Cara saya mengambil keputusan sulit

Seseorang berdiri di jalan yang bercabang dua

Sebagian besar keputusan dalam sehari tidak perlu dipikirkan lama. Mau mengerjakan yang mana dulu, mau membalas pesan sekarang atau nanti, semuanya lewat begitu saja. Tetapi sesekali datang keputusan yang berbeda: taruhannya terasa besar, pilihannya sama-sama masuk akal, dan apa pun yang saya pilih, ada sesuatu yang harus dilepas.

Dulu, menghadapi keputusan seperti itu, saya punya dua kebiasaan buruk. Yang pertama menunda sampai keadaan memutuskan untuk saya. Yang kedua bertanya ke sebanyak mungkin orang, lalu makin bingung karena jawabannya berbeda-beda. Tulisan ini adalah catatan tentang cara yang sekarang saya pakai. Cara ini tidak menjamin keputusan saya benar. Ia hanya membuat saya bisa memutuskan dengan kepala yang lebih jernih, dan itu sudah banyak membantu.

Tuliskan apa yang sebenarnya sedang diputuskan

Kedengarannya sepele, tetapi sering kali saya bingung karena pertanyaannya sendiri masih kabur. Di kepala, sebuah keputusan bisa terasa seperti gumpalan besar: ada rasa cemas, ada harapan orang lain, ada bayangan tentang masa depan, semuanya bercampur. Selama masih berupa gumpalan, ia tidak bisa ditimbang.

Jadi langkah pertama saya adalah menuliskannya dalam satu kalimat tanya yang jelas. Bukan “saya harus bagaimana?”, tetapi “apakah saya mengambil pilihan ini, atau tetap dengan yang sekarang?” Sering kali, begitu ditulis, ternyata yang saya hadapi bukan satu keputusan, tetapi dua atau tiga keputusan kecil yang menempel jadi satu. Memisahkannya saja sudah membuat beban terasa lebih ringan.

Kadang pula saya menemukan pilihan ketiga yang sebelumnya tidak terlihat, karena saya terlalu sibuk bolak-balik di antara dua pilihan pertama.

Bisa dibatalkan atau tidak?

Pertanyaan berikutnya yang saya ajukan: kalau ternyata keliru, apakah keputusan ini bisa saya tarik kembali? Jawabannya menentukan seberapa banyak waktu dan tenaga yang pantas saya berikan.

Dua pintu: satu dengan panah dua arah, satu dengan panah satu arah
Keputusan yang bisa ditarik kembali tidak perlu ditimbang selama keputusan yang hanya bisa dilewati sekali.

Sebagian besar keputusan, ternyata, bisa dibatalkan atau setidaknya diperbaiki di tengah jalan. Untuk keputusan seperti ini, saya berusaha memutuskan cepat dan belajar dari hasilnya. Menimbang terlalu lama justru lebih mahal daripada sesekali salah pilih.

Sebagian kecil lainnya sulit atau tidak mungkin dibatalkan. Untuk yang ini saya sengaja melambat. Saya memberi diri waktu, mencari informasi yang benar-benar kurang, dan tidak memutuskan ketika sedang lelah, marah, atau terlalu gembira. Kesalahan saya dulu adalah memperlakukan semua keputusan dengan cara yang sama: yang kecil dipikirkan berhari-hari, yang besar malah diputuskan terburu-buru karena sudah capek berpikir.

Ada juga keputusan yang tampak tidak bisa dibatalkan, padahal sebenarnya bisa dicoba dulu dalam ukuran kecil. Sebelum melompat sepenuhnya, saya bertanya apakah ada cara untuk mencicipinya: mencoba sebentar, mengerjakan sebagian, atau berbicara dengan orang yang sudah menjalaninya. Percobaan kecil seperti itu sering memberi lebih banyak keterangan daripada berhari-hari menimbang di kepala.

Menamai apa yang saya takutkan

Keputusan sulit hampir selalu ditemani rasa takut. Masalahnya, rasa takut yang tidak diberi nama terasa jauh lebih besar daripada kenyataannya. Maka saya menuliskannya: kalau saya memilih ini dan semuanya berjalan buruk, apa tepatnya yang terjadi?

Lalu saya lanjutkan dengan tiga pertanyaan kecil:

  • Seberapa mungkin hal terburuk itu benar-benar terjadi?
  • Kalau terjadi, apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaikinya?
  • Apa akibatnya kalau saya tidak memutuskan apa-apa?

Pertanyaan ketiga paling sering saya lupakan. Tidak memilih terasa aman, padahal itu juga sebuah pilihan, lengkap dengan harganya sendiri. Hanya saja harganya dibayar pelan-pelan sehingga tidak terasa.

Setelah semuanya tertulis, rasa takut itu biasanya tidak hilang, tetapi ukurannya menjadi wajar. Ia berubah dari kabut menjadi daftar, dan daftar bisa dihadapi satu per satu.

Menimbang dengan yang penting, bukan dengan yang banyak

Saya dulu rajin membuat daftar untung dan rugi. Dua kolom, lalu dihitung mana yang lebih panjang. Lama-lama saya sadar cara itu menyesatkan, karena alasan tidak sama beratnya. Lima keuntungan kecil bisa kalah oleh satu kerugian yang menyentuh hal yang paling saya jaga.

Timbangan: satu bulatan besar lebih berat daripada lima bulatan kecil
Satu alasan yang menyentuh hal terpenting bisa lebih berat daripada banyak alasan kecil.

Sekarang, sebelum melihat pilihannya, saya menuliskan dulu dua atau tiga hal yang paling penting bagi saya dalam urusan ini. Misalnya ketenangan, kesempatan belajar, atau waktu untuk orang-orang terdekat. Baru setelah itu saya bertanya: pilihan mana yang paling menjaga hal-hal tersebut? Urutannya penting. Kalau saya melihat pilihannya dulu, saya cenderung mengarang alasan untuk pilihan yang diam-diam sudah saya sukai.

Ada satu uji sederhana yang juga saya pakai. Saya membayangkan sudah memutuskan salah satu pilihan, lalu menjalani sehari penuh seolah-olah itu sudah final. Besoknya saya lakukan hal yang sama untuk pilihan lain. Perasaan yang muncul, lega atau justru sesak, sering memberi tahu sesuatu yang tidak tertangkap oleh daftar mana pun. Perasaan itu bukan hakim, tetapi ia saksi yang layak didengar.

Meminta pendapat dengan cara yang berbeda

Saya masih bertanya kepada orang lain, tetapi caranya berubah. Dulu saya bertanya, “menurutmu saya harus pilih yang mana?” Jawaban atas pertanyaan itu lebih banyak bercerita tentang orang yang menjawab daripada tentang keadaan saya.

Sekarang saya memilih satu atau dua orang saja, dan pertanyaannya saya ganti: “apa yang menurutmu belum saya lihat?” Saya tidak meminta mereka memutuskan. Saya meminta mereka menunjukkan titik buta. Keputusan tetap saya ambil sendiri, karena saya juga yang akan menjalaninya.

Saya juga berhati-hati memilih kapan bertanya. Kalau saya bertanya terlalu awal, sebelum tahu apa yang penting bagi saya, pendapat orang lain mudah sekali mengisi kekosongan itu dan terasa seperti pendapat saya sendiri. Karena itu saya baru bertanya setelah menuliskan pertimbangan saya lebih dulu.

Memberi batas waktu

Tanpa batas waktu, menimbang bisa berlangsung selamanya. Selalu ada satu informasi lagi yang ingin dicari, satu orang lagi yang ingin ditanya. Pada titik tertentu, tambahan waktu tidak lagi membuat keputusan lebih baik. Ia hanya memperpanjang rasa cemas.

Garis kusut, jam pasir, lalu tanda centang
Berputar-putar boleh, asal ada batasnya. Setelah waktunya habis, putuskan.

Karena itu saya menentukan kapan saya akan memutuskan, dan menuliskan tanggalnya. Sebelum tanggal itu saya bebas ragu, berubah pikiran, dan bertanya. Ketika harinya tiba, saya memutuskan dengan informasi yang ada. Saya menerima bahwa informasinya tidak akan pernah lengkap. Kalau lengkap, itu bukan keputusan sulit.

Batas waktu itu saya sesuaikan dengan besarnya keputusan. Untuk hal kecil, cukup sampai sore ini. Untuk hal besar, bisa jauh lebih lama. Yang penting ada ujungnya, dan ujung itu saya tentukan sebelum mulai menimbang, bukan di tengah-tengah ketika saya sedang ingin menghindar.

Satu aturan tambahan: untuk keputusan besar, saya tidur dulu semalam setelah merasa yakin. Kalau paginya masih terasa benar, saya jalankan.

Setelah memutuskan

Bagian ini dulu paling saya abaikan. Setelah memutuskan, saya terus menengok ke pilihan yang tidak diambil dan membayangkan versi terbaiknya. Itu tidak adil, karena pilihan yang saya jalani tampil apa adanya, sedangkan pilihan yang ditinggalkan hanya hidup dalam bayangan yang serba indah.

Sekarang saya melakukan dua hal. Pertama, saya mencatat alasan saya secara singkat: apa yang saya ketahui saat itu, apa yang saya anggap penting, dan apa yang saya harapkan terjadi. Catatan ini berguna di kemudian hari. Kalau hasilnya buruk, saya bisa memeriksa apakah cara berpikir saya yang keliru atau hanya keadaannya yang tidak berpihak. Keduanya berbeda, dan hanya yang pertama perlu diperbaiki.

Kedua, saya berhenti menimbang ulang dan mengalihkan tenaga ke hal yang lebih berguna: membuat pilihan itu berhasil. Banyak keputusan menjadi baik atau buruk bukan pada saat diambil, tetapi dari apa yang dilakukan sesudahnya.

Penutup

Kalau diringkas, cara saya mengambil keputusan sulit adalah: perjelas pertanyaannya, lihat apakah bisa dibatalkan, namai rasa takutnya, timbang dengan hal yang penting, beri batas waktu, lalu jalani tanpa terus menoleh. Tidak satu pun dari langkah itu menjamin hasil yang baik. Saya tetap pernah salah, dan akan salah lagi.

Keputusan yang baik bukan yang pasti benar, tetapi yang bisa saya pertanggungjawabkan kepada diri sendiri.

Yang berubah adalah rasa sesudahnya. Ketika sebuah keputusan diambil dengan sadar, hasil yang buruk pun terasa lebih mudah diterima, karena saya tahu saya sudah menimbangnya sebaik yang saya bisa pada waktu itu.

Bagaimana dengan Anda? Adakah cara atau pertanyaan tertentu yang Anda pakai ketika harus memilih di antara dua hal yang sama beratnya? Ceritakan di kolom komentar. Saya ingin belajar dari cara Anda juga.

LF

Ditulis oleh

Lukman Fajar

Menulis tentang belajar, bekerja, dan berpikir. Tentang saya →

YouTube · Instagram


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *