Kenapa saya mengurangi waktu di media sosial

Ponsel di samping penggeser yang diturunkan ke posisi rendah

Beberapa waktu lalu saya menyadari sesuatu yang agak memalukan. Saya membuka ponsel untuk melihat jam, dan beberapa menit kemudian saya masih menatap layar, menggulir sesuatu yang tidak saya cari, tanpa tahu sekarang pukul berapa. Itu tidak terjadi sekali. Itu terjadi berkali-kali dalam sehari.

Sejak itu saya mulai mengurangi waktu di media sosial. Bukan berhenti, hanya mengurangi. Saya masih punya akun, masih membukanya, dan masih mendapat banyak hal baik dari sana. Tulisan ini adalah cerita tentang kenapa saya menguranginya, apa saja yang saya ubah, dan apa yang ternyata tidak berhasil.

Bukan karena media sosial itu buruk

Saya ingin mengatakan ini lebih dulu supaya tidak salah paham. Saya tidak menganggap media sosial sebagai musuh. Dari sana saya mengenal orang-orang yang pikirannya saya kagumi, menemukan hal yang kemudian saya pelajari, dan tetap terhubung dengan teman yang jarang saya temui.

Yang saya persoalkan adalah cara saya memakainya. Ada perbedaan antara memakai sebuah alat dan dipakai olehnya, dan dalam hal ini saya makin sering berada di sisi yang kedua. Saya tidak lagi memutuskan kapan membuka aplikasi. Tangan saya yang memutuskan, dan saya baru sadar sesudahnya.

Saya juga tidak ingin menceramahi siapa pun soal ini. Setiap orang punya hubungan yang berbeda dengan ponselnya, dan apa yang terasa berlebihan bagi saya mungkin wajar saja bagi orang lain. Yang saya ceritakan di sini hanya pengalaman saya sendiri.

Yang saya perhatikan dari diri sendiri

Sebelum mengubah apa pun, selama beberapa hari saya hanya memperhatikan. Tidak melarang, tidak menghitung dengan teliti, cukup mencatat kapan saya membuka aplikasi dan apa yang saya rasakan sesudahnya. Ada tiga hal yang menonjol.

Pertama, saya paling sering membukanya bukan saat senggang, melainkan saat pekerjaan mulai terasa sulit. Begitu menemui bagian yang butuh berpikir keras, jempol saya sudah bergerak. Media sosial menjadi pintu keluar darurat dari rasa tidak nyaman yang sebenarnya perlu saya lewati.

Jam dinding dengan banyak irisan tipis berwarna oranye yang tersebar di sekelilingnya
Tidak ada satu sesi yang lama. Yang ada hanya “sebentar saja” yang terjadi berkali-kali.

Kedua, hampir tidak ada sesi yang panjang. Masing-masing hanya beberapa menit. Justru karena pendek, saya tidak pernah menganggapnya masalah. Padahal potongan kecil itu tersebar di sepanjang hari dan memotong hampir setiap pekerjaan menjadi kepingan.

Ketiga, saya jarang ingat apa yang baru saja saya lihat. Kalau seseorang bertanya apa yang saya dapat dari setengah jam terakhir, saya tidak akan bisa menjawab. Waktunya terpakai, tetapi tidak ada yang tertinggal.

Ada satu hal lagi yang baru saya sadari belakangan. Setelah menutup aplikasi, kepala saya tidak langsung kembali ke pekerjaan. Sebagian perhatian saya masih tertinggal di sana, memikirkan komentar yang tadi saya baca atau kabar yang tadi lewat. Jadi harga yang saya bayar bukan hanya beberapa menit itu, tetapi juga beberapa menit sesudahnya.

Satu pertanyaan sebelum membuka

Perubahan pertama yang saya buat bukan aturan, melainkan satu pertanyaan: saya mau melihat apa?

Kalau ada jawabannya, misalnya ingin membalas pesan seseorang atau melihat kabar dari orang tertentu, saya buka, saya kerjakan itu, lalu saya tutup. Kalau jawabannya “tidak tahu, cuma ingin lihat-lihat”, saya tahu bahwa yang saya cari sebenarnya bukan isi aplikasinya. Saya sedang bosan, lelah, atau menghindari sesuatu.

Pertanyaan itu tidak selalu menghentikan saya. Kadang saya tetap membukanya. Tetapi setidaknya saya membukanya dengan sadar, dan itu sudah berbeda rasanya.

Yang saya ubah, satu per satu

Setelah itu baru saya mengubah beberapa hal di ponsel dan di rutinitas. Saya melakukannya bertahap, satu perubahan setiap beberapa hari, supaya tahu mana yang benar-benar berpengaruh.

  • Mematikan hampir semua pemberitahuan. Yang tersisa hanya pesan langsung dari orang yang saya kenal. Sisanya menunggu sampai saya sendiri yang datang.
  • Memindahkan aplikasi dari layar utama. Sekarang saya harus mencarinya dulu. Beberapa detik tambahan itu ternyata cukup untuk membuat saya bertanya, “perlu tidak, ya?”
  • Menentukan waktu khusus. Saya membukanya pada dua waktu dalam sehari, siang dan sore, masing-masing sebentar. Di luar itu, saya anggap tokonya sedang tutup.
  • Tidak membukanya di awal hari. Jam pertama setelah bangun saya pakai untuk pikiran saya sendiri, sebelum diisi oleh pikiran orang lain.
  • Merapikan apa yang saya ikuti. Saya berhenti mengikuti akun yang hanya membuat saya iri tanpa memberi apa-apa, dan mempertahankan yang membuat saya belajar atau tersenyum.
  • Menaruh ponsel di luar jangkauan saat bekerja. Bukan dimatikan, hanya diletakkan cukup jauh sehingga saya harus berdiri untuk mengambilnya.
Garis waktu satu hari dari pagi sampai malam dengan dua jendela pendek berwarna oranye
Media sosial tetap ada dalam hari saya, tetapi hanya pada jam yang saya tentukan sendiri.

Tidak ada satu pun dari daftar ini yang istimewa. Semuanya hanya menambah sedikit hambatan antara dorongan dan tindakan. Ternyata sedikit hambatan itu sudah cukup, karena sebagian besar kebiasaan saya membuka aplikasi memang tidak didorong oleh keinginan yang kuat.

Yang ternyata tidak berhasil

Supaya jujur, ada beberapa cara yang saya coba dan gagal.

Saya pernah menghapus semua aplikasi sekaligus. Bertahan beberapa hari, lalu saya memasangnya lagi dan memakainya lebih banyak daripada sebelumnya, seperti orang yang menebus ketinggalan. Bagi saya, larangan total hanya membuat hal yang dilarang terasa makin menarik.

Saya juga pernah memasang batas waktu harian di ponsel. Ketika peringatannya muncul, saya menekan tombol “abaikan” tanpa berpikir. Batas yang bisa dilewati dengan satu ketukan ternyata bukan batas.

Yang paling tidak berhasil adalah mengandalkan tekad. Setiap pagi berjanji akan lebih disiplin, setiap malam kecewa. Baru ketika saya mengubah lingkungannya, bukan menambah janjinya, keadaan mulai bergeser.

Dari kegagalan itu saya belajar bahwa cara yang cocok untuk saya adalah yang longgar tetapi bisa dijalani terus. Aturan yang terlalu keras saya langgar dalam beberapa hari, lalu saya tinggalkan seluruhnya. Aturan yang ringan justru bertahan, karena melanggarnya sesekali tidak membuat saya merasa harus mulai lagi dari nol.

Apa yang mengisi waktu kosongnya

Hal yang tidak saya duga adalah rasa canggung di hari-hari pertama. Ada banyak celah kecil yang tiba-tiba kosong: menunggu air mendidih, antre, jeda antara dua pekerjaan. Dulu semua celah itu otomatis terisi layar. Sekarang saya harus memutuskan sendiri.

Buku terbuka dan secangkir minuman hangat, dengan ponsel tertelungkup di sampingnya
Celah kecil yang dulu selalu terisi layar kini saya biarkan kosong, atau saya isi dengan hal yang lebih pelan.

Sebagian celah saya isi dengan hal sederhana, seperti membaca beberapa halaman buku, berjalan sebentar, atau merapikan meja. Sebagian lagi sengaja saya biarkan kosong. Saya duduk saja dan membiarkan pikiran berjalan ke mana ia mau. Awalnya terasa membosankan. Lama-lama saya sadar bahwa banyak gagasan untuk tulisan dan pekerjaan saya justru muncul pada saat seperti itu, ketika tidak ada yang sedang saya tonton.

Pekerjaan yang butuh berpikir panjang juga terasa lebih mudah diselesaikan. Bukan karena saya menjadi lebih pintar, tetapi karena saya lebih jarang meninggalkannya di tengah jalan.

Yang tetap saya pertahankan

Saya masih memakai media sosial untuk tiga hal: membagikan tulisan, mengikuti segelintir orang yang karyanya saya hargai, dan bertukar kabar dengan teman. Tiga hal itu memang membuat hari saya lebih baik, jadi tidak ada alasan untuk membuangnya.

Kalau ada bedanya, sekarang saya lebih menikmati waktu yang sedikit itu. Karena datang dengan tujuan, saya lebih sering benar-benar membaca apa yang ditulis orang, dan lebih sering membalasnya dengan kalimat yang utuh, bukan sekadar lewat.

Saya juga tidak selalu patuh pada aturan sendiri. Ada hari ketika saya menggulir layar lebih lama daripada yang saya niatkan. Saya tidak lagi menganggapnya kegagalan. Besoknya saya kembali ke pengaturan semula, dan itu sudah cukup.

Penutup

Mengurangi waktu di media sosial bagi saya bukan soal menjauhi sesuatu yang buruk. Ini soal memilih sendiri ke mana perhatian saya pergi. Perhatian adalah salah satu dari sedikit hal yang benar-benar saya miliki, dan saya ingin lebih sering memberikannya dengan sengaja.

Saya tidak ingin mengunci pintu itu; saya hanya ingin sayalah yang memutuskan kapan membukanya.

Kalau Anda ingin mencoba, tidak perlu mulai dari perubahan besar. Pilih satu saja dari daftar di atas, jalankan seminggu, lalu lihat apa yang terasa berbeda.

Bagaimana hubungan Anda dengan media sosial belakangan ini? Adakah cara kecil yang membantu Anda memakainya dengan lebih sadar? Ceritakan di kolom komentar.

LF

Ditulis oleh

Lukman Fajar

Menulis tentang belajar, bekerja, dan berpikir. Tentang saya โ†’

YouTube ยท Instagram


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *