Musim dua dimulai. Kalau musim satu isinya belajar berdiri, musim ini isinya belajar bertahan.
Dan hal pertama yang saya sadari soal bertahan: kadang caranya adalah menyerahkan sesuatu yang dulu Anda kuasai.
Keahlian yang saya bawa dari rumah
Di Indonesia saya tidak pernah membuka ramalan cuaca. Tidak perlu.
Keluar rumah, lihat ke atas, sudah tahu. Langit abu-abu merata artinya masih lama. Abu-abu pekat hanya di satu sisi artinya sebentar lagi. Angin yang tiba-tiba dingin artinya sudah tidak bisa ditawar.
Itu bukan ilmu. Itu kebiasaan. Bertahun-tahun melihat langit yang sama, lama-lama hafal sendiri. Dan saya tidak istimewa — ibu saya tahu kapan harus mengangkat jemuran tanpa keluar rumah.
Lalu alat itu tidak terpakai lagi
Suatu hari di Jenewa saya lihat ke atas. Mendung. Tipis, warnanya rata, tidak ada tanda apa-apa. Menurut mata saya, hari itu tidak hujan.
Sepuluh menit kemudian saya basah di tengah jalan.
Mendungnya sama seperti mendung yang saya kenal. **Yang berbeda adalah apa yang terjadi sesudah mendungnya.** Saya membawa satu alat ukur dari rumah, dan alat itu tidak terkalibrasi untuk langit di sini.
Aplikasinya benar, dan itu masalahnya
Jadi sekarang setiap pagi saya buka HP dulu sebelum keluar. Bukan untuk membaca pesan — untuk melihat jam berapa hujan turun.
Dan ramalannya benar. Bukan kira-kira benar. Kalau tertulis hujan jam tiga, ya jam tiga hujan. Bukan setengah empat.
Hasilnya: saya tidak pernah terjebak lagi. Payung saya hanya ikut kalau memang akan terpakai. Tidak pernah membawa sia-sia, tidak pernah lupa membawa.
Tapi ada yang hilang.
Dulu saya menebak, sekarang saya diberi tahu
Dulu saya mengira-ngira, dan saya sering benar. Sekarang saya tahu, dan saya selalu benar.
Tapi yang benar itu bukan saya. Itu aplikasinya.
Menebak itu saya yang bekerja. Tahu itu saya yang diberi tahu. Hasilnya sama — yang berbeda siapa yang mengerjakan.
Yang sebenarnya hilang
Dan saya baru sadar, saya sudah tidak pernah melihat ke atas lagi.
Keluar rumah, saya lihat layar. Menunggu di halte, saya lihat layar. Langitnya ada di situ setiap hari, dan saya tidak pernah menanyakan apa-apa lagi kepadanya.
Penting? Tidak. Tapi dulu itu satu-satunya hal di luar rumah yang bisa saya lakukan tanpa dibantu siapa pun.
Di sini saya dibantu terus. Dibantu papan, dibantu jadwal, dibantu aplikasi. Semuanya membuat hidup saya mudah, dan semuanya bukan saya.
—
Kemarin saya keluar, dan saya lihat ke atas dulu sebelum membuka HP. Saya menebak sore itu akan kering.
Lalu saya cek. Ternyata hujan jam lima.
Saya salah. Tapi saya senang saya masih sempat menebak.
Besok saya menebak lagi.