konyol kedengarannya.
Saya menyisihkan satu bagian malam yang tidak boleh untuk besok. Tidak lama — kadang cuma sepuluh menit. Dan aturannya cuma satu: tidak boleh menyiapkan apa pun.
Awalnya saya gelisah, karena tangan saya kosong. Sekarang masih kadang-kadang, tapi sudah tidak tiap hari.
—
Tadi malam tas saya tidak saya siapkan lebih dulu.
Bukan karena saya malas, dan bukan karena saya lupa. Saya cuma ingin malamnya kebagian sesuatu lebih dulu.
Tasnya tetap saya siapkan, agak malam. Dan malamnya tidak jadi ruang tunggu.
Jam kerja saya tetap habis di jam yang sama. Yang berbeda, hidupnya sudah mulai.