Pelajaran dari proyek yang gagal

Balok-balok yang runtuh dan seseorang yang mulai menyusun lagi dari dua balok

Pernah ada sebuah proyek yang saya kerjakan dengan sepenuh hati, dan proyek itu gagal. Bukan gagal yang dramatis. Tidak ada satu hari tertentu ketika semuanya runtuh. Ia hanya makin lama makin berat, makin jarang saya sentuh, sampai suatu saat saya mengaku kepada diri sendiri bahwa proyek ini tidak akan pernah selesai.

Saya sengaja tidak menceritakan proyek apa itu, karena rinciannya tidak penting. Yang penting adalah polanya, dan pola itu ternyata muncul lagi di banyak hal lain yang saya kerjakan. Tulisan ini bukan tentang rasa malu atau cara bangkit kembali. Ini lebih mirip catatan pemeriksaan: apa saja yang keliru, dan apa yang sekarang saya lakukan secara berbeda.

Saya jatuh cinta pada rencananya

Di awal, saya menghabiskan banyak waktu untuk merencanakan. Saya membuat gambaran yang rapi tentang bagaimana semuanya akan berjalan, lengkap dengan tahap-tahapnya. Rencana itu indah, dan saya bangga padanya. Di situlah masalahnya dimulai.

Rencana yang rapi memberi rasa aman yang palsu. Karena di atas kertas semuanya masuk akal, saya merasa sudah memahami apa yang akan saya hadapi. Padahal seluruh rencana itu berdiri di atas beberapa anggapan yang belum pernah saya uji. Saya menganggap orang akan membutuhkan hasilnya. Saya menganggap saya punya cukup waktu. Saya menganggap bagian yang sulit akan terpecahkan sambil jalan.

Lembar rencana besar yang rumit di kiri, satu balok kecil di kanan
Rencana boleh megah di atas kertas. Yang perlu ditanyakan: seberapa banyak yang sudah benar-benar berdiri?

Tidak satu pun dari anggapan itu saya periksa lebih dulu. Ketika kenyataan mulai tidak cocok dengan rencana, reaksi pertama saya bukan mengubah rencana, tetapi berusaha lebih keras supaya kenyataan mengikuti. Sekarang saya tahu, rencana hanyalah dugaan yang ditulis rapi. Nilainya baru terlihat setelah bersentuhan dengan dunia nyata, dan lebih cepat itu terjadi, lebih baik.

Yang juga luput dari perhatian saya: merencanakan terasa seperti bekerja. Setiap kali menambah rincian pada rencana, saya merasa maju, padahal tidak ada satu pun yang berubah di luar kertas itu. Rencana menjadi tempat berlindung yang nyaman dari bagian yang sesungguhnya menakutkan, yaitu mencoba dan melihat hasilnya.

Terlalu besar sejak hari pertama

Kesalahan kedua: saya memulai dari versi yang lengkap. Saya ingin hasil pertama yang dilihat orang sudah bagus, sudah utuh, sudah layak dibanggakan. Akibatnya, tidak ada yang bisa ditunjukkan sampai semuanya selesai, dan semuanya tidak pernah selesai.

Proyek yang besar sejak awal punya satu sifat yang merepotkan: kemajuannya tidak terasa. Saya bekerja lama sekali, tetapi jarak ke garis akhir seperti tidak berkurang. Tanpa rasa maju, semangat terkikis pelan-pelan. Saya mulai mencari alasan untuk mengerjakan hal lain dulu.

Ada sisi lain yang jarang saya akui. Ukuran yang besar itu sebagian datang dari gengsi. Proyek kecil terasa tidak cukup penting untuk diceritakan, sedangkan proyek besar terdengar mengesankan bahkan sebelum ada hasilnya. Saya menikmati rasa sedang mengerjakan sesuatu yang besar, dan kenikmatan itu membuat saya tidak mau memangkasnya.

Kalau bisa mengulang, saya akan bertanya: bagian terkecil mana yang sudah bisa berguna kalau berdiri sendiri? Lalu saya akan menyelesaikan bagian itu saja, menunjukkannya, dan baru memutuskan langkah berikutnya dari apa yang saya pelajari.

Terlalu lama bekerja sendirian

Saya menyimpan proyek itu rapat-rapat. Alasan yang saya katakan kepada diri sendiri: belum siap ditunjukkan. Alasan yang sebenarnya: saya takut mendengar komentar yang akan memaksa saya mengubah banyak hal.

Seseorang di dalam lingkaran tertutup, sementara tiga orang lain berada di luar
Selama pekerjaan disimpan sendiri, masukan yang paling dibutuhkan tidak punya jalan masuk.

Dengan menutup diri, saya kehilangan hal yang paling saya butuhkan, yaitu pandangan dari luar. Orang lain bisa melihat dalam beberapa menit apa yang tidak saya lihat selama sekian lama, justru karena mereka tidak terikat pada rencana saya. Ketika akhirnya saya menceritakan proyek itu kepada beberapa orang, pertanyaan pertama mereka langsung mengenai titik yang selama ini saya hindari. Pertanyaan itu sederhana, dan saya tidak punya jawabannya.

Masukan yang datang di awal terasa tidak enak, tetapi murah. Masukan yang datang di akhir sama tidak enaknya, dan jauh lebih mahal.

Sekarang saya mengerti bahwa menunjukkan pekerjaan yang belum jadi bukan soal mencari pujian atau persetujuan. Tujuannya mencari tahu lebih cepat di mana saya keliru. Tidak semua masukan harus diikuti, tetapi semuanya layak didengar, terutama yang membuat saya ingin membela diri.

Tanda-tanda yang saya abaikan

Yang membuat saya heran ketika menengok ke belakang: tanda-tandanya sudah ada jauh sebelum saya berhenti. Saya hanya memilih untuk tidak membacanya. Beberapa yang sekarang saya kenali:

  • Saya makin sering menunda membukanya. Bukan karena sibuk, tetapi karena setiap kali membuka, saya diingatkan pada masalah yang belum terpecahkan.
  • Saya lebih senang merapikan daripada mengerjakan intinya. Mengatur ulang, mengganti tampilan, dan menyusun ulang daftar terasa produktif, padahal bagian tersulit tidak tersentuh.
  • Penjelasan saya makin panjang. Ketika ditanya proyek ini untuk apa, jawaban saya berbelit-belit. Itu tanda saya sendiri sudah tidak yakin.
  • Saya berhenti membayangkan hasilnya. Yang tersisa hanya kewajiban untuk menyelesaikan.

Tidak satu pun dari tanda itu berarti proyek harus langsung dihentikan. Tetapi masing-masing adalah undangan untuk berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur. Saya tidak menerima undangan itu.

Sulit berhenti karena sudah terlanjur jauh

Mengapa saya tidak berhenti lebih cepat? Jawabannya memalukan tetapi sederhana: karena saya sudah mengeluarkan terlalu banyak. Waktu, tenaga, dan harapan yang sudah tertanam membuat berhenti terasa seperti membuang semuanya.

Padahal apa yang sudah dikeluarkan tidak akan kembali, entah saya lanjut atau berhenti. Pertanyaan yang lebih berguna bukan “sudah sejauh apa saya berjalan?”, tetapi “kalau hari ini saya baru mulai dan tahu semua yang sekarang saya tahu, apakah saya akan memilih proyek ini?” Ketika akhirnya saya berani menjawabnya, jawabannya tidak. Saat itulah proyek itu sebenarnya selesai. Sisanya hanya soal mengakuinya.

Saya juga belajar bahwa berhenti dan menyerah bukan hal yang sama. Menyerah adalah berhenti karena sulit. Berhenti dengan sadar adalah memutuskan bahwa tenaga yang sama lebih berguna di tempat lain.

Yang ternyata tidak sia-sia

Supaya adil, tidak semuanya keliru. Beberapa keterampilan yang saya pelajari untuk proyek itu masih saya pakai sampai sekarang, di tempat yang sama sekali tidak saya duga. Beberapa orang yang saya ajak bicara menjelang akhir tetap menjadi teman bertukar pikiran. Dan saya jadi tahu lebih banyak tentang cara saya sendiri bekerja: kapan saya bersemangat, kapan saya mulai menghindar, dan alasan macam apa yang saya pakai untuk menipu diri.

Saya tidak menuliskan ini untuk menghibur diri. Hasil sampingan seperti itu tidak membuat proyeknya berhasil. Tetapi ia mengingatkan saya bahwa gagal dan tidak berguna adalah dua hal yang berbeda.

Yang sekarang saya lakukan secara berbeda

Dari proyek itu saya membawa pulang beberapa kebiasaan. Tidak ada yang rumit, dan saya masih sering lupa menjalankannya. Tetapi ketika ingat, hasilnya terasa.

Jalur berkelok dengan beberapa titik periksa bertanda centang
Langkah kecil dengan titik periksa memberi banyak kesempatan untuk berbelok sebelum terlambat.
  1. Menulis anggapan, bukan hanya rencana. Di awal saya mendaftar hal-hal yang saya anggap benar, lalu mencari cara termurah untuk menguji yang paling menentukan.
  2. Memulai dari versi terkecil yang berguna. Sesuatu yang bisa selesai dan ditunjukkan dalam waktu singkat.
  3. Menunjukkan lebih awal dari yang terasa nyaman. Kalau saya belum merasa sedikit malu saat menunjukkannya, kemungkinan besar saya sudah terlambat.
  4. Menetapkan titik periksa. Pada waktu yang sudah ditentukan, saya bertanya apakah proyek ini masih layak dilanjutkan, dan saya mengizinkan jawabannya tidak.
  5. Menulis catatan penutup. Ketika sebuah proyek berakhir, berhasil atau tidak, saya menuliskan apa yang terjadi selagi ingatan masih segar.

Kebiasaan terakhir itu yang paling saya hargai. Tanpa catatan, kegagalan hanya meninggalkan rasa tidak enak yang samar. Dengan catatan, ia meninggalkan sesuatu yang bisa dipakai lagi.

Penutup

Proyek itu tidak pernah selesai, dan saya tidak akan berpura-pura bahwa kegagalannya adalah berkah tersembunyi. Ada waktu yang memang hilang. Tetapi cara saya bekerja sekarang banyak dibentuk olehnya: lebih kecil di awal, lebih terbuka, lebih cepat menguji, dan lebih jujur ketika tanda-tandanya muncul.

Proyek yang gagal baru benar-benar sia-sia kalau saya tidak membawa pulang apa pun darinya.

Kalau saat ini Anda sedang mengerjakan sesuatu yang terasa makin berat, mungkin ada baiknya berhenti sejenak dan memeriksa. Bukan untuk langsung menyerah, tetapi untuk melihat dengan jernih apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Pernahkah Anda punya proyek yang tidak berjalan sesuai harapan? Pelajaran apa yang Anda bawa darinya? Tulis di kolom komentar, saya ingin membacanya.

LF

Ditulis oleh

Lukman Fajar

Menulis tentang belajar, bekerja, dan berpikir. Tentang saya →

YouTube · Instagram


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *