Sibuk tidak sama dengan produktif

Timbangan dengan banyak kotak kecil di satu sisi dan satu lingkaran oranye yang lebih berat di sisi lain

Ada masa ketika jawaban saya untuk pertanyaan “apa kabar?” selalu sama: sibuk. Saya mengucapkannya dengan nada setengah mengeluh dan setengah bangga. Kalender penuh, pesan masuk tidak berhenti, dan setiap malam saya merasa sudah bekerja keras sepanjang hari.

Lalu pada suatu akhir pekan saya mencoba menuliskan apa saja yang sebenarnya sudah selesai selama seminggu itu. Daftarnya pendek sekali. Hal-hal yang saya anggap penting hampir tidak bergerak. Yang saya lakukan sepanjang minggu ternyata lebih banyak menanggapi, memindahkan, dan merapikan. Sejak itu saya mulai membedakan dua hal yang dulu saya anggap sama: sibuk dan produktif.

Bergerak belum tentu maju

Perbedaan paling sederhana yang saya temukan adalah ini: sibuk berarti banyak bergerak, produktif berarti berpindah tempat. Orang yang berlari di tempat mengeluarkan keringat sama banyaknya dengan orang yang berlari menuju suatu tujuan. Lelahnya sama. Yang berbeda adalah di mana mereka berada ketika selesai.

Di sebelah kiri panah yang berputar-putar dalam lingkaran, di sebelah kanan satu panah lurus menuju sebuah titik tujuan
Dua-duanya melelahkan. Hanya satu yang membuat saya berpindah tempat.

Kesibukan mengukur apa yang masuk: jam, tenaga, jumlah hal yang disentuh. Produktivitas, setidaknya menurut pengertian saya, mengukur apa yang keluar: sesuatu yang sebelumnya belum ada dan sekarang ada, atau sesuatu yang sebelumnya menggantung dan sekarang beres.

Saya pernah melewati satu hari penuh dengan memindahkan berkas ke tempat yang lebih rapi, menata ulang rencana, dan membalas semua pesan sampai tidak ada yang tersisa. Malamnya saya merasa lega. Besok paginya, pekerjaan yang sebenarnya menunggu saya masih berada persis di tempat yang sama, tidak berkurang satu baris pun.

Keduanya bisa terjadi bersamaan. Ada hari yang sibuk dan sekaligus menghasilkan banyak. Masalahnya muncul ketika saya memakai rasa sibuk sebagai bukti bahwa saya produktif. Rasa itu sangat meyakinkan, dan sangat sering keliru.

Kenapa sibuk terasa menyenangkan

Saya perlu jujur bahwa sibuk itu enak. Ada beberapa alasan yang saya kenali pada diri sendiri.

Pertama, kesibukan memberi imbalan yang cepat. Membalas satu pesan terasa seperti menyelesaikan sesuatu. Mencoret sepuluh hal kecil terasa lebih memuaskan daripada mengerjakan satu hal besar selama dua jam tanpa bisa mencoret apa pun.

Kedua, kesibukan terlihat. Orang lain bisa melihat saya cepat membalas, hadir di setiap pertemuan, dan selalu sedang mengerjakan sesuatu. Pekerjaan yang paling berarti justru sering tidak terlihat selama berhari-hari.

Ketiga, dan ini yang paling sulit saya akui, kesibukan adalah tempat bersembunyi yang nyaman. Selama saya sibuk, saya punya alasan yang terhormat untuk tidak menyentuh pekerjaan yang sulit, yang hasilnya belum pasti, dan yang mungkin memperlihatkan bahwa saya belum sebaik yang saya kira.

Tanda-tanda saya sedang sibuk saja

Lama-kelamaan saya mengenali beberapa tanda bahwa hari saya penuh tetapi kosong. Tidak semuanya muncul sekaligus, tetapi kalau dua atau tiga di antaranya ada, biasanya saya sedang berlari di tempat.

  • Saya sulit menyebut apa yang selesai. Ketika ditanya apa yang dikerjakan hari ini, jawaban saya berupa daftar kegiatan, bukan hasil.
  • Hari saya ditentukan oleh apa yang masuk. Saya mengerjakan apa pun yang datang paling akhir atau paling berisik, bukan yang sudah saya pilih.
  • Saya terus berpindah. Tidak ada satu pekerjaan pun yang saya tekuni cukup lama sampai terasa sulit.
  • Hal yang penting selalu bergeser ke besok. Pekerjaan yang sama muncul di rencana saya berhari-hari tanpa pernah disentuh.
  • Saya banyak menyiapkan dan sedikit mengerjakan. Merapikan, menyusun ulang, dan merencanakan lagi terasa seperti kemajuan, padahal belum ada yang dibuat.
  • Lelah saya tidak disertai rasa puas. Badan capek, tetapi ada rasa mengganjal bahwa hari itu lewat begitu saja.
Daftar dengan banyak baris kecil yang sudah dicentang dan satu baris besar berwarna oranye yang belum tersentuh
Banyak yang tercoret belum tentu berarti hal yang paling penting sudah tersentuh.

Tanda terakhir itu yang paling saya andalkan. Lelah setelah menghasilkan sesuatu terasa berbeda dari lelah setelah sekadar bertahan sepanjang hari. Yang pertama membuat saya tidur dengan tenang. Yang kedua membuat saya ingin membuka pekerjaan lagi malam itu juga untuk menebusnya.

Mengukur dari hasil, bukan dari jam

Perubahan paling besar datang ketika saya mengganti satuan ukurnya. Dulu saya menilai hari dari berapa lama saya bekerja dan seberapa penuh rasanya. Sekarang saya berusaha menilainya dari apa yang berubah karena saya bekerja.

Ini tidak selalu berarti sesuatu yang rampung. Pekerjaan besar tidak selesai dalam sehari. Tetapi selalu ada bentuk kemajuan yang bisa ditunjuk: satu bagian tertulis, satu keputusan diambil, satu masalah yang kemarin belum dipahami sekarang sudah jelas. Kalau saya tidak bisa menunjuk apa pun, saya menganggap itu sebagai keterangan, bukan sebagai kegagalan. Keterangan bahwa ada yang perlu diubah pada cara saya memakai hari.

Satuan baru ini juga mengubah cara saya merencanakan. Saya tidak lagi menulis “mengerjakan bagian ini selama dua jam”, tetapi “bagian ini sampai bisa dibaca orang lain”. Yang pertama bisa saya penuhi hanya dengan duduk. Yang kedua hanya bisa saya penuhi dengan menghasilkan sesuatu.

Mengganti ukuran juga membuat saya lebih tenang terhadap hari yang pendek. Ada hari ketika saya hanya bekerja beberapa jam, tetapi satu hal penting bergerak cukup jauh. Dulu hari seperti itu membuat saya merasa bersalah. Sekarang saya menganggapnya hari yang baik.

Satu pertanyaan di pagi hari, satu di sore hari

Supaya tidak hanya menjadi niat, saya memakai dua pertanyaan sederhana sebagai pagar.

Di pagi hari, sebelum membuka pesan apa pun, saya bertanya: kalau hari ini hanya satu hal yang bergerak maju, hal apa yang paling saya inginkan? Jawabannya saya tulis di tempat yang terlihat. Lalu saya berusaha memberikan bagian terbaik dari hari itu untuk hal tersebut, sebelum kesibukan yang lain sempat masuk.

Papan sasaran dengan satu anak panah oranye tepat di tengah dan beberapa titik kecil yang meleset di sekitarnya
Satu sasaran yang kena lebih berarti daripada banyak tembakan yang meleset.

Di sore hari saya bertanya: apa yang hari ini benar-benar bergerak? Saya menjawabnya dengan satu atau dua kalimat, tidak lebih. Catatan kecil itu saya kumpulkan. Dalam beberapa minggu, polanya terlihat sendiri. Saya bisa melihat hari-hari mana yang menghasilkan dan apa yang membedakannya dari hari-hari yang hanya ramai.

Dari catatan itu saya menemukan hal yang agak memalukan: hari yang paling menghasilkan hampir selalu terasa kurang sibuk. Lebih sedikit perpindahan, lebih sedikit tanggapan, lebih banyak waktu diam mengerjakan satu hal. Dari luar hari seperti itu tampak sepi. Dari dalam, justru di situlah pekerjaannya terjadi.

Kesibukan yang tidak bisa dihindari

Saya tidak ingin terdengar seolah-olah semua kesibukan itu buruk. Ada pekerjaan kecil yang memang harus dikerjakan. Pesan perlu dibalas, urusan perlu diurus, dan orang lain menunggu jawaban saya supaya pekerjaan mereka bisa berjalan. Mengabaikan semua itu atas nama produktivitas hanya memindahkan beban ke orang lain.

Yang saya ubah bukan ada atau tidaknya pekerjaan kecil itu, melainkan tempatnya. Saya mengumpulkannya dan mengerjakannya sekaligus pada waktu tertentu, biasanya setelah hal utama hari itu mendapat gilirannya. Dengan begitu pekerjaan kecil tetap beres, tetapi tidak lagi menentukan bentuk hari saya.

Saya juga berhenti memandang rendah hari yang isinya memang hanya urusan kecil. Sesekali hari seperti itu perlu, supaya yang menumpuk bisa dibersihkan. Bedanya, sekarang saya memilihnya dengan sadar dan menyebutnya dengan nama yang benar: hari membereskan, bukan hari yang menghasilkan.

Ada juga masa ketika hidup memang sedang padat dan tidak banyak yang bisa dipilih. Pada masa seperti itu saya menurunkan harapan. Kalau satu hal kecil yang penting masih bisa bergerak sedikit setiap hari, itu sudah saya anggap cukup.

Penutup

Sibuk dan produktif bisa terlihat persis sama dari luar, dan itulah yang membuat keduanya mudah tertukar. Bagi saya, pembedanya ada pada satu pertanyaan yang diajukan dengan jujur di penghujung hari: apa yang sekarang ada, yang tadi pagi belum ada? Kalau jawabannya jelas, hari itu produktif, sesepi apa pun rasanya. Kalau jawabannya kabur, hari itu hanya sibuk, sepenuh apa pun kalendernya.

Hari yang penuh belum tentu hari yang berisi.

Kalau Anda ingin mencobanya, tidak perlu mengubah apa pun dulu. Cukup tulis satu kalimat setiap sore selama seminggu tentang apa yang benar-benar bergerak hari itu. Biarkan catatan itu yang bercerita.

Menurut Anda, apa tanda paling jelas bahwa sebuah hari hanya sibuk dan bukan produktif? Bagikan pengalaman Anda di kolom komentar. Saya senang membacanya.

LF

Ditulis oleh

Lukman Fajar

Menulis tentang belajar, bekerja, dan berpikir. Tentang saya →

YouTube · Instagram


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *