Ada masa ketika saya mengira hari yang baik harus ditandai oleh sesuatu yang besar: pekerjaan penting yang selesai, kabar gembira, atau rencana yang berjalan mulus. Akibatnya, sebagian besar hari saya terasa biasa saja, bahkan sedikit mengecewakan, karena hal besar memang jarang datang.
Belakangan saya memperhatikan sesuatu yang berbeda. Hari-hari yang saya kenang sebagai hari yang enak hampir tidak pernah ditentukan oleh peristiwa besar. Yang menentukannya justru hal-hal kecil, yang kebanyakan memakan waktu kurang dari sepuluh menit. Tulisan ini adalah daftar hal kecil itu. Bukan resep, hanya catatan tentang apa yang ternyata berpengaruh bagi saya.
Kenapa saya mulai memperhatikan hal kecil
Awalnya sederhana. Suatu sore saya merasa hari itu berjalan baik, lalu mencoba mencari sebabnya. Tidak ada yang istimewa. Pekerjaan sama banyaknya, masalah tetap ada. Bedanya, pagi itu saya sempat duduk sebentar sebelum memulai apa pun, dan siangnya saya berjalan kaki sebentar di luar.
Sejak itu saya mulai mengamati. Setiap kali hari terasa ringan, saya bertanya: apa yang berbeda hari ini? Jawabannya hampir selalu kecil dan hampir selalu sama. Hal besar mengubah arah hidup, tetapi hal kecil yang menentukan rasa sebuah hari. Dan hidup, kalau dipikir-pikir, lebih banyak dijalani sebagai hari daripada sebagai arah.
Membuka jendela sebelum membuka layar
Hal pertama yang saya lakukan setelah bangun adalah membuka jendela. Kedengarannya remeh. Tetapi ada perbedaan nyata antara pagi yang dimulai dengan udara dan cahaya, dan pagi yang dimulai dengan deretan pesan.
Kalau saya langsung melihat layar, hari saya dimulai oleh urusan orang lain. Kepala sudah penuh sebelum saya sempat merasa bangun. Kalau saya membuka jendela dulu, berdiri sebentar, dan melihat seperti apa langit pagi itu, saya memulai hari dari tempat saya sendiri. Urusan lain tetap menunggu, dan tidak ada yang rusak karena saya terlambat lima menit membacanya.

Masih di pagi yang sama, ada satu hal kecil lain. Saya sudah lama minum sesuatu yang hangat setiap pagi, tetapi dulu selalu sambil mengerjakan hal lain. Gelasnya habis tanpa saya sadari, kadang sudah dingin sebelum separuh.
Sekarang saya meminumnya sambil duduk dan tidak melakukan apa-apa. Hanya beberapa menit. Tidak ada yang saya renungkan secara khusus. Saya hanya membiarkan pagi berjalan pelan sebentar sebelum saya ikut bergegas. Ternyata jeda sekecil itu membuat saya memulai pekerjaan dengan kepala yang lebih tenang, bukan dengan perasaan sudah tertinggal sejak awal.
Merapikan satu permukaan
Saya bukan orang yang rapi. Membereskan seluruh ruangan terasa seperti proyek, dan proyek mudah saya tunda. Jadi saya menurunkan ukurannya: setiap hari cukup satu permukaan. Meja kerja, meja makan, atau sekadar sudut tempat barang biasa menumpuk.
Efeknya lebih besar daripada usahanya. Satu permukaan yang kosong memberi mata tempat untuk beristirahat. Ia juga memberi saya bukti kecil bahwa keadaan bisa dibuat sedikit lebih baik dengan tangan sendiri, dalam waktu singkat. Pada hari yang kacau, bukti seperti itu terasa menenangkan.
Saya biasanya melakukannya di sela pergantian kegiatan, misalnya sebelum mulai bekerja atau sesudah makan. Tidak perlu sampai bersih sempurna. Cukup mengembalikan barang ke tempatnya dan menyingkirkan yang tidak semestinya ada di sana. Kadang, setelah satu permukaan beres, saya tergoda melanjutkan ke yang lain. Kalau sedang ingin, saya teruskan. Kalau tidak, satu saja sudah saya anggap selesai.
Berjalan kaki tanpa tujuan
Di tengah hari, saya berusaha keluar dan berjalan sebentar. Bukan untuk olahraga dan bukan untuk mengejar jumlah langkah. Saya tidak membawa apa pun untuk didengarkan. Saya hanya berjalan memutar, lalu kembali.
Yang saya dapat dari jalan pendek itu sulit dijelaskan tetapi mudah dirasakan. Masalah yang tadi terasa buntu sering kali melonggar dengan sendirinya. Kalaupun tidak, setidaknya saya kembali dengan perasaan bahwa dunia lebih luas daripada layar di depan saya. Pohon di ujung jalan tetap berdiri di sana, apa pun yang sedang saya cemaskan.
Ada hari ketika cuaca atau pekerjaan tidak mengizinkan. Pada hari seperti itu saya cukup berdiri di depan pintu atau di dekat jendela selama beberapa menit dan melihat ke kejauhan. Tidak sama, tetapi lumayan. Yang saya cari sebenarnya bukan jalan kakinya, melainkan jeda ketika mata dan pikiran tidak sedang diminta mengerjakan apa pun.

Mengucapkan terima kasih dengan jelas
Ini kebiasaan yang paling baru dan paling canggung bagi saya. Ketika seseorang membantu, saya berusaha mengucapkan terima kasih dengan menyebut apa yang ia lakukan. Bukan hanya “terima kasih”, tetapi “terima kasih sudah mengingatkan saya soal tadi, saya hampir lupa”.
Butuh tambahan beberapa detik saja. Tetapi orang yang menerimanya tahu bahwa perbuatannya benar-benar terlihat, dan saya sendiri jadi lebih sadar betapa banyak hal dalam sehari yang berjalan karena bantuan orang lain. Hari yang di dalamnya ada satu percakapan hangat, sependek apa pun, hampir selalu terasa lebih baik daripada hari yang hanya berisi urusan.
Hal yang sama saya coba lakukan dengan sapaan. Menanyakan kabar dan sungguh-sungguh menunggu jawabannya ternyata berbeda sekali dengan menanyakannya sambil lalu. Saya tidak selalu berhasil, terutama ketika sedang terburu-buru. Tetapi pada hari ketika saya sempat, saya pulang dengan perasaan telah bertemu orang, bukan sekadar berpapasan.
Menutup hari dengan satu pertanyaan
Sebelum tidur, saya bertanya pada diri sendiri: hal baik apa yang terjadi hari ini? Cukup satu, dan boleh sangat kecil. Makan siang yang enak. Hujan yang turun tepat setelah saya sampai. Pekerjaan yang ternyata lebih cepat selesai.
Saya tidak selalu menuliskannya. Sering kali cukup diingat sebentar. Tujuannya bukan memaksa diri merasa bersyukur, karena perasaan tidak bisa dipaksa. Tujuannya hanya supaya hal terakhir yang saya pikirkan bukan daftar yang belum selesai. Hari yang buruk pun biasanya menyimpan satu hal baik, dan hal itu mudah terlewat kalau tidak dicari.

Yang membuat hal kecil ini bertahan
Saya pernah mencoba banyak kebiasaan yang lebih ambisius, dan hampir semuanya gugur dalam hitungan minggu. Hal-hal di atas bertahan, dan saya rasa alasannya ada pada ciri yang sama:
- Tidak butuh persiapan. Tidak ada alat, tidak ada tempat khusus, tidak perlu menunggu waktu yang tepat.
- Selesai dalam beberapa menit. Pada hari tersibuk pun saya tidak punya alasan untuk melewatkannya.
- Tidak ada ukurannya. Saya tidak menghitung, tidak mencatat rekor, dan tidak merasa gagal kalau sehari terlewat.
- Terasa enak saat itu juga. Saya tidak melakukannya demi hasil di kemudian hari. Imbalannya langsung, yaitu beberapa menit yang tenang.
Butir terakhir itu yang menurut saya paling penting. Banyak kebiasaan baik terasa seperti kewajiban yang dibayar sekarang untuk manfaat nanti. Hal kecil ini berbeda. Kalau suatu hari saya melewatkannya, tidak ada yang rugi selain hari itu terasa sedikit lebih datar.
Saya juga belajar untuk tidak menambah daftar ini terlalu banyak. Begitu hal kecil berubah menjadi rangkaian panjang yang harus dicentang, ia kehilangan sifatnya dan menjadi beban baru. Kalau ada yang ingin saya tambahkan, biasanya ada satu yang saya lepas. Daftar ini pun tidak tetap. Beberapa hal yang dulu menolong sudah tidak saya lakukan lagi, dan saya tidak merasa bersalah karenanya. Yang saya jaga bukan kebiasaannya, melainkan perhatian pada apa yang membuat sebuah hari terasa enak.
Penutup
Tidak ada satu pun dari hal di atas yang akan mengubah hidup. Justru itu intinya. Saya berhenti menunggu hari yang luar biasa, dan mulai memperhatikan apa yang membuat hari biasa terasa layak dijalani.
Hari yang baik jarang datang sebagai kejutan besar; ia lebih sering dirakit dari hal-hal kecil yang hampir tidak terlihat.
Daftar setiap orang tentu berbeda. Yang bagi saya menenangkan bisa saja terasa membosankan bagi Anda. Tetapi saya menduga setiap orang punya daftarnya sendiri, hanya belum tentu pernah diperhatikan. Cara menemukannya sama dengan cara saya dulu: pada hari yang terasa ringan, tanyakan apa yang berbeda.
Hal kecil apa yang membuat hari Anda terasa lebih baik? Tuliskan di kolom komentar. Siapa tahu saya bisa meminjam satu.

Leave a Reply