Cara saya memulai pekerjaan yang terasa terlalu besar

Sosok kecil berdiri di kaki gunung besar dengan jalur berkelok menuju bendera di puncaknya

Ada jenis pekerjaan yang membuat saya ingin menutup layar sebelum sempat memulai. Bukan karena sulit pada satu bagian tertentu, tetapi karena ukurannya. Terlalu banyak bagian, terlalu banyak yang belum saya ketahui, dan garis akhirnya terlalu jauh untuk dilihat. Setiap kali membayangkannya, yang muncul hanya satu gumpalan besar tanpa pegangan.

Cukup lama tanggapan saya terhadap pekerjaan seperti itu selalu sama: menunggu sampai punya waktu luang yang panjang dan kepala yang jernih. Waktu seperti itu hampir tidak pernah datang. Tulisan ini berisi cara yang sekarang saya pakai untuk mulai juga, meskipun pekerjaannya masih terasa terlalu besar. Tidak ada yang canggih. Semuanya hanya cara untuk mengubah gumpalan itu menjadi sesuatu yang bisa dipegang.

Yang besar sering kali hanya yang belum jelas

Hal pertama yang saya pelajari: rasa “terlalu besar” jarang benar-benar soal ukuran. Lebih sering itu soal kabur. Saya tidak tahu persis apa saja yang harus dikerjakan, jadi kepala saya membayangkan semuanya sekaligus, lengkap dengan kemungkinan terburuknya.

Pekerjaan yang sama besarnya, tetapi sudah jelas bagian-bagiannya, tidak menakutkan dengan cara yang sama. Ia mungkin melelahkan, tetapi tidak melumpuhkan. Jadi sebelum berusaha menjadi lebih berani atau lebih disiplin, saya berusaha membuat pekerjaannya lebih jelas dulu. Hampir selalu itu sudah menyelesaikan separuh masalah.

Tuliskan seperti apa “selesai” itu

Langkah pertama saya bukan mengerjakan apa pun, melainkan menulis beberapa kalimat tentang hasil akhirnya. Kalau pekerjaan ini selesai, apa yang akan ada di tangan saya? Siapa yang akan memakainya? Apa tanda paling sederhana bahwa ia sudah cukup baik untuk diserahkan?

Kedengarannya sepele, tetapi berkali-kali saya mendapati bahwa saya sebenarnya belum tahu jawabannya. Saya ketakutan terhadap pekerjaan yang garis akhirnya pun belum saya tentukan. Pantas saja rasanya tidak berujung.

Gambaran selesai itu sengaja saya buat sederhana. Bukan versi terbaik yang bisa dibayangkan, tetapi versi yang layak. Versi yang lebih bagus boleh datang belakangan, setelah versi yang layak benar-benar ada.

Keluarkan semuanya dari kepala, lalu pecah

Setelah itu saya mengambil kertas dan menumpahkan semua yang terpikir tentang pekerjaan ini. Bagian yang harus dibuat, hal yang harus ditanyakan, bahan yang harus dicari, kekhawatiran yang mengganjal. Tidak berurutan dan tidak rapi. Tujuannya hanya memindahkan gumpalan itu dari kepala ke tempat yang bisa saya lihat.

Satu bongkahan besar berwarna hijau di sebelah kiri, lalu bongkahan yang sama terpecah menjadi potongan kecil dengan satu potongan oranye terpisah
Satu bongkahan besar tidak bisa diangkat. Potongan-potongan kecilnya bisa.

Baru setelah semuanya ada di kertas, saya mengelompokkan dan memecahnya. Ukuran yang saya pakai sederhana: sebuah potongan dianggap cukup kecil kalau saya bisa membayangkan menyelesaikannya dalam sekali duduk, dan saya tahu persis tindakan pertamanya. Kalau membaca sebuah potongan masih membuat saya bertanya “lalu saya harus apa?”, berarti potongan itu masih terlalu besar.

Beberapa tanda yang saya pakai untuk memeriksa hasil pecahan itu:

  • Diawali kata kerja. “Laporan” bukan potongan. “Menulis daftar isi laporan” adalah potongan.
  • Punya ujung yang terlihat. Saya bisa tahu dengan pasti kapan potongan itu selesai.
  • Tidak bergantung pada banyak hal lain. Kalau harus menunggu tiga hal sebelum bisa mulai, ia belum siap dikerjakan.
  • Tidak membuat saya enggan. Kalau melihatnya saja sudah malas, biasanya ia masih menyimpan bagian yang kabur.

Daftar ini tidak perlu lengkap. Saya cukup memecah bagian yang paling dekat dengan teliti. Bagian yang masih jauh saya biarkan kasar, karena bentuknya hampir pasti berubah begitu saya sampai di sana.

Mulai dari potongan yang paling mudah dipegang

Dulu saya merasa harus mulai dari awal, atau dari bagian yang paling penting. Dua-duanya sering kali adalah bagian yang paling sulit, dan itu membuat saya tidak mulai sama sekali. Sekarang saya mengizinkan diri memulai dari mana saja yang paling mudah dipegang.

Kadang itu bagian tengah. Kadang itu hal yang sangat membosankan, seperti menyiapkan berkas dan menamainya. Tidak apa-apa. Tujuan potongan pertama bukan menghasilkan sesuatu yang penting. Tujuannya mengubah keadaan saya dari orang yang sedang memikirkan pekerjaan ini menjadi orang yang sedang mengerjakannya. Perbedaan itu terasa jauh lebih besar daripada kelihatannya.

Saya juga membatasi lamanya sesi pertama. Cukup sebentar, dengan janji kepada diri sendiri bahwa setelah itu saya boleh berhenti. Janji itu saya tepati. Anehnya, karena tahu boleh berhenti, saya justru lebih sering ingin melanjutkan.

Begitu satu potongan selesai, potongan kedua terasa lebih ringan. Bukan karena pekerjaannya mengecil, tetapi karena saya sudah punya bukti kecil bahwa pekerjaan ini bisa disentuh.

Buat kerangka kasar dari ujung ke ujung

Kebiasaan yang paling banyak menolong saya adalah membuat versi kasar dari keseluruhan pekerjaan secepat mungkin. Bukan menyempurnakan bagian pertama lalu pindah ke bagian kedua, melainkan membuat semua bagian dalam bentuk yang paling sederhana dulu, dari awal sampai akhir, meskipun hasilnya jelek.

Dua lembar halaman: yang kiri berisi kotak-kotak kerangka bergaris putus, yang kanan berisi kerangka yang sama dan sebagian sudah terisi
Kerangka yang jelek tetapi utuh lebih berguna daripada satu bagian yang sempurna.

Kalau pekerjaannya menulis, kerangka itu berupa subjudul dan satu kalimat kasar di bawah masing-masing. Kalau membuat sesuatu, kerangka itu berupa versi yang nyaris tidak berfungsi tetapi sudah punya semua bagiannya. Isinya boleh berupa tanda kurung bertuliskan “nanti diisi”.

Kerangka kasar mengubah sifat pekerjaannya. Sebelum ada kerangka, saya sedang menciptakan sesuatu dari kekosongan, dan itu berat. Setelah ada kerangka, saya tinggal memperbaiki sesuatu yang sudah ada, dan itu jauh lebih ringan. Kerangka juga memperlihatkan lebih awal bagian mana yang ternyata paling sulit, selagi saya masih punya waktu untuk menghadapinya.

Pasang titik singgah, bukan hanya garis akhir

Pekerjaan besar punya masalah khas: imbalannya datang terlalu lama. Berhari-hari bekerja, dan garis akhirnya masih tampak sama jauhnya. Pada titik inilah saya dulu paling sering berhenti. Bukan di awal, tetapi di tengah.

Jalan berkelok dengan beberapa titik singgah, satu sosok kecil di tengah perjalanan, dan bendera di ujungnya
Titik singgah membuat jalan yang panjang terasa seperti beberapa jalan pendek.

Karena itu saya memasang beberapa titik singgah di sepanjang jalan. Setiap titik adalah keadaan yang bisa saya tunjukkan: kerangka sudah utuh, separuh bagian sudah terisi, versi pertama sudah bisa dibaca orang lain. Setiap kali sampai di satu titik, saya berhenti sebentar, melihat ke belakang, dan baru kemudian melihat ke depan.

Di titik singgah itu pula saya memeriksa arah. Pekerjaan besar hampir tidak pernah berjalan persis seperti rencana awalnya. Ada bagian yang ternyata tidak perlu, ada bagian baru yang muncul. Menyesuaikan rencana di titik singgah terasa wajar. Menyesuaikannya ketika sudah hampir sampai terasa seperti bencana.

Bagian tengah yang berantakan

Ada satu hal yang ingin saya ketahui lebih awal: hampir setiap pekerjaan besar punya bagian tengah yang berantakan. Semangat awal sudah habis, hasil akhir belum terlihat, dan yang ada di depan mata hanyalah sesuatu yang setengah jadi dan tampak lebih buruk daripada yang saya bayangkan.

Dulu saya menafsirkan keadaan itu sebagai tanda bahwa saya salah arah atau tidak mampu. Sekarang saya menganggapnya sebagai bagian dari perjalanan. Kalau sedang berada di sana, saya kembali ke daftar potongan, memilih satu yang paling kecil, dan mengerjakan itu saja. Saya tidak berusaha merasa yakin. Saya hanya berusaha menyelesaikan satu potongan lagi.

Satu hal lagi yang menolong pada masa itu adalah melihat ke belakang, bukan ke depan. Jarak yang tersisa selalu tampak menakutkan. Jarak yang sudah ditempuh, kalau saya mau menengoknya, biasanya lebih jauh daripada yang saya kira. Daftar potongan yang sudah dicoret menjadi pengingat bahwa pekerjaan ini memang bergerak, meskipun dari dalam rasanya diam di tempat.

Penutup

Kalau diringkas, cara saya memulai pekerjaan yang terasa terlalu besar adalah: tentukan seperti apa selesainya, tumpahkan dan pecah, mulai dari potongan termudah, buat kerangka kasar yang utuh, lalu berjalan dari satu titik singgah ke titik berikutnya. Tidak satu pun dari langkah itu membuat pekerjaannya lebih kecil. Yang berubah hanyalah apa yang saya lihat ketika menghadapinya.

Gunung tidak pernah didaki sekaligus, hanya selangkah yang ada di depan kaki.

Kalau saat ini ada pekerjaan besar yang terus Anda tunda, cobalah ambil selembar kertas dan tulis dua hal saja: seperti apa hasilnya kalau sudah selesai, dan satu potongan paling kecil yang bisa dikerjakan hari ini. Tidak perlu lebih dari itu untuk permulaan.

Pekerjaan besar apa yang sedang menunggu Anda mulai? Dan bagian mana yang paling membuat ragu? Tuliskan di kolom komentar. Siapa tahu, menuliskannya adalah potongan pertama Anda.

LF

Ditulis oleh

Lukman Fajar

Menulis tentang belajar, bekerja, dan berpikir. Tentang saya →

YouTube · Instagram


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *