Posted in

Pagi yang Belum Punya Nama

Bangku taman kosong di tepi Danau Jenewa pada pagi hari

Ada pagi yang belum punya nama. Belum jadi hari kerja, belum jadi akhir pekan. Cuma pagi.

Tidak ada cerita di episode ini

Delapan belas episode sebelumnya selalu ada sesuatu. Ada tagihan, ada tram yang salah, ada kata yang gue salah ucapin, ada orang yang nanya sesuatu dan gue nggak bisa jawab.

Yang ini nggak ada.

Gue keluar pagi-pagi, jalan ke danau, dan nggak ngapa-ngapain. Airnya masih rata. Jalanan masih kosong. Jet d’Eau baru nyala dan belum ada yang moto.

Dan itu, ternyata, yang paling perlu gue rekam.

Kenapa akhirnya cuma duduk

Gue duduk di bangku taman di tepi danau. Bangkunya panjang, gue di ujungnya, dan sisanya kosong.

Nggak ada yang menarik dari itu. Tapi kalau gue jujur, momen kayak gitu yang paling jarang gue punya di sini. Sejak datang, hari-hari gue isinya ngurus. Ngurus surat, ngurus sewa, ngurus kerjaan, ngurus cara ngomong. Ngurus supaya nggak keliatan bingung.

Duduk di bangku tanpa ngurus apa-apa itu barang mewah.

Dan hari itu gue nggak ngapa-ngapain, dan itu cukup.

Musim satu isinya belajar berdiri

Kalau gue harus ngerangkum sembilan belas episode ini jadi satu kalimat, kayaknya begini: musim satu isinya belajar berdiri.

Belajar berdiri di antrian yang gue nggak ngerti aturannya. Belajar berdiri di depan loket dan bilang “saya nggak paham” tanpa malu. Belajar berdiri di kereta dan nggak sok tahu turun di mana.

Bukan hal besar. Tapi sebelum bisa yang lain, ya harus itu dulu.

Yang berikutnya, belajar bertahan

Berdiri itu satu hal. Bertahan itu hal lain.

Berdiri cuma butuh satu hari yang berhasil. Bertahan butuh hari yang berhasil itu diulang terus, termasuk pas lagi nggak pengen.

Itu yang mau gue ceritain di musim dua.

Terima kasih sudah menemani sembilan belas episode. Sampai ketemu di musim dua — BERTAHAN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *