Kadang saya membayangkan bisa duduk berhadapan dengan diri saya sepuluh tahun lalu. Dia mungkin akan menatap saya dengan curiga, mencari tanda apakah semuanya akan baik-baik saja. Saya tidak bisa memberinya ramalan. Tetapi ada beberapa hal yang ingin saya katakan, hal-hal yang baru saya pahami setelah menjalaninya sendiri dengan cara yang lambat.
Saya tahu dia tidak akan mendengarkan. Saya pun dulu tidak mendengarkan orang yang lebih dulu menempuh jalan ini. Jadi tulisan ini sebenarnya lebih untuk saya yang sekarang, sebagai pengingat tentang apa yang ternyata penting. Kalau ada yang berguna bagi Anda, saya ikut senang.
Kamu tidak harus tahu semuanya sekarang
Kamu mengira orang lain sudah punya peta, dan hanya kamu yang berjalan sambil meraba. Kamu mengira ada satu keputusan yang benar, dan kalau salah memilih, semuanya rusak. Dua-duanya keliru.
Hampir semua orang yang kamu anggap yakin itu sebenarnya juga menebak. Mereka hanya lebih pandai menyembunyikannya, atau sudah berdamai dengannya. Dan keputusan yang kamu takuti itu jarang sekali bersifat final. Kebanyakan pintu bisa dibuka lagi. Kebanyakan arah bisa dibelokkan.
Jadi jangan menunggu sampai merasa yakin. Rasa yakin tidak datang sebelum melangkah. Ia datang sesudahnya, sedikit demi sedikit, dari langkah-langkah yang ternyata tidak mencelakakanmu.
Saya ingat betapa beratnya rasanya waktu itu, seolah setiap pilihan sedang diawasi dan dinilai. Kalau bisa, saya ingin duduk di sebelahmu dan bilang bahwa tidak tahu itu bukan kekurangan. Itu hanya keadaan wajar bagi orang yang sedang berada di awal sesuatu.
Sebagian besar ketakutanmu tidak akan terjadi
Kamu menghabiskan banyak malam memikirkan hal buruk yang mungkin datang. Kamu melatih percakapan yang tidak pernah berlangsung, dan menyiapkan pembelaan untuk tuduhan yang tidak pernah dilontarkan siapa pun.

Saya ingin memberi tahu bahwa sebagian besar dari itu tidak terjadi. Dan hal sulit yang benar-benar datang biasanya bukan yang kamu khawatirkan. Ia muncul dari arah lain, pada hari biasa, tanpa peringatan. Anehnya, ketika ia datang, kamu ternyata sanggup menghadapinya. Tidak dengan anggun, tetapi sanggup.
Khawatir tidak membuatmu lebih siap. Ia hanya membuatmu menjalani hal buruk itu dua kali: sekali dalam kepala, sekali lagi kalau memang terjadi. Saya tidak bilang kamu bisa berhenti khawatir begitu saja. Saya hanya ingin kamu tahu bahwa rasa khawatirmu bukan peramal yang bisa dipercaya.
Mulailah lebih cepat, dengan hasil yang lebih jelek
Ada banyak hal yang kamu tunda karena merasa belum siap. Kamu ingin belajar lebih banyak dulu, ingin menunggu waktu yang tepat, ingin hasil pertamamu langsung pantas dilihat orang.
Hasil pertamamu akan jelek. Itu tidak bisa dihindari, hanya bisa dilewati. Semakin cepat kamu membuat versi yang jelek itu, semakin cepat pula kamu sampai pada versi yang lumayan. Waktu yang tepat yang kamu tunggu itu tidak pernah datang dengan sendirinya. Ia baru terasa tepat setelah kamu mulai.
Dan satu lagi: hampir tidak ada yang memperhatikanmu seketat yang kamu kira. Orang lain terlalu sibuk mencemaskan hasil mereka sendiri. Itu kabar baik. Artinya kamu bebas mencoba, bebas canggung, dan bebas keliru tanpa penonton sebanyak yang kamu bayangkan.
Kalau boleh memilih satu kebiasaan untuk kamu mulai lebih awal, saya akan memilih ini: tunjukkan apa yang kamu buat selagi masih setengah jadi. Masukan yang datang lebih awal jauh lebih berguna daripada pujian yang datang terlambat.
Pelan itu tidak apa-apa
Kamu sering merasa terlambat. Kamu melihat orang yang tampak sudah sampai, lalu menyimpulkan bahwa kamu berjalan terlalu lambat.

Hal-hal yang akhirnya paling berarti bagi saya hampir semuanya tumbuh pelan. Kemampuan yang sekarang saya andalkan terbentuk dari pengulangan yang membosankan. Hubungan yang sekarang saya syukuri terbentuk dari kehadiran yang biasa-biasa saja, berulang kali. Tidak satu pun dari itu terasa seperti kemajuan pada hari saya menjalaninya.
Jadi kalau harimu terasa datar dan tidak ada yang bisa dipamerkan, itu bukan tanda kamu gagal. Bisa jadi kamu justru sedang berada di bagian yang paling penting, yaitu bagian yang tidak terlihat.
Kamu juga tidak perlu mengejar semuanya sekaligus. Pilih sedikit hal, lalu beri waktu yang cukup lama. Hampir semua yang saya sesali bukan hal yang saya kerjakan terlalu pelan, melainkan hal yang saya tinggalkan terlalu cepat karena hasilnya belum kelihatan.
Jaga orang-orang yang hadir
Kamu akan tergoda untuk menganggap orang-orang terdekat akan selalu ada, sementara pekerjaan dan rencana tidak bisa menunggu. Urutannya sering kali terbalik. Pekerjaan hampir selalu bisa menunggu sehari. Kesempatan untuk hadir bagi seseorang kadang tidak.
Balas pesan itu. Datanglah ketika diundang, walau sedang lelah. Katakan terima kasih selagi orangnya masih bisa mendengar. Minta maaf lebih cepat, tanpa menunggu yakin siapa yang salah.
Dan dengarkan lebih banyak daripada yang kamu lakukan sekarang. Sering kali orang tidak sedang meminta jalan keluar darimu. Mereka hanya ingin ditemani sebentar, dan itu sesuatu yang selalu bisa kamu berikan.
Kamu juga boleh melepaskan sebagian orang. Tidak semua kedekatan harus dipertahankan, dan menjauh tidak selalu berarti ada yang jahat. Tetapi untuk segelintir orang yang membuatmu merasa menjadi diri sendiri, berusahalah sedikit lebih keras daripada yang terasa nyaman.
Beberapa hal kecil lainnya
Ada pesan-pesan yang terlalu pendek untuk dijadikan bagian tersendiri, tetapi tetap ingin saya sampaikan.
- Tulislah. Ingatanmu tidak sebaik yang kamu kira, dan suatu hari kamu akan ingin tahu apa yang dulu kamu pikirkan.
- Tunggu sampai pagi sebelum memutuskan. Banyak hal yang terasa genting pada malam hari ternyata biasa saja keesokan harinya.
- Bertanyalah lebih sering. Tampak tidak tahu selama satu menit lebih murah daripada pura-pura tahu untuk waktu yang lama.
- Jangan menunggu izin. Tidak ada yang akan datang dan mengatakan bahwa sekarang giliranmu.
- Rawat hal yang membuatmu penasaran. Rasa ingin tahu yang kamu anggap main-main itu kelak menjadi bagian terbaik dari hari-harimu.
- Bersikaplah lebih lunak pada dirimu. Kamu berbicara kepada diri sendiri dengan kalimat yang tidak akan pernah kamu ucapkan kepada seorang teman.
- Selesaikan hal-hal kecil. Rasa percaya pada diri sendiri dibangun dari janji kecil yang ditepati, bukan dari rencana besar.
Yang tidak akan saya ubah
Ada satu hal yang membuat saya ragu menulis semua ini. Kalau diri saya yang dulu benar-benar menuruti setiap nasihat di atas, apakah saya akan menjadi orang yang lebih baik? Saya tidak yakin.

Sebagian dari yang saya pahami sekarang hanya bisa dipahami dengan cara keliru lebih dulu. Saya tahu bahwa menunda itu mahal karena pernah membayarnya. Saya tahu bahwa rasa khawatir sering berbohong karena pernah dibohongi berkali-kali. Nasihat yang diberikan sebelum waktunya hanya menjadi kalimat. Ia baru menjadi pengertian setelah dialami.
Saya juga tidak ingin menghapus masa-masa bingung itu. Di sanalah saya belajar membedakan apa yang saya sukai dari apa yang hanya saya kira saya sukai. Tanpa kebingungan itu, saya mungkin sampai lebih cepat, tetapi di tempat yang bukan untuk saya.
Jadi mungkin pesan terakhir saya untuknya bukan nasihat, melainkan izin. Kamu boleh salah jalan. Kamu boleh berputar. Kamu boleh butuh waktu lebih lama daripada orang lain. Semua itu bukan penyimpangan dari perjalananmu. Itulah perjalanannya.
Penutup
Setelah menulis semua ini, saya menyadari sesuatu yang agak lucu. Sepuluh tahun dari sekarang, kemungkinan besar akan ada diri saya yang lain, yang ingin mengatakan hal serupa kepada saya yang sedang menulis ini. Dia mungkin akan tersenyum melihat apa yang hari ini saya cemaskan.
Itu membuat saya sedikit lebih tenang. Kalau pola ini berulang, sebagian besar kekhawatiran saya hari ini pun akan tampak kecil nanti, dan sebagian besar hal yang saya kira terlambat ternyata masih sangat awal.
Saya tidak bisa menasihati diri yang dulu, tetapi saya masih bisa bersikap baik kepada diri yang sekarang.
Kalau Anda bisa mengirim satu kalimat saja kepada diri Anda sepuluh tahun lalu, apa yang akan Anda tulis? Bagikan di kolom komentar. Saya penasaran membacanya.

Leave a Reply