Daftar hal yang ingin saya pelajari selalu lebih panjang daripada waktu yang saya punya. Ada bahasa yang ingin saya kuasai, keterampilan yang kelihatannya berguna, topik yang sedang ramai dibicarakan, dan hal-hal yang sekadar membuat saya penasaran. Kalau semuanya dituruti, saya akan sibuk memulai dan tidak pernah sampai ke mana-mana.
Lama saya mengira masalahnya ada pada kurangnya waktu atau kurangnya disiplin. Belakangan saya sadar masalahnya muncul lebih awal dari itu: saya jarang memilih dengan sengaja. Saya belajar apa yang kebetulan lewat di depan mata. Tulisan ini berisi cara saya sekarang memutuskan apa yang layak dipelajari, dan apa yang untuk sementara saya biarkan lewat.
Setiap “ya” punya harga
Mempelajari sesuatu dengan sungguh-sungguh itu mahal. Bukan terutama soal uang, melainkan soal perhatian. Satu hal yang saya pelajari dengan serius akan mengambil sebagian pagi atau malam saya selama berminggu-minggu. Artinya, setiap kali berkata ya pada satu hal, saya diam-diam berkata tidak pada beberapa hal lain.
Dulu saya tidak menghitung harga itu. Saya pernah mengikuti beberapa kelas sekaligus dan membaca beberapa buku tentang topik yang berlainan, lalu heran kenapa tidak ada yang selesai. Sekarang saya memperlakukan perhatian seperti anggaran yang terbatas. Pertanyaannya bukan lagi “apakah ini menarik?”, karena hampir semua hal menarik kalau dilihat cukup dekat. Pertanyaannya menjadi: apakah ini pantas mendapat jatah yang sedikit itu?
Harga itu juga tidak dibayar sekali. Hal yang dipelajari perlu dipakai dan diulang supaya tidak hilang, jadi setiap pilihan membawa ongkos perawatan sesudahnya. Semakin banyak yang saya ambil, semakin tipis perawatan yang bisa saya berikan pada masing-masing.

Empat pertanyaan yang saya pakai sebagai saringan
Untuk menjawabnya, saya memakai empat pertanyaan. Tidak ada yang rumit, dan saya tidak memberi nilai angka. Saya hanya menuliskan jawabannya dengan jujur di buku catatan.
- Apakah akan saya pakai dalam waktu dekat? Hal yang langsung dipakai lebih cepat melekat. Hal yang dipelajari sekadar untuk berjaga-jaga biasanya sudah menguap ketika akhirnya dibutuhkan.
- Apakah masih berguna bertahun-tahun lagi? Ada pengetahuan yang cepat basi, ada yang awet. Saya berusaha memberi porsi lebih besar pada yang awet.
- Apakah ia menyambung dengan yang sudah saya bisa? Hal baru yang menempel pada kemampuan lama tumbuh lebih cepat daripada yang berdiri sendirian.
- Apakah saya benar-benar penasaran? Tanpa rasa ingin tahu, saya hanya akan bertahan selama semangat awal masih ada.
Jarang ada pilihan yang lolos keempatnya. Bagi saya, lolos tiga sudah cukup untuk mulai. Kalau hanya lolos satu, apalagi hanya karena sedang ramai dibicarakan orang, saya menundanya.
Menuliskan jawabannya ternyata penting. Di dalam kepala, saya pandai sekali membela keinginan sendiri. Di atas kertas, alasan yang lemah kelihatan lemah.
Ada dua pertanyaan yang sengaja tidak saya masukkan: apakah hal ini sedang banyak dicari, dan apakah orang lain sudah mempelajarinya. Keduanya terdengar masuk akal. Tetapi bagi saya, keduanya lebih sering melahirkan rasa cemas daripada keputusan yang baik. Ramai tidaknya sebuah topik berubah lebih cepat daripada kemampuan saya mempelajarinya.
Yang awet dan yang cepat basi
Pertanyaan kedua paling sering mengubah keputusan saya, jadi saya ingin membahasnya sedikit lebih panjang.
Saya membayangkan pengetahuan seperti pohon. Di bagian bawah ada akar dan batang: berpikir dengan jernih, menulis dengan runtut, berhitung secukupnya, memahami orang lain, dan kemampuan belajar itu sendiri. Di bagian atas ada daun: cara memakai alat tertentu, teknik yang sedang populer, istilah-istilah terbaru. Daun itu penting, karena di situlah pekerjaan sehari-hari terjadi. Tetapi daun berganti setiap musim, sedangkan batang tetap.

Kesalahan saya dulu adalah hanya mengejar daun. Setiap ada hal baru, saya merasa tertinggal dan buru-buru mempelajarinya. Beberapa waktu kemudian hal itu berganti lagi, dan saya mulai dari awal. Sekarang, setiap kali memilih, saya bertanya: bagian mana dari hal ini yang masih akan benar bertahun-tahun lagi? Bagian itulah yang saya pelajari pelan-pelan dan dalam. Sisanya saya pelajari secukupnya, tepat ketika dibutuhkan.
Tepat waktu, bukan berjaga-jaga
Saya punya kecenderungan menimbun pengetahuan untuk berjaga-jaga. Siapa tahu nanti perlu. Rasanya bijaksana, padahal sering kali itu hanya cara halus menghindari pekerjaan yang sebenarnya sudah ada di depan saya.
Aturan yang sekarang saya pegang: untuk hal yang teknis dan cepat berubah, saya belajar ketika ada keperluan nyata. Ada masalah yang harus diselesaikan minggu ini, maka saya mempelajari secukupnya untuk menyelesaikannya. Pengetahuan yang lahir dari kebutuhan seperti itu jauh lebih melekat, karena ia langsung punya tempat untuk dipakai.
Untuk hal yang mendasar, aturannya terbalik. Hal mendasar jarang terasa mendesak, sehingga kalau menunggu sampai perlu, saya tidak akan pernah mempelajarinya. Maka saya sengaja menyisihkan waktu untuknya, walaupun tidak ada yang menagih.
Satu utama, satu sampingan
Setelah tahu apa yang layak, saya masih harus membatasi jumlahnya. Batas yang cocok untuk saya ternyata sangat kecil: satu hal utama dan satu hal sampingan.
Hal utama mendapat waktu terbaik saya, biasanya ketika kepala masih segar. Hal sampingan boleh ringan dan boleh sekadar menyenangkan. Saya mengerjakannya ketika lelah atau ingin selingan. Tidak ada target untuk yang sampingan. Tugasnya menjaga agar belajar tetap terasa seperti bermain, bukan hanya kewajiban.
Lebih dari dua, saya mulai berpindah-pindah. Setiap perpindahan terasa seperti kemajuan, padahal saya hanya mengulang bagian awal dari banyak hal. Bagian awal memang selalu paling menyenangkan. Justru karena itu saya perlu berhati-hati.
Batas ini tidak berlaku selamanya untuk hal yang sama. Hal utama saya biasanya bertahan beberapa bulan, sampai saya bisa memakainya tanpa terlalu banyak berpikir. Setelah itu ia turun menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari, dan tempatnya boleh diisi yang lain. Jadi dalam jangka panjang saya tetap mempelajari banyak hal. Hanya saja tidak bersamaan.
Daftar tunggu
Lalu bagaimana dengan semua hal lain yang juga menarik? Saya tidak membuangnya. Saya menuliskannya di satu halaman yang saya sebut daftar tunggu.

Daftar tunggu ini menenangkan. Begitu sebuah keinginan ditulis, ia berhenti mengganggu. Saya tidak perlu memutuskan saat itu juga, dan saya tidak takut melupakannya. Setiap kali hal utama saya selesai, atau saya putuskan untuk berhenti, saya membuka daftar itu dan memilih lagi dengan empat pertanyaan tadi.
Yang menarik, banyak isi daftar itu kehilangan daya tariknya setelah beberapa bulan. Hal yang dulu terasa harus segera dipelajari ternyata hanya keinginan sesaat. Saya mencoretnya tanpa rasa bersalah. Waktu sudah melakukan penyaringan untuk saya.
Kapan saya berhenti di tengah jalan
Memilih juga berarti berani melepas. Saya dulu merasa wajib menamatkan apa pun yang sudah dimulai, seolah berhenti berarti kalah. Akibatnya saya bertahan lama pada hal yang sudah tidak saya perlukan, hanya karena sayang pada waktu yang telanjur dipakai.
Sekarang saya memberi diri saya izin berhenti, dengan satu syarat: alasannya harus bisa saya tuliskan. “Sedang sulit” bukan alasan, karena semua hal yang layak dipelajari punya bagian yang sulit. “Keperluannya sudah tidak ada” atau “ternyata ini tidak menjawab pertanyaan saya” adalah alasan yang sah. Kalau saya tidak sanggup menuliskan alasannya, biasanya saya hanya sedang bosan, dan bosan akan lewat.
Berhenti dengan alasan yang jelas ternyata tidak terasa seperti kalah. Apa yang sudah sempat saya pelajari tidak hilang, dan sering kali berguna di tempat yang tidak saya duga. Yang saya hentikan hanya pengeluaran perhatian berikutnya, supaya bisa dipindahkan ke hal yang sekarang lebih layak.
Penutup
Saya tidak lagi berusaha mempelajari semua hal yang menarik. Yang saya usahakan adalah memilih sedikit, memilihnya dengan sadar, lalu memberinya waktu yang cukup untuk benar-benar tumbuh. Selebihnya saya titipkan di daftar tunggu.
Memilih apa yang dipelajari berarti juga memilih, dengan tenang, apa yang untuk sementara tidak dipelajari.
Cara ini tidak membuat saya tahu lebih banyak hal. Ia membuat saya lebih jarang memulai dan lebih sering menyelesaikan. Bagi saya, itu pertukaran yang baik.
Bagaimana dengan Anda? Apa satu hal yang sedang Anda pilih untuk dipelajari sekarang, dan apa yang Anda putuskan untuk ditunda dulu? Tuliskan di kolom komentar. Saya ingin tahu cara Anda memilih.

Leave a Reply