Seni berkata “tidak”

Gelembung percakapan besar bertuliskan tidak, dikelilingi gelembung permintaan yang lebih kecil

Saya termasuk orang yang sulit menolak. Ketika seseorang meminta sesuatu, kata “ya” keluar lebih dulu, dan baru beberapa jam kemudian saya sadar apa yang baru saja saya sanggupi. Lalu datang rasa berat yang sudah saya kenal baik: mengerjakan sesuatu yang tidak ingin saya kerjakan, sambil diam-diam kesal pada diri sendiri.

Butuh waktu lama bagi saya untuk mengerti bahwa menolak bukan sifat bawaan, melainkan keterampilan. Ia bisa dipelajari, dilatih, dan lama-lama menjadi lebih ringan. Saya belum mahir. Tetapi ada beberapa hal yang membuat saya jauh lebih baik daripada dulu, dan itulah yang ingin saya catat di sini.

Kenapa “ya” terasa lebih mudah

Berkata “ya” memberi hadiah seketika. Orang di depan saya senang, suasana tetap hangat, dan saya merasa menjadi orang baik. Harganya baru ditagih belakangan, ketika orangnya sudah pergi dan hanya saya yang menanggung.

Berkata “tidak” bekerja terbalik. Rasa tidak enaknya datang saat itu juga: jeda canggung, wajah yang kecewa, kekhawatiran dianggap tidak peduli. Manfaatnya baru terasa nanti, dalam bentuk waktu yang tetap utuh. Tidak heran saya hampir selalu memilih yang pertama.

Menyadari pola ini tidak langsung mengubah apa pun. Tetapi setidaknya saya berhenti menganggap diri lemah. Saya hanya sedang memilih kenyamanan sekarang dan membayarnya nanti, dan itu kebiasaan yang bisa diubah.

Ada satu hal lagi yang ikut bermain, yaitu gambaran tentang diri sendiri. Saya senang dikenal sebagai orang yang bisa diandalkan, dan setiap penolakan terasa seperti mencoreng gambaran itu. Baru belakangan saya sadar bahwa orang yang menyanggupi segalanya lalu mengerjakannya dengan terlambat atau setengah-setengah justru lebih sulit diandalkan.

Setiap “ya” memakai tempat

Hal yang paling menolong saya adalah satu perubahan cara pandang. Waktu saya bukan ruang kosong yang menunggu diisi. Ia sudah penuh, meskipun sebagian isinya tidak tertulis di kalender: istirahat, pekerjaan yang sudah saya janjikan, orang-orang terdekat, hal-hal yang ingin saya pelajari.

Jadi setiap kali berkata “ya” pada satu permintaan, saya sebenarnya sedang berkata “tidak” pada sesuatu yang lain. Bedanya, “tidak” yang kedua itu tidak pernah saya ucapkan. Ia terjadi diam-diam, dan biasanya korbannya adalah hal yang paling tidak bisa memprotes.

Timbangan dengan satu balok bertuliskan ya di satu sisi dan beberapa balok kecil di sisi lain
Satu “ya” selalu ditimbang dengan beberapa hal lain yang diam-diam harus mengalah.

Sekarang, sebelum menjawab, saya mencoba menyebutkan dalam hati apa yang akan tergeser. Kalau saya menyanggupi ini, apa yang tidak jadi saya kerjakan? Kadang jawabannya membuat saya tetap berkata “ya” dengan senang hati. Kadang jawabannya membuat penolakan terasa wajar, bahkan perlu.

Jeda sebelum menjawab

Kesalahan terbesar saya dulu adalah menjawab di tempat. Di depan orang yang sedang menunggu, hampir mustahil berpikir jernih. Yang bekerja hanya keinginan untuk menyenangkan.

Maka saya membiasakan satu kalimat: “Saya lihat dulu, nanti saya kabari.” Kalimat ini bukan penolakan dan bukan persetujuan. Ia hanya membeli waktu. Dengan jarak beberapa jam, saya bisa menimbang dengan kepala yang lebih dingin.

Gelembung pertanyaan, lalu tanda jeda di tengah, lalu gelembung jawaban
Di antara permintaan dan jawaban, ada ruang kecil yang boleh saya pakai untuk berpikir.

Ada satu syarat supaya jeda ini jujur: saya harus benar-benar memberi kabar. Menggantung jawaban sampai orangnya lupa bukan menolak, itu menghindar. Dan menghindar lebih merepotkan orang lain daripada “tidak” yang jelas, karena mereka tidak bisa mencari jalan lain selama masih menunggu saya.

Jeda itu juga memberi saya kesempatan memeriksa perasaan sendiri. Saya membayangkan hari pelaksanaannya tiba, lalu memperhatikan apa yang muncul. Kalau yang terasa adalah lega seandainya acara itu batal, biasanya itu tanda bahwa jawaban saya seharusnya “tidak”.

Menolak dengan jelas, singkat, dan hangat

Dulu, kalaupun menolak, saya melakukannya dengan berbelit. Penjelasan panjang, permintaan maaf berkali-kali, dan janji samar seperti “mungkin lain kali”. Hasilnya orang bingung apakah saya menolak atau tidak, dan sering kali mereka kembali bertanya.

Sekarang saya berusaha memenuhi tiga hal:

  • Jelas. Kata “tidak” atau “belum bisa” harus benar-benar ada di kalimat saya, bukan hanya tersirat.
  • Singkat. Satu alasan yang jujur sudah cukup. Semakin panjang penjelasannya, semakin terdengar seperti minta ditawar.
  • Hangat. Saya menolak permintaannya, bukan orangnya. Ucapan terima kasih karena sudah diajak tetap pantas disampaikan.

Contohnya kira-kira seperti ini: “Terima kasih sudah mengajak saya. Saat ini saya belum bisa ikut karena sedang menyelesaikan hal lain. Semoga lancar, ya.” Tidak ada yang dramatis. Tidak ada alasan yang dikarang.

Soal alasan, saya belajar untuk tidak berbohong. Alasan palsu harus diingat dan dijaga, dan itu melelahkan. “Saya tidak punya cukup waktu untuk mengerjakannya dengan baik” hampir selalu benar, dan hampir selalu cukup.

Kalau memang ada yang bisa saya tawarkan, saya tawarkan. Bantuan yang lebih kecil, waktu lain yang lebih longgar, atau saran tentang siapa yang mungkin bisa membantu. Tetapi hanya kalau saya sungguh bersedia. Tawaran pengganti yang tidak tulus hanyalah “ya” yang ditunda.

Satu hal lagi yang perlu saya biasakan adalah berhenti bicara setelah menolak. Dulu saya selalu mengisi keheningan sesudahnya dengan penjelasan tambahan, dan di situlah saya biasanya goyah lalu menarik kembali penolakan saya. Sekarang saya menyampaikannya, lalu diam. Keheningan beberapa detik itu memang canggung, tetapi tidak berbahaya.

Batas yang punya pintu

Saya sempat khawatir bahwa sering menolak akan membuat saya menjadi orang yang kaku dan tertutup. Ternyata yang terjadi sebaliknya. Karena tidak lagi menyanggupi semuanya, “ya” saya menjadi lebih berarti. Ketika saya bilang bisa, saya datang dengan tenaga penuh, bukan dengan sisa.

Pagar kayu dengan pintu yang terbuka di tengah dan jalan setapak menuju pintu itu
Batas yang baik lebih mirip pagar berpintu daripada tembok.

Saya membayangkan batas bukan sebagai tembok, melainkan pagar dengan pintu. Pagar memberi tahu di mana halaman saya berakhir. Pintu memastikan orang tetap bisa masuk, hanya tidak dari segala arah dan tidak pada segala waktu.

Ada juga saatnya saya memilih membuka pintu itu lebar-lebar meski sedang repot. Ketika orang dekat benar-benar membutuhkan, ketika permintaan itu sejalan dengan hal yang saya pedulikan, atau ketika bantuannya kecil bagi saya tetapi besar bagi mereka. Menolak bukan tujuan. Tujuannya adalah memilih dengan sadar.

Hal lain yang mengejutkan saya adalah reaksi orang. Saya membayangkan mereka akan tersinggung atau menjauh. Kenyataannya, sebagian besar hanya menjawab “oh, baik” lalu mencari cara lain. Drama yang saya takutkan hampir seluruhnya terjadi di kepala saya sendiri. Memang ada satu-dua orang yang kecewa, dan itu tidak enak. Tetapi kekecewaan mereka biasanya lebih singkat daripada kekesalan saya seandainya memaksakan diri.

Menolak diri sendiri

Permintaan yang paling sulit saya tolak ternyata bukan datang dari orang lain. Ia datang dari kepala saya sendiri. Ide baru yang menggoda, proyek sampingan yang tampak seru, keinginan untuk ikut mencoba apa yang sedang dicoba orang lain.

Menolak diri sendiri punya kesulitan yang khas: tidak ada orang lain yang bisa saya jadikan alasan. Saya harus mengakui terus terang bahwa saya tidak bisa mengerjakan semua yang menarik, dan bahwa memilih sedikit hal berarti rela melepaskan banyak hal lain yang sama bagusnya.

Kepada diri sendiri, saya memakai cara yang sama. Jeda dulu. Tanyakan apa yang akan tergeser. Lalu jawab dengan jelas. Sering kali jawabannya “belum sekarang”, dan ide itu saya tulis di sebuah daftar tunggu supaya tidak hilang. Sebagian besar ide di daftar itu tidak pernah saya ambil lagi, dan saya tidak merasa kehilangan.

Penutup

Saya masih sering salah. Kadang berkata “ya” terlalu cepat, kadang menolak dengan canggung, kadang merasa bersalah berhari-hari setelahnya. Rasa bersalah itu rupanya tidak sepenuhnya hilang, hanya mengecil. Yang berubah adalah saya tidak lagi membiarkannya memutuskan untuk saya.

Kalau diringkas, yang saya latih hanya tiga gerakan: jeda, timbang, lalu jawab dengan jelas dan hangat. Tidak ada kalimat ajaib. Yang ada hanya kesediaan menanggung rasa tidak enak sebentar, demi tidak menanggung rasa berat yang lebih lama.

“Tidak” yang jujur lebih ramah daripada “ya” yang setengah hati.

Kalau menolak masih terasa berat, mulailah dari yang paling ringan: biasakan meminta waktu sebelum menjawab. Satu kalimat itu saja sudah mengubah banyak hal bagi saya.

Permintaan seperti apa yang paling sulit Anda tolak, dan bagaimana biasanya Anda menjawabnya? Ceritakan di kolom komentar. Saya masih belajar, dan senang membaca pengalaman Anda.

LF

Ditulis oleh

Lukman Fajar

Menulis tentang belajar, bekerja, dan berpikir. Tentang saya →

YouTube · Instagram


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *