Posted in

Cepat-Cepat Sampai Rumah, Terus Ngapain

Lorong menuju pintu apartemen di Jenewa

Ada sepuluh menit terakhir sebelum saya sampai.

Turun, menyeberang, masuk gedung, naik. Dan saya melakukan semuanya cepat. Bukan setengah lari — cuma tidak ada satu langkah pun yang santai.

Sampai lalu ngapain? Itu pertanyaan yang membuat saya berhenti di depan pintu.

Begitu pintunya menutup, semuanya langsung diam

Tidak ada yang harus saya kerjakan menit itu juga. Tidak ada yang saya kejar dari tadi.

Saya cuma berdiri, masih pakai jaket, di ruangan yang tidak meminta apa-apa.

Dan itu terjadi tiap sore, bukan sekali dua kali.

Ternyata saya mencampur dua hal

Pulang itu tempat. Sampai itu keadaan.

Saya tiap hari pulang, dan saya jarang sampai. Alamatnya benar, orangnya belum masuk.

Saya bisa di dalam berjam-jam dan tetap merasa sedang menunggu sesuatu.

Buru-burunya datang dari pagi

Pagi, buru-buru itu ada isinya. Ada yang harus dikejar, dan kalau telat ada akibatnya.

Waktu pulang, saya pakai kecepatan yang sama. Tapi tidak ada yang menunggu di ujungnya.

Kecepatan pagi terpakai terus sampai malam. Tidak ada yang pernah menyuruh saya berhenti, jadi saya tidak berhenti.

Harganya bukan saya jadi lelah

Harganya saya sampai terlalu cepat untuk sadar bahwa saya sudah sampai.

Perpindahan dari luar ke dalam itu lewat begitu saja. Tidak ada batas, tidak ada tanda. Dan kalau tidak ada tandanya, dia tidak pernah berhenti. Saya di dalam, kepala saya masih jalan.

Yang saya ubah bukan kecepatannya

Saya kasih satu tanda di pintu, dan tandanya sengaja kecil: saya lepas jaket dulu, sebelum mengerjakan apa pun.

Tidak ada gunanya kalau dipikir. Tapi itu memang bukan untuk berguna — itu untuk memberi tahu badan saya bahwa perjalanannya sudah selesai.

Ternyata badan saya butuh diajak bicara, bukan cuma dipindahkan.

Tadi saya naik, dan saya masih jalan cepat

Saya tidak berhasil memperlambat, dan saya tidak memaksa.

Tapi di depan pintu saya berhenti sebentar sebelum masuk. Bukan lama — dua tarikan napas, mungkin. Lalu saya masuk, dan kali ini saya sadar saya masuk.

Pulangnya sama cepatnya. Sampainya yang beda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *